Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Cinta

I Found Love

sumber gambar "When the sparks flew between us I saw you glow and had to know Where our journey would lead us Til' the story end and back again." (Owl City) Jarak dari rumah ke kantorku begitu jauh. Kalau saja arah kantor kita searah, mungkin aku akan lebih ringan berangkat pagi. Kau ada di halte Transjakarta yang kusinggahi tiap pagi dan mengantre di baris yang sama. Kita berdiri di bagian belakang sebab kau tidak bisa berada di depan sementara aku tak mau pula meninggalkanmu. Setiap pagi, bisa kau bayangkan? Warna langit pagi berganti merah jambu dalam mataku. Pengandaian kedua, kantor kita berdua tidak searah. Namun, titik berangkat dan titik pulang kita jatuh di koordinat yang sama. Cium tangan saat berangkat dan pelukan yang kita tukarkan saat pulang ampuh mengibaskan lelah selama perjalanan. Jarak tidak lagi menjadi keluhan sebab kita berdua tahu setelah kewajiban tertunaikan ada sinar mata rindu dan senyum teduh yang kita peroleh di rumah. Ruma...

Terlupakan

sumber gambar Apakah orang yang jatuh cinta otomatis menandai hal-hal kecil pada jantung hatinya? "Kamu, kan, tidak suka jalan di sisi kiri. Aku tahu." "Tahu dari mana?" "Loh, kan kamu yang bilang dulu." "O, ya? Lupa aku." "Hahaha, terpujilah otak aku yang mampu mengingat banyak hal." *** Dikaruniai kemampuan untuk mengingat hal-hal kecil sesungguhnya merupakan malapetaka. Suatu ketika kau akan dihadapkan pada obrolan yang menyuguhkan tanggapan, "Aku lupa," kemudian kau tersakiti karena itu. "Apa tempat favorit kamu?" "Megaria alias Metropole." "Kenapa? "Karena kita nonton film di sana pas ulang tahunku." "Aku bahkan tidak ingat kita pernah ke sana." "Ih, pernah. Ah, kamu mah lupaan." "Maaf, Ar, hehehe. Yok ah jangan ngambek. Bagaimana kalau kita ke Shirokuma makan es krim garam laut itu? Wajah sahabat krucilku ini jelek kalau ...

Bermain Definisi

dok. pribadi jepretan Augita P. R. Di sebuah kafe sepulang kerja, Maharani memilih tempat duduk di dekat jendela. Kafe senja itu sepi. Barangkali menu yang ditawarkan memang tidak cocok untuk pundi-pundi masyarakat Yogya. Ia sendiri hanya memesan kopi, lain tidak. Baru beberapa kali seruput, ia meluapkan tangis di sana, tak peduli pada pelayan yang curi-curi pandang penasaran. Di tengah-tengah, ia menelepon sahabatnya. "Menurut kamu apa definisi cinta?" "Ng, bagiku cinta itu rasa nyaman nan penuh bunga yang mendorong penikmatnya untuk merajut masa depan bersama." "Definisi kamu manis sekali." "Ah, paling kau mencibirku di sana." "Hm, definisimu manis dan aku suka, tetapi terlalu banyak variabelnya. Sederhanakan. Buat definisi yang mencakup seluruh jenis cinta." "Ya ... definisiku memang khusus cinta kepada pasangan hidup." "Itulah. Ayo, susun lagi!" Setelah asyik dengan definisi cinta, nikmat, da...

Terpenjara Kenangan

sumber gambar Apakah menyenangkan: sedang berjalan kaki lalu terlempar ke masa lalu? Ketika langkah kita seirama, tawa kita menggema di jalan raya, dan bahu kita bersinggungan tatkala berjalan bersampingan. Apakah menyenangkan: sedang makan di restoran lalu terlempar ke masa lalu? Ketika kau menegur ada makanan tertinggal di sudut bibir, ketika piring menanti kita usai berbincang, ketika kehadiran di warung makan lebih berharga daripada makanan yang terhidang di atas meja. Apakah menyenangkan: mendengar tetesan air hujan lalu terlempar ke masa lalu? Ketika jendela kamar bersaksi atas kekhawatiran akan pertemuan yang tak jadi, ketika payung dibiarkan basah dan sepasang anak manusia duduk di bawah atap yang menaungi, ketika air hujan mengaliri pipi dan menyamarkan kesedihan yang terilustrasi. Tidak, terpenjara kenangan tak pernah menyenangkan. Manusia punya pilihan untuk menerima dan merelakan. Kepingan-kepingan masa lalu ini telanjur terkumpul da...

