Skip to main content

Posts

Showing posts with the label resensi film

Pemutaran Film Narasi Yang Lain dari KDM Yogyakarta

sumber gambar Klub DIY Menonton hadir lagi! Ini salah satu kelompok menonton yang cukup rutin aku hadiri. Setahuku, di Yogyakarta ada empat kelompok pemutaran film alternatif, yaitu JAFF, Klub DIY Menonton, Animasi Club, dan Kamisinema ISI. Berkat mereka aku jadi jarang nonton bioskop (lha wong dari dulu juga jarang, Nad! Hahaha). Pada KDM 22, film-film dibagi ke dalam dua sesi dan kali ini menghadirkan empat film luar negeri dari Prancis, Rusia, Turki, dan Brazil. Film barat dan dua film Indonesia yang sudah aku bahas sebelumnya hanya akan kubahas sekilas di sini. :) The Age of Reason (2016) sumber gambar Sejujurnya aku bingung ini film mengenai apa. Ditambah lagi posisi dudukku di belakang yang makin menyulitkanku untuk membaca subtitle. Banyak hal yang terlewati pastinya. Di negara Pablo, anak-anak harus memilih pekerjaan impian mereka pada umur tujuh tahun. Euh, muda pisan! Pablo dengan tegas memilih cashflow manager sebagai pekerjaan impiannya. Ak...

Ulasan Film-film Danais DIY 2017 (a)

sumber gambar Hari Kamis di penghujung bulan Agustus diselenggarakan pemutaran perdana film-film penerima danais (dana istimewa) 2017 di Dinas Kebudayaan Yogyakarta. Aku berangkat ke sana sehabis salat magrib di kantor. Ketika aku sampai pukul 18.40, aku sudah khawatir saja terlambat menghadiri sesi pertama. Untungnya acara belum dimulai, bahkan aula pun belum dibuka. Di depan ruangan berjejalan banyak orang, ada anak-anak SD, mahasiswa, pembuat film, orang-orang tua, dosen, dan mungkin para pegiat film lainnya. Aku datang sebagai penikmat film (gratisan nan antimainstream ) tentu saja. Danais kali ini disalurkan pada dua film dokumenter dan lima film fiksi. Tiga film diputar pada sesi pertama, yakni Incang-inceng, Pentas Terakhir, dan The Unseen Words , sementara sesi kedua memutar film Padhajayanya, Hoyen, Munggah Kaji , dan Dluwang . Akan tetapi, ulasan ini hanya akan membahas tiga film pada sesi pertama. Ulasan empat film lainnya akan kutayangkan di tulisan selanjutnya sup...

Lelayang dan Ruah Bahagia Sebuah Keluarga

sumber gambar Deretan manusia di J.Co J-Walk menyambutku sore itu. Ya ampuuuun, betapa berjubelnya orang demi dua kotak donat! Aku bergegas ke CGV untuk mengejar sesi pertama pemutaran film JAFF (Jogja - NETPAC Asian Film Festival) Movie Night. Film yang diputar hari itu adalah film-film yang mendapatkan danais (dana istimewa) dari Dinas Kebudayaan Yogyakarta pada tahun 2016. Jadi, apakah filmnya akan keren? Tentu saja, kan, sudah dikurasi sebelumnya. Waktu itu 17.40, masih tersisa dua puluh menit sampai penghabisan sesi pertama. "Mbak, sebentar lagi selesai. Nonton sesi kedua aja, ya?" "Oh, oke. Pukul 19.00, kan? Saya mau salat dulu." "Silakan, Mbak. Dulu nonton JAFF 4 juga, ya?" "Eh iya, kok tahu?" "Saya hapal muka Mbak." Tersanjung juga rasanya diingat seseorang, hahaha. Setelah salat aku kembali lagi ke lokasi dan mendapati ruangan kosong. Balada datang lebih awal. Mendekati pukul 19.00, satu per satu penonton mem...

Film What To Expect When You're Expecting

Baru saja aku selesai menonton film What To Expect When You're Expecting . Film ini menceritakan kisah lima pasangan, yaitu 1. Wendy dan Gary, 2. Jules dan Evan, 3. Rosie dan Marco, 4. Skyler dan Ramsey, dan 5. Holly dan Alex. Mereka memiliki kisah kehamilan yang berbeda-beda. Ada suami yang tidak siap menjadi ayah, ada yang keguguran, ada yang harus dioperasi caesar kendati ia sangat menginginkan kelahiran normal, ada yang mengalami proses kehamilan dan melahirkan yang super-duper nyaman, ada pasangan yang mandul, ada yang sering berselisih paham karena keduanya jarang menghabiskan waktu berdua, dan lain-lain.    Aku tidak bermaksud menuliskan ringkasan filmnya (karena kepanjangan!), aku hanya mau membeberkan beberapa hal yang ngena banget. Aku nangis, lho, saat ada yang keguguran dan mandul. Sumpah, pasti sedih banget rasanya kehilangan anak yang sangat dinanti-nantikan. Bahkan ada dialog si istri menyalahkan dirinya sendiri, "I'm the one who can't do the on...

Adriana

sumber gambar Sore ini aku menonton Adriana. Ini film adaptasi novel berjudul sama, Adriana. Film ini berkisah tentang sejarah Jakarta. Para penggemar sejarah mesti nonton ini. Seriously, I dare you . Aku sudah berkali-kali membaca novelnya, tetapi belum juga bisa memecahkan sendiri teka-teki yang disuguhkan oleh Fajar Nugros. Luar biasa memang. Ada kisah cinta, sejarah, dan persahabatan. Paket lengkap, Mamen. Berikut ini kutipan film Adriana favoritku. (Catatan: kutipan di bawah ini tergolong spoiler , jangan baca jika tidak ingin rasa penasaran kalian padam!) "Impian itu, kan, letaknya nggak harus selalu di atas, kadang kamu hanya perlu ngelihat ke bawah dan mengejar impianmu." (Sobar, Adriana) "Negara ini sudah diperbudak selama tiga setengah abad, Mamen. Lo masih mau memperpanjang sejarah perbudakan negeri ini? Dulu kita dijajah Belanda karena kita masih bodoh, Men. Orang bodoh dijajah sama orang pinter itu udah biasa. Elo dijajah cinta, Men, dijajah c...