Skip to main content

Posts

Showing posts with the label keluarga

Dua Jam Bersama Ica

Penerbanganku ke Medan kali ini cukup lama. Mengapa begitu? Soalnya, pesawat yang kunaiki menunggu giliran lepas landas selama 20 menit. Waktu yang ada tentu kumanfaatkan untuk tidur secara tadi pagi aku sahur terlalu cepat dan semalam tidurku hanya dua jam. Ketika aku membuka mata dan mengedarkan pandang ke sekeliling, kutemukan gadis kecil sedang melonjak-lonjak di pangkuan ayahnya. Ia mengenakan onesies putih bermotif dan jaket ungu. Saat pandangan kami beradu, aku memberinya senyum dan ia pun membalas senyumku. Aih, senangnya hati. Belakangan kutahu nama anak itu Ica. ^^ Tak lama, pramugari datang menawarkan makanan. Ica, yang masih batita, tentu saja makan siang dengan disuapi ibunya. Oh iya, jadi tempat duduk ayah dan ibu Ica dipisahkan aisle pesawat. Cukup sulit untuk ibu Ica menyuapi si anak karena adanya jarak antarkursi. Tatkala disuapi pertama kali, Ica tahu-tahu melepehkan nasi. Dari ekspresi wajahnya, sih, aku tahu nasinya masih terlalu panas, hahaha. Terus, memang ...

Saya Ibu Rumah Tangga, Nak!

Setelah kemarin saya mendapatkan wejangan dari dosen untuk menuntaskan studi setinggi-tingginya sebelum memikirkan urusan jodoh, sekarang saya mendapat kesempatan berdialog dengan seorang dosen favorit saya. Beliau menawarkan pandangan yang berbeda. N: Bu, penerus bidang ini jika nanti profesor itu tidak ada, Ibu, kan? D: Nah, itu dia, Nak. Saya belum S-3. Sudah banyak juga yang mendorong saya lanjut kuliah, termasuk suami saya. N: Iya, lanjut aja, Bu. D: Akan tetapi, nanti siapa yang mengurus anak-anak? Dulu ketika saya mengerjakan penelitian dan begadang saja, si kecil tidak bisa tidur kalau saya belum tidur. Itu baru penelitian kecil, bagaimana disertasi? N: Iya juga sih, ya... D: Ketika suami saya lanjut S-3 dan anak-anak mau merecoki ayahnya, mereka bisa main sama saya, tetapi kalau nanti saya S-3, bagaimana mungkin ayahnya yang ngurus sementara dia juga sibuk? N: (diam seribu bahasa)

Nanti, setiap hari

Malam ini tidak bisa tidur. Padahal, hal yang menjadi buah pikiran sangatlah sederhana, hanya sebuah kejadian yang masih di angan. Jika tiap pagi sarapanmu kusiapkan, kau mau? Tidak hanya sesederhana ini, nanti. Tidak hanya sesekali, nanti. Setiap hari, di dapur yang sama, di meja yang sama ada kita berdua. Mungkin sesekali kita makan di luar, candle light dinner restoran atau menikmati angin sepoi-sepoi di bangku taman bersama dua kotak takeaway makanan. Mungkin juga nanti tak hanya berdua, tetapi bertiga atau bahkan berempat. Katanya, makan bersama itu elemen penting dalam sebuah keluarga. Kita tidak pernah lupa meluangkan waktu untuk itu. Kau dan aku paling anti lembur di kantor agar bisa makan bersama dan bertukar cerita atau berbagi keheningan. Tak jarang kita menikmati makanan di piring masing-masing sedang sunyi menyelimuti. Kau dan aku hanya perlu memastikan ada di sisi satu sama lain. Ada duduk di sana, dapat diperhatikan dengan kedua bola mata, dapat dirasakan hadirnya deng...