Kisah Cinta Penulis dan Pelukis

sumber gambar Aku tak dapat menarikan kuas sedang kau bisa. Kau tak lihai menguntai kata sedang aku bisa. Kelak kupersembahkan buku-buku tentang engkau, kita. Kelak kaugelar pameran lukisan bertemakan cinta, aku, kita. Rumah kita akan penuh buku dan kanvas. Dinding kita penuh cipratan cat dan juga goresan tangan anak-anak. Rumah jarang rapi karena kesibukan kita, tetapi toh tak ada yang berkeberatan kecuali ibu ayah yang hobi bertamu mendadak. Hahaha. Kalau sudah begitu, aku yang dimarahi karena tidak bisa mengurus rumah dengan baik. Uh, padahal kita bersepakat kerapian rumah adalah tanggung jawab kita berdua. Ya sudah, tidak apa-apa mengalah pada yang tua. Suatu malam di kamar, aku dan kau mengeluhkan karya kita yang tak laku di pasaran sedang perut merongrong minta makan. Belum lagi bayi yang menangis hendak disusui. Bagaimana bisa menyusui kalau ibunya saja kekurangan gizi? Keadaan yang mengimpit ini membuat kita meninggalkan hobi dan mulai beralih profesi. Mencari pekerja...

Pesta dan Sebuah Janji

dok. pribadi Pesta usai satu per satu beranjak pergi, tetapi ada satu yang berdiri di pojok sepi terlambat memenuhi janji   Ia menyapu pandang ke penjuru ruang berusaha memetakan pojok-pojok yang tadi disinggahi oleh yang sedari tadi tak henti mengabari Maaf jika kau menanti dan tiada aku yang kau dapati maaf atas kesengajaan ini yang ujungnya tak jadi lagi dan mungkin membuat kau pulang dengan patah hati Yogyakarta, November 2017

Sebenarnya Kosong

sumber gambar S: Duh, kusangka kau hendak mengenalkanku pada seseorang. D: Pada siapa memangnya? S: Ya entah, pertanyaanmu tadi seakan-akan mencari tahu kekosonganku atau tidak. D: Hahahaha, sebenarnya kosong, tetapi hatimu belum. S: Hahaha, kau memang paling mengerti. Ibarat gelas kaca yang dipanaskan lalu pecah bila api dibesarkan. Ibarat balon yang penuh udara dan pecah bila makin dikembungkan. Ibarat mangkuk yang penuh air lalu luber bila diisi lagi. Itulah ilustrasi hati yang disesaki kenangan, belum siap menerima lagi. Terlepas dari luar biasa indahnya kenangan atau pedih peri yang timbulkan ketakutan tak mudah mengosongkan hati yang telah dipenuhi hal-hal itu. Cheers, Nadia Almira Sagitta

Miss All The Feelings

sumber gambar I miss being truly, madly, deeply in love. I miss writing a bunch of poems about someone. I miss the feeling of longing. I miss the blush on my cheeks when I get notifications.  I miss the jittery feeling when I'm about to see him. I miss all the sweet feelings  that comes around when I fall in love.

Selera

sumber gambar Dalam untaian kalimat sederhana, kau bukanlah pilihannya bukan karena kau tidak begini begitu bukan karena kau kurang ini itu cinta itu masalah selera kau dengan paket lengkap perangaimu cukup untuk sesiapa yang bersedia menerima Apabila dirimu tak masuk daftar pilihan kesalahan tidaklah terletak di pihaknya juga tidak di pihakmu sekali lagi, cinta itu masalah selera yang tak bisa kaupaksa juga kau pertanyakan mengapa Yogyakarta, Oktober 2017

Murka

sumber gambar Angkara murka telah menghancurkan kita berdua jiwa-jiwa yang panas oleh gumpalan kekesalan makin menjadi-jadi duar! habislah terkoyak cinta dan berganti sesak di dada Yogyakarta, Oktober 2017

Seandainya

sumber gambar "Seandainya engkau ada di sisiku Kan kujaga kau selamanya takkan pernah kusakiti hatimu." (Paul & Gita - "Seandainya") Di tengah badan yang lemas karena kurang makan dan begadang, mata yang sayu, juga kondisi hati yang morat-marit, ini senyum pertamaku dalam tiga hari. Aku baru pertama kali melihat video klip lagu ini dan ternyata lirik dan videonya romantis, namun tidak muluk-muluk. Entah mengapa, bayangmu tidak hadir sama sekali ketika aku mendengarkan lagu ini. Alhamdulillah. Ya, itu tantangan tersendiri sebenarnya. Bagaimana caraku menghapuskan semua jejakmu dari bayangan masa depanku. Aku telanjur berpikir jauh dan kini aku harus bertanggung jawab pada khayalan yang kurangkai sendiri. Seandainya kita tidak berjumpa, bagaimana? Allah mengingatkan para hamba-Nya untuk tidak mengandaikan kejadian masa lampau sebab apa yang telah terjadi merupakan takdir Allah. Aku juga tidak hendak menyesali sebuah pertemuan: pertemuan kit...

