Skip to main content

Posts

Showing posts with the label skoliosis

Sepatu bot

Dua hari ini lagi hobi jalan-jalan pakai hak tinggi. Eng, sebenarnya sih sepatu bot yang memiliki hak. Hahaha sama saja, ya. Toh, haknya juga mirip-mirip sepatu stilettoku, yaitu enam sentimeter. (ngakak) Pantas capek. Kok, tumben pakai sepatu bot? Kebetulan pas di Amrik kemarin nemu sepatu bot diskon dan lumayan lucu, jadinya dibelikan bunda. Nah, waktu itu memang musimnya pakai bot karena sedang musim dingin. Di Indonesia, aku jarang ketemu orang yang pakai sepatu bot. Daripada sepatunya dianggurkan karena alasan itu, lebih baik digunakan, bukan? :D Sebenarnya, akan lebih cantik kalau kita memadukan bot dengan celana jins ketat (skinny jeans) . Sayangnya, aku nggak pakai celana jins, but it fits well with my dress and skirt! Uyeaaah. Dua hari lalu aku padankan dengan blazer dan rok kantoran, tadi aku padankan dengan gamis. Cocok-cocok saja, alhamdulillah. Jadi, untuk muslimah yang setia dengan rok, nggak ada salahnya kamu mulai melirik bot! :) Efek sampingnya, ya, betis dan...

Kesehatan itu ekslusif, mahal

Pagi tadi bertemu teman-teman skolioser. Ada seseorang yang berceletuk, "Eh, tahu spinecor, nggak?" "Tahulaaaah, soft brace, kan?" "Iya. Ada tuh di Bandung dengan harga 2,5 jutaan." "Hah, masa? Setahuku hanya dijual di Jakarta. Harganya pun 30 jutaan. Kok bisa ini cuma segitu?" "Nggak tahu juga, sih, barangkali karena buatan Indonesia? Bahannya juga mungkin berbeda. Nah, tetapi mereka tetap mengukur lengkung kemiringan kita, kok." Brace? Kamu mau pakai, Nad? Sebenarnya, aku mulai was-was dengan jadwal operasi. Tahu-tahu ingin lekas bertemu dr. Luthfi Gatam, memastikan soal pemasangan brace, rontgen ulang--karena yang kemarin salah (bayangkan, satu juta dan salah!)--konsultasi, dan segera mendaftar operasi di Fatmawati atau RSCM. Yang kudengar saat kopdar tadi, untuk bertemu dr. Luthfi saja bisa sampai menunggu tiga bulan. Ngantri operasi bisa sampai setahun kalau BPJS. Like...oh, okay. Jika memang harus menunggu setahun, ...

Once sco, forever sco

Assalamualaikum!  Lama ya nggak curhat di sini, hehe. Beberapa hari ini memang aku kebanyakan istirahat, skripsian, dan istirahat lagi. Mager, haha.  Akhir-akhir ini aku rutin membaca info skoliosis seperti saat pertama kali didiagnosis dulu. Bedanya, kali ini fokus ke info operasi. Derajat kemiringanku memang masuk kategori layak operasi. Hari ini aku akan konsultasi dengan dokter di RSCM, insyaAllah. Beberapa hari lalu Bunda chat, “Kalau memang keputusannya harus operasi, tunggu wisuda aja biar skripsinya tidak terganggu.” Aku spontan jawab, “Iya, semoga tidak operasi. InsyaAllah tidak.” Sebenarnya saat mengatakan ini aku ragu, apa betul tidak butuh operasi? Lantas koreksi tulang belakangmu bagaimana? Tiba-tiba bayangan akan operasi sehabis wisuda berdiri di depan mata. Takut. Ketakutanku bukan tak beralasan, kemungkinan lumpuh dan meninggal itu ada walaupun hanya sekian persen. Andaikata berhasil, pemulihan pascaoperasi betul-betul penuh perjuangan. Tidak boleh ang...