Dapur

Pagi tadi, tak seperti biasanya, aku nongkrong di dapur. Kulihat tante sedang memanaskan minyak dan membuat adonan. "Mau masak apa, Tan?" "Eh, Nadia. Ini, nih, mendoan." "Wiiih, caranya gimana?" Mengalirlah percakapan soal bumbu-bumbu. Heh, tumben sekali aku penasaran pada bumbu masakan. Boro-boro, dulu mah aku ke dapur cuma mencicipi makanan lalu ngacir ke ruang televisi. Kemudian, datanglah ayah yang tampaknya baru selesai mandi. Lalu disusul omku. Ayah membuat kopi, om sarapan, tante masih menggoreng, dan aku masih setia memperhatikan penggorengan yang kini berisi tempe. Kami berkumpul di dapur membicarakan makanan dan hal-hal lain. Tiba-tiba satu imajinasi berkelebat dalam pikirku. Mungkin nanti kita bisa begini. Aku dan kau di dapur, kau membuat teh atau kopi kesukaanmu, sedangkan aku menyiapkan empat tangkup roti isi. Dua kita lahap untuk sarapan dan dua lagi kita bawa ke tempat kerja. Sembari melakukan itu, kita bertukar senyum seperti b...

Pasangan favorit

Pagi ini mendengarkan lagu Kahitna . Kangen rumah, kangen Bunda dan Ayah. Kangen dengar lagu mereka di rumah. Kangen suara Ayah yang nyanyi ketika Minggu pagi. Kangen Bunda yang selalu menyimpan CD Kahitna di mobil dan selalu diputar. Kangen dengar kalian bilang, "Ini lagu Bunda sama Ayah." Dulu, aku sempat bingung kenapa kalian memilih lagu-lagu mereka untuk menyimbolkan cerita cinta kalian, sementara lagu mereka galau semua. Akan tetapi, terima kasih sudah mengenalkan lagu-lagu Kahitna sedari kecil. Mungkin itu juga yang membuatku begitu perasa hingga saat ini. Pengaruh buruk dong ya, Bun? Hahaha. Biar aku menepi bukan lelah menanti namun apalah artinya cinta pada bayangan Oh, pedih aku rasakan kenyataannya cinta tak harus selalu miliki Pengin pulang untuk melihat pasangan favoritku. Pasangan yang membuatku tenang dan yakin bahwa cinta sejati itu ada. Bahwa cinta bisa bertahan sampai tua. Bahwa apa pun perbedaan yang ada, selalu ada jalan tengah. Bahwa kee...

Surat untuk Si Tampan dan si Cantik

Halo, si Tampan dan si Cantiknya mama. Ini mama, menulis dari masa lalu. Hari ini mama menerima kiriman buku ABC for Baby Linguists . Mama mau mengenalkan linguistik pada kalian sedini mungkin karena mama mau berbagi dunia kecintaan mama. Jadi, siap-siap dengan alofon, bilabial, nasal, dan kawan-kawannya itu, ya! Mama, sih, berharap banget salah satu dari kalian mengikuti jejak mama menjadi seorang linguis kelak. Nanti kita bisa meneliti bareng-bareng seperti David Crystal dan anaknya, Ben Crystal. Aduh, pasti seru sekali bila di meja makan kita membahas gejala-gejala bahasa terbaru atau mendiskusikan kebingungan bahasa yang kalian temukan. Bisa juga tiap pekan kita belajar bahasa asing. Makanya sekarang mama lagi mendalami beberapa bahasa supaya nanti bisa mengajari kalian. Belajar bahasa itu bisa meningkatkan kemampuan otak kalian, lho! Bisa mencegah kepikunan juga! Ajaib, kan? ^^♡ Omong-omong belajar bahasa, mama berencana mengajarkan bahasa daerah sebagai bahasa pertama kalian...

