Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Cerpen

Meja Rias

sumber gambar Ia menekurkan kepala di meja rias. Menatap botol-botol dan tube kecantikan di depan kaca. Terdengar dengkur lemah suaminya, sedang pikirannya tertuju pada percakapan empat hari lalu. Sepupu terkecilnya tiba-tiba bertanya, "Mbak, Mbak kapan punya dedek?" "Eh, hehe, iya belum, sayang." "Punya dong, Mbak, biar Gina punya teman main." Ah, anak kecil. Pertanyaan polosnya tak sengaja menyilet hati rapuhnya. "Kalian nggak program aja?" timbrung ibunya Gina. "Nggak, nih, Tante. Hehe. Siklusku juga masih kacau." "Sudah cek ke dokter kandungan? Tante ada rekomendasi, nih." "Boleh, Tan. Aku catat, ya." Jemari lentiknya mencatat nama dokter beserta tempat praktik, meskipun ia tahu informasi tersebut hanya akan teronggok di meja. Bukan. Bukannya ia tak ada usaha. Diagnosis PCOS yang ia terima beberapa bulan lalu juga telah ia konsultasikan kepada ginekolog dekat rumah agar mendapatkan penanganan. Tetapi...

Kursi Keempat belas

sumber gambar Aku berjalan di lorong pesawat, mencari-cari kursi bernomor empat belas A. Pesawat malam itu cukup lengang penumpang karena rutenya berlawanan dari arus mudik kepulangan. Komputer jinjing di tangan kuletakkan di kompartemen, sementara ranselku kubawa serta ke kursi. Masih sepi, dua kursi sampingku belum ada yang menempati. Keadaan di seberang sama saja, hanya ada seseorang di kursi terujung. Seorang pria berkulit sawo matang dan berkacamata. Tingginya entah, aku tak dapat mengira-ngira. Ia duduk anteng mengamati jendela sembari sesekali menyapukan pandangan ke lorong. Pramugari yang mondar-mandir tak menghalangi kami untuk bertemu muka dan bertukar pandang. Pandangan sekilas saja sebagaimana dua orang asing yang tak pernah berjumpa sebelumnya. Setengah jam penerbangan, aku mulai bosan mengamati jendela. Yang terhampar di bawah hanyalah perairan, bukan lagi lampu-lampu perumahan. Hm, si Mas berkacamata sedang apa? Sedari lepas landas tadi dia juga men...

Er dan El: Kisah Cinta di Asrama IPA

Pe punya Be De punya Te Fe punya Ve "Aku punya siapa?" batin Er. Me bermain bersama Ne, Nge, dan Nye. We berkarib dengan Ye. "Aku bersama siapa?" keluh El. Pada suatu pagi, Er yang muram berpapasan dengan El. "Hei, kau anak baru?" "Ha? Ya, aku baru saja pindah ke kamar tril." "Oh, selamat datang di asrama IPA. Aku El, tingkat dua. Kau siapa?" "Aku Er, tingkat satu." "Wah, nama kita mirip! Omong-omong, kenapa kau sedih?" "Aku tak ada teman mengobrol di ruang tril. Mana sepi sekali. Aku sering ketakutan." "Aku juga sendirian di ruang lateral. Hei, bagaimana kalau kita berteman? Ruanganku hanya berbeda beberapa blok dari ruanganmu. Aku bisa sering kemari kalau kau mau." Singkat cerita, Er dan El menjadi sahabat dekat. Ke mana-mana berdua sampai sering disalahterkakan oleh teman seasrama. Tidak ada lagi Er yang muram atau El yang mengeluh, hanya ada sepasang insan ...

Jangan Ada Koma

"Aku ingin bicara," ujar S pada P yang sedang tergelak karena lelucon Koma. Sudah beberapa bulan ini S menahan emosi acapkali Koma bertandang ke rumah. Ketenangannya terusik, amarahnya melejit. Cemburunya? Oh, jangan ditanya. Meluap-luap tentunya. "Berdua saja," tegasnya. "Ada apa?" tanya P tak sabar setelah menutup pintu kamar. "Menurutmu?" delik S tajam dan menuding ia yang terduduk di ruang tamu. "Koma? Dia hanya rekan kerja." "Oh? Dan perlukah tertawa-tiwi seperti tadi? Kalau kau menghargai perasaanku, jangan bawa-bawa Koma di antara kita!" desis S pada P. "Kau mau rumah tangga kita tercerai-berai hanya karena dia?" "Kalau memang inginmu begitu, putuskan saja segera. Aku ogah terus hidup seatap dalam ketakutuhan cinta. Sudah empat bulan seperti ini, P." -- Talak satu dijatuhkan. Berikut talak kedua dan ketiga. S mengemasi barang miliknya yang tersisa. Rumah sepi, P masih di kantor. S termenung ...