Reka Ulang Kenangan

sumber gambar Aku tahu malam itu akan begitu sendu tetapi kukejar juga menunggu, berjejalan, dan deg-degan berharap terpilih dan tak terlewati gelap dan penuh napas ruangan itu dua bercakap di depan sisanya pergi meninggalkan, lebih banyak yang bertahan aku? terpaku di tempat yang diperintahkan menunggu deg-degan berharap... kemudian suara piano. Seperti baru, kunikmati pergerakan di layar aku tahu akhirnya aku tahu nasib tokohnya tetap mbrebes mili tak kudengar deham beratmu napas satu-satumu malah napasku saja kudengar dan sesaknya makin nyata Karena rindu, kenangan direka ulang dan berujung pilu Yogyakarta, Agustus 2017

Sore di Bulan Agustus

sumber gambar suatu sore di bulan Agustus tepat di seberang Tugu kau dapat temukan aku duduk di bangku menunggu suatu sore di bulan Agustus di sudut Mangkubumi kau dapat temukan aku meniupseruput segelas kopi masih suatu sore di bulan Agustus di tengah ruangan gelap berisi jejalan anak muda kau dapat temukan aku terpaku layar mencengkeram bahu sesak teringat sekumpulan kisah yang telah lalu sore hari di bulan Agustus tak jauh beda dengan Juli ataupun Januari aku di sini sendiri dengan kelebatmu yang masih berlari-lari Yogyakarta, Agustus 2017 sembari mendengar dentingan G. Gigih memainkan nada berjudul sama

Menolak Kenyataan

Ia  memandang kotak nasi yang baru saja disorongkan padanya tanpa bernafsu menyentuhkan jemari pada tutupnya.  Ia merasa kenyang. Maka kembalilah ia ke kamar tidur dan menarik satu buku dari dalam lemari.  Buku yang berwarna biru dengan garis-garis merah itu berisi lembaran-lembaran kosong, sebuah buku tulis.  Pena bergerak-gerak sebentar, berhenti, lalu bergerak lagi.  Memberikan waktu bagi sang penulis untuk mengolah apa yang berkacau dalam pikiran.  Decit-decitan ban mobil yang bergesekan dengan aspal menjadi teman menulisnya malam itu.  Semenjak berjumpa kembali dalam pertemuan yang tidak disengaja, malam-malam ia habiskan dengan duduk di pojokan kamar dan menatap, entah menatap apa. Pandangannya tertuju ke dinding, tetapi pikirannya jauh pergi meninggalkan tubuhnya. Dalam kekosongan itu, ia mengerjap-ngerjapkan mata, memijat leher dan bahunya, seolah ingin melepaskan beban yang bertengger di sana. Lalu merembeslah air dari dua ...

Menunggu

Satu jam lalu kami mengait janji untuk bertemu sebelum esok dia kembali ke Riau. Jemariku bolak-balik di jendela Instagram, Whatsapp, dan home . Nihil kabar. Nihil notifikasi. Penuh gelisah, kutatap langit yang menggelap. Awan-awan robek dan menjatuhkan hujan sekeras-kerasnya. Tempiasnya terdengar hebat di atap yang menaungiku. Sejak dulu kutahu ia tak suka hujan. Janji yang telah disepakati dapat ia batalkan semena-mena dengan alasan hujan. Aku tak mengerti jalan pikirnya yang satu itu, sungguh konyol terdengar di telingaku. Telah ada ciptaan bernama payung dan mobil maka alasan yang diagungkannya itu tampak kuno sekali. Delapan dua puluh dan gerimis ritmis. Belum tampak juga batang hidungnya. Tiga belas kali aku menghubunginya lewat telepon yang berakhir dengan pesan suara. Ke manakah ia, lelakiku? Ia janji takkan membiarkanku sakit. Ia selalu menjadi yang paling rewel dengan jadwal makanku, jaket yang seringkali kulupa untuk menyelimuti rangka ringkihku, dan juga jam pulang malam...