Layang-layang

Hari ini aku melihat layang-layang. Mengangkasa seorang diri di langit biru. Seketika ingatanku tertuju pada suatu sore di bumi Sulawesi. "Nadia, Fira, main layangan, yuk!" "Ayo! Di mana, Ayah? Depan rumah?" "Di jalan baru aja. Lebih luas."  "Bunda ikut?" "Nggak, Bunda di rumah aja. Kalianlah yang pergi." Jalan baru yang Ayah maksudkan itu jalan Hertasning Baru, tembusan Hertasning sampai Sungguminasa. Tanahnya masih merah, tetapi tidak lagi berbatu. Kami main layang-layang di sana. Aku memegang layang-layang berekor biru dan Ayah mencoba untuk menerbangkannya. Aku juga mencoba menerbangkan layang-layang dengan Fira yang menjadi pemegangnya. Saat itu angin tidak begitu kencang jadi layang-layang kami terbang rendah. Aku, Ayah, dan Fira berteriak kegirangan ketika layang-layang kami meliuk-liuk tinggi di udara. Tak lama, ada seekor lelayang yang menghampiri layang-layang milik kami. Cieee, si layang-layang punya pacar! Dua lay...

WM or FTM?

Menjadi ibu pekerja atau ibu rumah tangga? Working mom or full time mother? Baru saja saya membaca artikel yang berseliweran di Facebook. Salah satu artikel berasal dari situs agama dengan judul yang agak menyudutkan ibu pekerja. Artikelnya cukup panas, terlebih lagi komentar pembacanya. Ada yang membawa-bawa dalil agama, ada yang membawa-bawa realita hidup, ada pula yang membawa-bawa gengsi akademis. Hm, apakah aku terlalu dini mengamati perdebatan WM-FTM yang tiada akhir ini? Menurutku, sih, tidak apalagi aku sudah memproyeksikan diriku sebagai WM di masa depan. Justru dengan mengamati perkembangan isu ini, aku bisa mendapatkan pertimbangan sana-sini. Berdasarkan hasil pembacaanku terhadap beberapa blog pribadi yang membahas FTM dan WM, keputusan tersebut terletak di tangan sang ibu. Hidup kita selalu dikelilingi oleh pilihan-pilihan, salah satunya adalah pilihan untuk berkarir atau tidak. FTM dan WM sama-sama bisa mengurus dan anak suami dengan cara yang berbeda. Jangan sudutk...

Adikku masuk SMA

Hari ini adikku menghubungiku. Katanya, ia sedang berada di sekolah barunya dan menikmati waktu bebas selama 42 menit. Ia merasa bosan maka dari itu ia mengontakku. "Okaaay, so what are you doing right now?" "Nothing to do other than chatting with you." Hahah, she needs me. Aku lalu berpikir, sudahkah aku menjadi kakak yang baik untuknya? Kakak yang dapat diandalkannya, kakak yang dapat diteladaninya, dan kakak yang dapat dijadikannya kawan cerita? Jangan jauh-jauh mengkhayalkan profesi sebagai ibu, cobalah jadi sosok saudara-saudari yang baik dulu. I miss my little sister. Yep. Semangat kamuuuu! Jangan lupa menambah kawan baru di SMA, okay? Kapan lagi, kan, kamu punya teman orang asing? ^^ Salam, Nadia Almira Sagitta

Liburan Medan 2015

Liburanku ke Medan sungguh singkat sekali. Tak terasa besok daku harus kembali ke tanah rantau. Kembali menghadapi kewajiban yang belum tuntas. Dalam liburan dua belas hari ini, aku tak mengunjungi banyak tempat seperti tahun lalu. Aku bahkan tak ke Galeri Rahmat--museum margasatwa yang rutin kukunjungi tiap ke sini. Hal yang berbeda dari liburan tahun-tahun lalu adalah fokusku. Bila kemarin fokusku ke tempat wisata, kali ini aku berfokus kepada pengenalan keluarga. Bukan, bukan dua keluarga. Perjalanan ke sana masih jauuuuuh. :v   Aku mulai mengenal hubungan kerabat uwo, nenek, om, dan tante yang kukunjungi. Setidaknya, aku tahu ada keluargaku di Jabodetabek dan sekitaran Sumatera. Setidaknya, aku tahu rumah gadang keluarga nenekku dahulu benar-benar gadang. Setidaknya, aku tahu penggunaan panggilan mak tuo, pak tuo, om, dan tante. Setidaknya, aku tahu sistem kekerabatan orang Minang benar-benar erat, dimulai dari satu kampung, satu rumah gadang, satu mamak, dan lain-lain. Se...

