sumber gambar Hari Kamis di penghujung bulan Agustus diselenggarakan pemutaran perdana film-film penerima danais (dana istimewa) 2017 di Dinas Kebudayaan Yogyakarta. Aku berangkat ke sana sehabis salat magrib di kantor. Ketika aku sampai pukul 18.40, aku sudah khawatir saja terlambat menghadiri sesi pertama. Untungnya acara belum dimulai, bahkan aula pun belum dibuka. Di depan ruangan berjejalan banyak orang, ada anak-anak SD, mahasiswa, pembuat film, orang-orang tua, dosen, dan mungkin para pegiat film lainnya. Aku datang sebagai penikmat film (gratisan nan antimainstream ) tentu saja. Danais kali ini disalurkan pada dua film dokumenter dan lima film fiksi. Tiga film diputar pada sesi pertama, yakni Incang-inceng, Pentas Terakhir, dan The Unseen Words , sementara sesi kedua memutar film Padhajayanya, Hoyen, Munggah Kaji , dan Dluwang . Akan tetapi, ulasan ini hanya akan membahas tiga film pada sesi pertama. Ulasan empat film lainnya akan kutayangkan di tulisan selanjutnya sup...