Kenalan Perjalanan Kereta

sumber gambar Koper kugeret sampai ke depan kursi 13C. Sayang sekali bukan kursi berkode D favoritku. Sudah terisi. Seseorang berpipi kemerah-merahan duduk di sana menatap jendela hitam. Baru saja usai menyudahi pembicaraan di telepon. Basa-basi sedang di mana, sampai jumpa lagi, dan ditutup dengan suara berbisik, "Sudah ya, isin aku." Aku mengeluarkan bantalan U yang kubeli sehari sebelumnya. Juga merobek plastik selimut pinjaman yang dibagikan pramugara. Sementara itu, dia duduk tenang-tenang saja tak terusik dengan headset yang terpasang di telinga. "Cool juga," pikirku. "Tetapi manis seperti anak mama," tambahku lagi. Aku memperhatikannya sejenak lalu memalingkan muka ke arah ponselku sendiri. Ketika aku mengangkat kepala, kami bersitatap. Ia tersenyum dan aku balas senyum. "Mau ke arah mana?" "Aku Yogya, kau?" "Klaten." "Oalah, tinggal di sana po?" "Ini mau ke rumah nenek. Aku kuliah di ...

Kesempatan Itu

sumber gambar Kau selalu menangkap kesempatan untuk menyenangkan hatiku Tetapi tidak menawariku kesempatan yang sama Mengapa? Tidak seimbang jadinya Tiada dipinta, tetapi selalu diberi Entah mesti senang atau sedih Sebab aku jadi tak enak hati Sungguh tak ingin seperti Kugy dan Remi Tanpa ada kata saling yang menyelimuti Dengan begitu pasti jenuh sendiri Sampai memuncak lalu sadar dan pergi Jangan Aku belum mau kau lekas-lekas pergi Jadi sekali ini Tawari aku kesempatan itu Yang selama ini selalu kau halang-halangi Yogyakarta, April 2017

Pereda Gelegak Rindu

sumber gambar Hanya sebuah perjumpaan kupinta Dengar-dengar, ia ampuh menghalau gelegak rindu Tak ada yang suka tak berdaya Terpenjara Oleh perasaan yang seolah tak ada habisnya Meski lagi-lagi katanya Perjumpaan itu candu, membuat ketagihan Dan makin menegaskan perasaan Dan makin menyesaki pikiran Dan merupakan gerbang keresahan-keresahan masa depan Tetapi aku tak peduli Yang kutahu hasrat hati menuntut dipenuhi   Hanya setunggal yang ingin kupetik Adakah sinar-sinar yang sama terpancar Dari bola matamu Seberkas sinar itu Akan sangat menentukan Apakah masih akan kupelihara namamu Dalam pucuk-pucuk harapku   Yogyakarta, April 2017

Yojana

sumber gambar Semilir angin menyapu pasir-pasir juga helai-helai rambut kita . Aku menutup mata. Meresapi ketenangan , menghirup udara yang dibawa sang angin .   "Ima..." "Hm?" "Aku tidak ingin momen ini berakhir." "Siapa yang akan mengakhirkan? Ini masih ada. Kita masih di sini." "Hanya khawatir. Musim berikutnya masihkah ada kita?" Aku lalu menolehkan kepalaku menatapmu. Jelas sekali tergambar segurat kecemasan. "Mengapa tidak kau kekalkan saja kalau begitu takut? Dengan begitu, kita akan selalu hidup dalam tiap momen." Aduh, apakah aku salah bicara? Kau mengatupkan bibir kini. Mengikatkan diri, memberi label, mengekalkan hubungan, kau sangka semua itu mudah, Ima? Betapa tololnya diriku. "Iya, Ima. Kau benar. Maaf, ya." "Maaf karena?" "Aku tidak memberi kejelasan apa-apa." "Ya. Sudah biasa." "Tetapi kau tak perlu menunggu." Aku tercenung. Maksudmu apa? "Iya, k...

Debur di Pesisir

sumber gambar debur debur dan kecipak kaki sepasang anak muda meninggalkan jejak di pasir yang kemudian pupus tersapu ombak ada kau bermain dengan setangkai kayu mengaduk butir-butir pasir membentuk suatu pola bertuliskan namaku aku ikut mengguratkan sesuatu dengan jemari : namamu kurang lengkap, ah, protesmu apakah itu, tanyaku pura-pura tidak tahu tengahnya hampa dan kita seperti terpisah, ujarmu lagi tangkai kayu kau gerakkan membentuk lengkung hati tertebak sebenarnya, tetapi semu dan senyum tetap tak dapat kutahan dan kau juga berbinar menatap mataku sebelum meraihku ke dalam pelukan. Yogyakarta, Mei 2017