Silaturahmi

(silaturahmi kala lebaran) N: Psst, Ante Cam, mak tuo ini siapa? C: Saudari nenek, entah dari mana. Dia ini mamak yang dituakan. Dulu, ada mak tuo laki-laki, tetapi sudah meninggal. N: Oh... N: Om, ini rumah siapa lagi yang didatangi? R: Ini keluarganya nenek lagi. Om lupa silsilahnya, tetapi mereka satu kampung dan satu rumah gadang. N: Rumah gadang itu besar, ya, Om? R: Besar, lah. Rumah gadang nenek dulu ada sembilan ruangan. N: Kamar, maksudnya? R: Ruangan. Ada dapurnya masing-masing. N: (Wah, gila. Besar banget, dong?) O: Dulu om tinggal di Imam Bonjol sebelum kuliah. N: Oh, ya? Om saudaranya nenek juga? O: Jadi, bapak om itu keluarga sama uwo. Sekampung juga kami. N: Sama ayahku berarti sepupu, lah, ya? N: Om Ndi, kalau yang di Jabodetabek itu keluarga dari mana? R: Itu...orangtuanya satu bapak sama nenek. N: Oooooh, jauh, ya. Gils. Lebaran ke Medan selalu menjadi lebaran terheboh yang kualami. Banyaaaaaak sekali keluarga. Ini masih yang di Medan, belum ya...

Main terkam

Alah, ampon. Habis main terkam sama dua sepupuku tadi. Cemacem kali lagaknya. Stres awak. Berantem sama yang kecil, eh si kecil memprovokasi abangnya untuk melawan aku. Dua lawan satu, ya jelas kewalahan walaupun mereka berdua masih krucil. A: Apa pula baju ungu. Perempuan. Tengoklah, Bang. R: Iya, perempuan. Mana sanggup lawan kita. What the heck? Emang, sih, mestinya aku ngalah karena udah besar. Namun, gangguannya kali ini benar-benar menyulut emosi. Mana doi mukul-mukul aku nggak jelas gitu. Berantem, lah, kami. Satu berhasil kubuat nangis. Yes! :v Duh, anak laki-laki senakal itu, ya. Susah banget diatur. Fix bangetlah mau punya anak perempuan aja. Kalau pun ada anak laki-laki, biar ayahnya aja yang urus. Hahaha. Canda, sih. :v Huhuh, habis tenagaku. Ngos-ngosan. Mayan, lah, pengganti olahraga. Selamat menikmati hari libur, kawan-kawan. Cheers, Nadia Almira Sagitta

Percakapan Ponakan dan Om Tante

A: Ante, ke dokterlah. Supaya tahu sakitnya. Kasihan batuk dan menggigil terus. T: Indaklah. Ante ndak suka minum obat. A: Loh, siapa yang suruh minum obat. Ke dokter saja. R: Ha, lepas tu? Buat apa kita ke dokter, kak? A: Ya cek ajalah. Nanti kalau dikasih resep, tak usah beli kalau tak mau diminum. R: Entah apa-apa kakak ini. Haha, cengkunek. O: Ntah berkelit ke berapa hari ini. Tak mau kalah dia. A: Wah, mestilah, Om. Anak sastra mesti jago berkelit. R: Aduuuh, gimanalah suami kakak nanti itu. Ribut, lah. A: Mana pulak. Indak, lah. R: Kalau dapat yang heboh juga, wah saling berkelit nanti. Jangan sama anak sastra lagi, kak. O: Sama anak ekonomi saja, Nadia. A: Kenapa coba? O: Supaya nanti dia bisa menghitung, "Nah, sudah berkelit berapa kali istriku malam ini?" Kerjaan anak ekonomi, kan, menghitung-hitung saja, Nadia. A: Hahahahha. Alaaaah, si Om!  Medan, dalam mobil Karimun