Tuan X dan Nona Y

Aku memimpikan sepasang sahabat malam ini. Si lelaki bertubuh tegap, tinggi, dan kurus, sementara wanitanya semampai, langsing, dan anggun.   Keduanya sudah bersahabat selama lima tahun. Mereka cukup mengenal satu sama lain. Ada banyak hal yang sudah menjadi pengetahuan bersama bagi mereka berdua. Contohnya, Tuan X penganut jam karet serta pelupa. Sikapnya itu terkadang membuatnya ingkar janji dan membuat Nona Y yang perfeksionis dan tepat waktu gemas sekali. Akan tetapi, kekurangan Tuan X tertutupi oleh sikapnya yang selalu dapat membuat Nona Y tertawa. Diam-diam, Nona Y jatuh cinta.    "Tidak. Kau tidak dapat menyukai sahabatmu sendiri!" "Apa boleh buat, dia pria idaman setiap wanita. Well, di luar sikapnya yang tukang telat itu, ya. Dia pantas dikoleksi sebagai kawan sepanjang masa." Suara hati Nona Y ricuh sekali. Ia sibuk menepis kenyataan bahwa ia jatuh hati.   Suatu ketika, Tuan X berjanji pada Nona Y untuk mentraktirnya makan siang sebagai perayaan ...

Kembang sepanjang jalan

Aku tak tahan. Napasku memburu ketika aku melewati universitasmu malam itu. Dani, kawan seperjalananku, keheranan mendapati perubahan sikapku. "Bian, kamu kenapa?" "..." And you flashback to when he said forever and always "Dan, saya nangis nggak apa-apa, ya?" "Iya, tetapi ada apa?" "Saya...saya mau bertemu dia, Dan. Sekali saja. Kenapa nggak pernah bisa? Sudah lama sekali." It rains when you're here and it rains when you're gone Dani mengembuskan napas saat mendengar jawabanku lalu berkata, "Yah, mau sampai kapan, Bi? Kamu nggak melihat segala kemungkinan yang terbentang di hadapanmu. Kamu..nggak melihatku karena terpaku pada masa lalu." Terkesiap, aku menatap Dani. Sohib yang selalu setia menemaniku ke mana-mana. Kala aku sakit, butuh teman perjalanan, partner belajar, tempat cerita, apa pun itu. Dia selalu ada 24 jam sehari, tujuh hari seminggu. Sementara dirinya? 'Cause one second...

Tersipu

Dia duduk di sampingku! Bayangkan, di sampingku! Kucoba redakan debaran jantung yang tak menentu. Dia bahkan mengajakku berbicara! Kau pasti tahu bagaimana gugupnya aku saat itu. Sebenarnya, ia hanya bertanya masalah tugas. Sederhana, toh kami tak boleh berbasa-basi. Ada sesuatu yang mendorongku untuk menanyakan hal yang sama, tentang PR kami. Ia menjawab singkat. Aku menimpalinya dengan sangat konyol, “Oh, kau bisa menyanyi?” “Ya, begitulah.” Hening. Aku menyesali pertanyaan yang kulontarkan. Ia kembali konsentrasi dengan tugasnya dan aku mencoba serius menekuni bacaan yang ada di hadapanku. Kutengok sedikit wajahnya lalu buru-buru kutundukkan pandanganku. Tanpa sadar kuulaskan senyum tipis, sedikit tersipu dan malu. Sumber gambar Pernahkah kamu merasa seperti ini? ;) Duduk di samping seseorang yang kamu sukai. Rasanya menyenangkan, bukan? ^^ Bagaimana jika yang duduk di sampingmu itu ... seseorang yang kini sah menjadi mahrammu? ;) Sungguh, rasanya tak b...

Pertanyaan dan Pernyataan

Bagaimana rasanya ditinggal seseorang yang kau cintai? *** Maukah melepas kebahagiaan demi orang yang kau cinta? *** "Baru saja kutemukan tulang rusuk itu, Din." Aku tetap serius dengan netbook di hadapanku. "Din, kau tahu tidak aku bertemu dengannya di mana?" Masih berkutat dengan posisi yang sama. Tetap bergeming. "Ternyata ia adalah tetangga yang berjarak tiga blok dari rumahku!" "SubhanAllah, kan? Namanya jodoh ya, siapa yang tahu." "Din, kamu dengar nggak, sih? Din!" "...Apa?" jawabku parau. "Kamu dengar tidak apa yang kubilang barusan?" "Dengar, kok, dengar..." jawabku terbata. Kembali kupalingkan wajah pada netbook yang masih menampilkan layar yang sama. Google. "Ya sudah, aku cuma mau menitipkan ini. Datang, ya." Ia mengangsurkan selembar kertas karton yang tersampul cantik. "Aku tunggu kedatanganmu loh, Din." Ia menutup pintu...