Naik gunung

N: Aku penasaran dengan naik gunung. Seru, ya? I: Seru, Naaad. Alhamdulillah. N: Berapa lama perjalanannya? I: Kemarin, sih, aku empat jam naik sampai perkemahan. Lalu lanjut dua jam lagi agak ke atas. N: Oh, ya? Lama banget, ya. I: Padahal itu gunung untuk pemula banget. N: Ng, oke. Aku nggak bisa membayangkan mesti berjalan selama itu. I: Banyak istirahatnya, sih. Yang perempuan kelelahan membawa barang jadi sebentar-sebentar berhenti. N: Bawa apa aja kalian? I: Isi tasku kemarin pakaian, alat makan, air mineral 1,5 L empat botol, dan beras. Laki-laki membawa kompor dan lain-lainnya. N: OMG! Berat sekali. Aku nggak tahu apa bisa memanggul barang sebanyak itu. Buku kuliah dan laptop saja sudah membuat tulang belakangku nyeri tak keruan. (skoliosis) I: Emang harus olahraga sebulan sebelum naik, sih. Aku udah olahraga, tetapi tetap saja ngos-ngosan. N: Hiking is not my thing. Hehe. Jalan-jalan ke Ketep Pass di Jogja naik mobil saja aku sudah senang. Alhamdulillah. I: Alham...

Menjadi skolioser

Aku bersyukur punya teman-teman yang perhatian denganku. Contohnya kemarin, aku membawa beban barang yang cukup berat. Aku membawa tas ransel, tas laptop, dan tas tangan. Tas ranselku penuh buku, tas tanganku juga penuh buku dan satu jaket, sementara tas laptopku ya berisi laptop yang beratnya...ampun, deh. Mereka membantuku membawakan laptop. Makasih banyak, ya. ♡ Ketika mau pulang... "Nad, kamu pulang naik ojek, kan?" "Ng, nggak tahu. Jalan kaki, mungkin?" "Naik ojek, Naaad. Kamu tahu kosanmu sejauh itu. Lagi, ini bawaanmu banyak banget." "Mahal banget ojek kalau dari kampus ke kosan, beda kalau sebaliknya." "Ya gimana, tulang punggungmu kasihan. Naik ojek aja, ya?" Akhirnya aku pulang naik ojek. Sampai kosan, tanpa basa-basi, langsung tidur padahal belum makan malam. Tulang punggungku berulah, nyeri sekali.  Menjadi skolioser memang butuh rasa sabar. Sabar dengan nyeri punggung yang dialami ketika duduk atau berdi...

Kurus terus; Terus kurus?

Aku tidak mau kurus terus. Saat aku mengeluhkan ini, mungkin ada orang-orang di luar sana yang berkata, "Aku tidak mau gemuk terus." Bukan, aku bukannya tidak mensyukuri badan pemberian Tuhan, tetapi aku sangat ingin membuatnya ideal. Tinggiku 170 cm, sementara berat badanku... oh, tak perlu kau tahu. Yang jelas, dokter gizi menetapkan beratku termasuk dalam kategori underweight. Terlalu kurus tidak baik. Terjangkit sakit mag, nyeri tulang, dan sebagainya. Seperti yang baru saja terjadi, tiba-tiba sendi peluru (antara lengan dan bahu)ku nyeri luar biasa. Lengan sampai nggak bisa digerakkan saking sakitnya. Nyerinya menjalar sampai ke pinggang. Ya apaan. Duduk kaku aja sambil meringis, menunggu nyerinya reda. Belum lagi skoliosis yang tampaknya makin parah (semoga saja tidak). Nyerinya amit-amit, nggak bisa dibahasakan, deh. Mana kata beberapa orang, derajat kemiringan skoliosis lebih cepat berubah pada orang kurus. Alasannya. otot penyangga tulang yang miring tidak ...

2015 - Skoliosis

Skoliosis. Masih ingatkah dengan pelajaran Penjaskes di SD dulu? Kifosis, lordosis, dan skoliosis. Beberapa bulan ini, aku mengeluh sakit punggung. Tak bisa telentang dan menghirup napas panjang. Sakit. Rasanya, tulang rusuk tertarik oleh tulang belakang tiap bernapas. Rasanya dada ditekan kuat-kuat kalau telentang. Belum lagi pegal-pegal tiap bangun tidur. Kemudian, datanglah temanku berkata bahwa tulang kananku menonjol dibanding yang kiri. Tanteku juga mengatakan hal yang sama.  Jadilah, 15 Januari 2015 lalu aku ke dokter ortopedi. Dokter Tejo namanya. Dia berperawakan tinggi dan tegak. Dia lebih tinggi dari saya. Hahahha. Pas banget deh jadi dokter spesialis tulang. Dari sana, aku menuju ruang radiologi. Kunjungan pertamaku ke sana, yeayyyy! (Terus bangga). Bertukar pakaian dengan baju rumah sakit, berdiri di depan kamera khusus, dan voila! Jadilah foto hitam putih bergambar tulang rusuk serta tulang punggungku. Foto x-ray kah itu? Entahlah. Dua foto hitam itu me...