Si Ncha

Gadis mungil itu berlari-lari kecil kecil menuju ruang tamu rumah nenek. Namanya Annisa. Ia mengenakan baju terusan bergambar Frozen yang lucu. "Nisa, haloooo." sapaku dengan suara anak kecil yang dibuat-buat. "Ng..." ia hanya menatapku sebentar lalu pergi ke pelukan mamanya, Tante Titi. Ia gadis pemalu rupanya. Aku suka sekali melihat anak-anak Tante Ti. Ayla dan Annisa. Keduanya perempuan kecil yang menggemaskan. Aku suka berdekat-dekat dengan gadis imut yang kalem. Dua sepupuku yang lain, Rafa dan Arqan, super-duper aktif nan rewel. Aku sampai lelah dibuatnya. Hahhaa. Annisa duduk di sebelahku sepanjang perjalanan menuju rumah Uwo Kai. Di rumah Uwo, ia juga memilih tempat di sampingku. Keluarga Uwo Kai memelihara kucing ras, ia bersama-sama sepupuku yang lain bergantian mengelus si kucing. Lepas ia bermain kucing, ia menekurkan kepalanya di perutku. Manja. Hahahahaha, gemas! Saat pulang, ia merengek minta duduk di sampingku. "Icha mau duduk sama kak Nad...

Usia Wajar

"Nadia sudah punya pacar?" tanya nenekku suatu hari. "Hah? Belum. Nadia nggak pacaran, Nek." "Bolehlah kenal-kenalan dari sekarang. Macam mana kalau langsung nikah, kan?" "Hehehe..." aku tertawa saja, bingung menjelaskan konsep taaruf padanya. "Asal agamanya bagus dan dia perhatian. Penting itu." "Iya, Nek." "Kalau yang disuka ada?" "Ya ada, Nek. Tapi, ya, teman biasa." "Iya, tidak apa. Asal sama-sama suka." Haha. Sama-sama suka? Entahlah kalau urusan satu itu. "Masih lama, Nek. Seperti ini aja dulu. Lagian Nadia mesti S-2 dulu, kan." Tetiba nenekku bercerita perihal upaya omku mendekati tanteku. Omku rupanya gigih sekali mengejar tanteku dengan berkunjung ke rumah. "Ommu itu dulu serius benar sama tantemu," katanya. Wkwkw, semua juga mau diberi keseriusan, batinku. Masih umur 20 sudah ditanya hal-hal seperti ini. Belum lebaran pula. Bagaimana nanti pas hari raya y...

Kayak Ada Tengok

Sore ini Rafa berbincang denganku, "Kak, untuk apa pula becermin terus? Cem ada aja yang tengok kakak ini." "Woooo, enak aja! Ya ada, dong!" "Namanya siapa, kak?" "Ada, deh." "Siapa, kak?" "Rahasia!" "Ah, kakak. Di Jakarta tidak ada yang handsome , lah. Di Medan baru banyak." "Ah, siapa bilang? Sok tahu kali Abang ini." "Memang, kak! Oh iya, nanti kalau kakak nikah cari yang kaya, lah." "Kenapa?" "Supaya kakak nggak usah kerja lagi." Cerdas juga nih anak. Hahahahah. "Nanti nikah di mana, kak?" Arqan bertanya. "Tak tahulah." "Kakak nikah sama orang Jogja, kan, kak? Di Jogja, kan, kak?" Rafa menimpali. "Wakakak tak tahu, lah. Lihat nanti."   Ada-ada saja dua sepupuku ini. Masih kecil obrolannya pernikahan. Fufufu.  Cheers, Nadia Almira Sagitta

Siapa pasangan SAYA?

"Kak, baca apa?" "Ini baca buku." "Di situ aja bacanya. Belum siap, kak?" "Belumlah. Pelan-pelan aja bacanya." "Kalau papa, sekejap aja selesai satu ini (halaman). Empat detik aja udah siap." "Gitu? Wah, jago kali papamu, ya." "Iya. Kak, ini bacanya apa?" "Aku bertahan bertahun-tahun." "Aku, kak? Tak bolehlah bilang aku." "Jadi apa, dong?" "Saya. Cari yang lain, lah, kak." "Cem mana, lah. Buku kakak, kan, cuma satu." "Maksud adek yang ini, lah." kata dia sambil membalik halamanku. "Nah, yang ini bacanya apa?" tunjuknya kemudian. "Ada kaunya, tuh. Boleh tak kita bilang kau?" "Tak boleh, kak." "Kalau kamu?" "Sama aja. Tak patut." "Jadi bagaimana? Aku, kan, pasangannya kau atau kamu. Gue pasangannya elo. Kalau saya pasangannya siapa?" "Mmm...cinta!" "Wahahha, tahu dar...