Bunda Untuk Nayla

Oleh: Nadia Almira Sagitta “Bunda, Nayla mau nyanyi. Dengerin yah,” pintanya, menarik-narik bajuku. “Enggak, aku lagi sibuk!” “Sekali aja, bunda please…” ia memohon. “Dibilangin lagi sibuk. Udah Nayla main ke sana aja!” sergahku. “Yah, bunda. Padahal lagunya bagus.” Ia tertunduk kecewa kemudian kembali ke kamarnya. Kalian pasti mengira aku kejam, bukan? Aku memang membenci bocah kecil itu sedari dulu, bahkan aku menolak mentah-mentah kehadirannya di hidupku. Iya, dia. Nayla. Darah dagingku sendiri. * * * “Nayla, pulang sama siapa?” berikut pertanyaan Ibu Risma, guru TK Nayla. “Pulang sendiri, bu guru.” “Nggak dijemput bunda, ya?” “Enggak, bunda bilang, Nayla pulang sendiri saja. Bunda sibuk, katanya.” Jawab Nayla polos. “Oh begitu.” Ibu Risma manggut-manggut sembari berpikir, sesibuk apa ibu Nayla hingga tak sempat menjemput anaknya sendiri. Dan Nayla berjalan seorang diri, menempuh perjalanan sekitar 1 km untuk sampai di rumahnya. * * * “NAYLA! Kamu ‘kan yang menggambar di buku ini?” ...

Cintaku Kepada Pelayan Kafe

Oleh: Nadia Almira Sagitta Kulangkahkan kakiku menuju satu coffee shop terdekat dari kampus. Sore itu, keadaan sangat lengang. Yah, baguslah, dengan demikian aku bisa duduk tenang menikmati coffee latte pesananku. Kuangkat cangkir kopi yang masih panas, persis di depan hidungku, mencium aromanya sebentar, lalu menghirupnya pelan. Nikmat sekali, paduan kehangatan kopi dengan dinginnya hawa di luar sana. Sambil meminum kopi, aku membolak-balik majalah Kawanku terbaru yang kubawa sedari tadi. Bosan membaca, pandangan kusapukan ke tiap sudut kedai kopi ini. Tiba-tiba, pandanganku terhenti pada satu titik. Seseorang. Lelaki. Membawa notes kecil di tangannya. Dengan apron berwarna coklat susu. Sebenarnya biasa saja, ia hanya seorang pelayan di coffee shop ini. Entah apa yang membuatku tertarik padanya. Mungkin karena aku tak pernah melihatnya di sekitar sini. Sepertinya ia pekerja baru. Pandanganku tak lepas daripadanya, kutopang daguku di atas tangan, melihatnya dengan leluasa. Namun, s...

Cerita Pendek (Benar-benar pendek)

Oleh: Nadia Almira Sagitta Malam itu, aku diteleponnya. Tumben. “Halo? Eh, besok mau nggak jalan-jalan?” tawarnya. “Jalan-jalan? Mau, mau, mau! Kok tumben?” “Lah, kan janji saya yang waktu itu.” Katanya mengingatkan. “Hah? Janji? Oh, yang itu? Astaga, masih kau ingatnya…” “Ya sudah, besok ya? Jam sepuluh saya sudah ke rumahmu.” “Iya, iya, makasih!” ucapku tertahan, perasaan bahagia ini sudah ingin saja membuncah sedari tadi. Tak dapat lagi kutahan-tahan. Aku mendapati diriku, tersenyum-senyum sendirian. Esok paginya, aku bangun lebih cepat dari biasanya. Hari itu Minggu, jadi wajar saja kalau aku bermalas-malasan di kamar. Tapi tidak untuk hari ini. Hari ini kan aku mau jalan-jalan. Aku sudah selesai mandi, sudah rapi. Aku menunggunya sudah seperempat jam yang lalu. Dia di mana ya? Aku mencoba menghubunginya dengan mengiriminya pesan. Dan ia membalas, “Maaf, masih di jalan. Mungkin 20 menit lagi sampai. Maaf terlambat.” Dan aku tetap duduk menunggunya datang, berkunjung ke rumahku. Sa...