Sendirian Lagi

Di pesawat tadi, aku duduk tepat di samping jendela. 44K. Dua orang di sampingku adalah sepasang suami istri plus balita di pangkuan sang ibu. Apa yang kau rasakan bila kau menjadi aku? Baper? Iye. Bukan sepenuhnya baper nikah, lho, ya, (Oke, aku ngaku baper karena hal ini juga) melainkan kangen keluargaku. Dua tahun lalu. Itu kali terakhir aku naik pesawat bareng keluarga. Ada Fira dan Bunda yang mengisi posisi dua kursi di sampingku, sementara Ayah duduk di kursi sebelah. Ini penerbangan sendirian kesekian kaliku. Saat pesawat masih menunggu giliran untuk lepas landas, tak kupungkiri aku mengucurkan air mata begitu deras. Tangis yang sama saat magku kambuh di atas pesawat pulangku dari New York. Kala itu aku sendirian dan tak ada yang bisa kumintai pertolongan. Kini, aku pun sendirian dan duduk di samping sejoli yang berbahagia dengan jantung hati mereka. Ya Allah... sudah cukuplah Kau terbitkan rasa rinduku. Lagu yang diputar di pesawat juga fiks bikin baper. "Serahkanlah hidu...

Sakit

Lagi nggak puasa, lemas, dan gemetaran. Baru bangun tidur dan kepala masih migren sejak siang. Aku makan satu butir Mylanta karena asam lambung juga naik. Baru makan beberapa suap, migrennya tambah parah bahkan lambung bersikeras ingin mengeluarkan makanan yang baru ditelan. Ya ampun, aku cuma terlambat makan siang... Bunda, Nad mual banget. Bingung. Nggak pengin makan, tetapi lapar, Bunda. Ah, jadi ingat perkataannya Bunda dulu, "Makan." "Nggak mau. Mual banget, mau muntah." "Makan dulu, kamu belum makan daritadi." "Iya, tapi eneg..." "Ya gimana, perut mesti diisi. Kamu harus sugesti untuk nggak muntah. Gimana mau sehat kalau kamu sugesti sakit terus?" Iya, Bunda. Ini Nad juga lagi sugestiin diri sendiri supaya bisa nahan rasa mual. Sambil nangis. Nad cengeng banget, ya? Ah, habisnya bingung mesti manja ke siapa kalau sendirian... Fir , kakak kangen banget kamu suapin pas kakak lagi sakit. Terus kamu main boneka untuk meng...

Rindu Yang Begitu Rindu

Ma, Nanad pengin pulang. Nad nggak suka sakit sendirian... Kosan sepiii banget. Ramadan ini Nad nyaris selalu telat bangun sahur. Ya itu tadi, mungkin karena sepi. Nad lebih milih puasa enam belas jam bareng kalian daripada puasa tiga belas jam sendirian. Kangen, kangen masakan Mama. Kangen tarawih di rumah bareng Ayah (kita nggak bisa ke masjid karena terlalu jauh dan selesainya lama sekali) Maaf ya, Nad nangis. Habisnya Nanad bingung mau ngapain. Terbelenggu rindu yang begitu rindu. Sudah dua tahun lebih kita nggak serumah. Waktu di asrama SMA dulu Nad juga dua tahun sendirian. Bedanya, tiap liburan panjang pasti Nad pulang. Sewaktu berkuliah, satu tahun Nad ngekos sendirian. Bedanya, minimal dua minggu sekali Nad pulang. Pulang . Sekarang, Nad mesti pulang ke mana, Ma? Bohong, ih, kalau rindu sirna ketika pulang ke keluarga besar di Medan atau Jogja. Senang iya, tetapi rindu masih ada. Terkadang, setahun sekali atau dua kali Ayah ke sini karena tuntutan kerja. Biasanya Ayah...