Skip to main content

Posts

Showing posts with the label mimpi

Jadi pacar?

Pagi ini aku tertidur. Tepat setelah sarapan dan menonton video. Kurasakan kepalaku berat dan badanku lelah maka aku langsung memalingkan wajah dari gadget lalu meraih bantal guling. Selama terpejam, aku bermimpi. Mimpinya menegangkan sekali, sungguh! Aku dan kelima temanku sedang dalam misi memecahkan suatu rahasia. Dikejar-kejar musuh. Di akhir mimpiku, tiba-tiba ada kamu. Kamu tiba-tiba mengirimiku pesan, "Nadiaaaa, aku bahagia banget jadi pacar kamu!" Kamu mengirimiku pesan sampai tiga kali yang isinya serupa. Kamu bahagia karena jadi pacarku. Err, really? Kita pacaran? Di tengah kebingunganku karena tahu-tahu ada orang yang menyergap masuk dan membuat kami berenam menahan napas, kamu membuatku kehilangan kata-kata. Pacar? Sejak kapan? Belum sempat pesanmu kubalas, aku terbangun. Dadaku naik-turun karena syok. Napasku memburu, tak teratur. Ah, kamu. Mengapa kerap kali main ke mimpiku?

Ngobrol Cantik Bareng Profesor

Seru, ya, ngobrol sama profesor dan tahu sedikit perihal pengalaman hidupnya. Bisa sekalian jadi penambah semangat. "Bu, saya dengar Ibu sempat meneliti bahasa daerah di pedalaman, ya? Itu sesaat setelah Ibu sarjana atau lulus S-2 atau S-3?" "Wah, saya setelah S-1 langsung lanjut S-2 ke Prancis. Di sana, saya malah diharuskan berkuliah S-2 jurusan fonetik dulu oleh profesor sebelum mengambil S-2 geolinguistik jadi gelar S-2 saya ganda. Saya tuntaskan 2,5 tahun untuk dua gelar itu, satu tahun lebih masing-masing. (gile, keren berat!) "Wih, cepat banget ya, Bu? Keren banget." "Haha, ya namanya beasiswa kan, Nak. Saya nggak bisa lama-lama di sana. Itu juga mati-matian nuntasinnya, summer saja nggak libur." "Setelah lulus Ibu langsung gabung sama penelitian LIPI itu, ya?" "Oh nggak. Selepas lulus, saya langsung meneliti untuk S-3. Jadi, saya itu sampai S-3 kuliah terus tanpa putus. || Reaksiku: (takjub) (pasang muka kaget) wkwkwk...

Kapsul Waktu: Ada Kamu

Ada kamu di daftar keinginanku tahun lalu. Sempat ada namamu kutuliskan di situ. Hari ini kudengar pembacaan kapsul waktuku oleh seorang teman di angkatan. Sedikit hambar kurasa ketika ia menyebutkan kamu. Masalahnya, tidak ada lagi kamu, baik di hati maupun di angan-angan. Setahun berjalan sudah dan aku sudah menyerah. Lelah mempertahankan rasa dalam kepura-puraan bahwa aku baik-baik saja acapkali kamu bercerita tentang dia. Satu tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk memutuskan; apakah mempertahankan atau melepaskan? Aku akhirnya memilih untuk melepaskan walaupun rasanya...ya sakit. What did you expect?

Pendokumentasi Bahasa

Hari ini aku merasa sangaaaaaaat lega. Kenapa?  Kemarin aku berdiskusi dengan Ayahku menyoal kontribusi warga negara terhadap negaranya. Aku sempat khawatir dicap pembelot apabila bekerja pada lembaga asing. Diskusi kami bisa dilihat di sini. Berangkat dari setumpuk kekhawatiran, aku menelusuri kembali situs www.hrelp.org--suatu proyek pekerjaan impianku--dan mengaduk-aduk informasi program ELDP. Di situs tersebut, aku menemukan ini: "We provide grants for the linguistic documentation of endangered languages worldwide. Anybody with qualifications in linguistic language documentation can apply as we have no restrictions on the nationality of the applicant or on the location of the host institution."

Masih ada harapan: pemuda impian

Salah seorang Tumblrian yang kufavoritkan beberapa waktu ini membalas komentarku pada tulisannya. Melalui tulisan-tulisannya, aku tahu ia merupakan sosok yang peduli pendidikan, baik untuk dirinya dan orang lain. Ia juga pro terhadap wanita yang bekerja. Aku suka caranya memaknai hidup. Ia tidak termakan frame sosial tentang pernikahan. Ia memiliki pemikiran sendiri soal kebahagiaan. Kini, ia sedang menyelesaikan program doktoralnya di luar negeri dengan kondisi belum menikah. Hahaha, ini tidak berarti aku ingin menikah dengannya. Aku hanya bersyukur bisa berkenalan dengannya secara tidak langsung. Melalui tulisan-tulisannya, aku tidak lagi merasa sepi dan sendirian. Masih ada lelaki di belahan bumi sana yang mengerti profesi perempuan. Masih ada lelaki di luar sana yang mendukung penuh pendidikan setinggi-tingginya bagi perempuan. Masih ada lelaki di seberang sana yang mengizinkan perempuan untuk mengembangkan kemampuan dirinya setelah menikah. Masih ada lelaki di dunia ini yang ber...

Tuan X dan Nona Y

Aku memimpikan sepasang sahabat malam ini. Si lelaki bertubuh tegap, tinggi, dan kurus, sementara wanitanya semampai, langsing, dan anggun.   Keduanya sudah bersahabat selama lima tahun. Mereka cukup mengenal satu sama lain. Ada banyak hal yang sudah menjadi pengetahuan bersama bagi mereka berdua. Contohnya, Tuan X penganut jam karet serta pelupa. Sikapnya itu terkadang membuatnya ingkar janji dan membuat Nona Y yang perfeksionis dan tepat waktu gemas sekali. Akan tetapi, kekurangan Tuan X tertutupi oleh sikapnya yang selalu dapat membuat Nona Y tertawa. Diam-diam, Nona Y jatuh cinta.    "Tidak. Kau tidak dapat menyukai sahabatmu sendiri!" "Apa boleh buat, dia pria idaman setiap wanita. Well, di luar sikapnya yang tukang telat itu, ya. Dia pantas dikoleksi sebagai kawan sepanjang masa." Suara hati Nona Y ricuh sekali. Ia sibuk menepis kenyataan bahwa ia jatuh hati.   Suatu ketika, Tuan X berjanji pada Nona Y untuk mentraktirnya makan siang sebagai perayaan ...

Dinasihati Melalui Mimpi

Semalam aku bermimpi. Seorang teman yang mengenal kita berdua tiba-tiba mengomentari status Line-mu mengenaiku. Entah apa yang kau tulis itu, ia berkomentar tentang kita. Ia menyinggung aku dan kau. Kalimatnya begitu menohok. Sayangnya, di mimpiku, kau begitu pandai mengelak. Padahal, kau bisa saja diam dan mencerna dengan baik kata-katanya. Akhir-akhir ini aku memimpikanmu, Tuan. Temanya berganti-ganti disesuaikan dengan keadaan hatiku malam sebelumnya.  Kali ini, kurasa Allah memberikan jawaban (atau peringatan) padaku, entah padamu. Apa kau juga sempat memimpikanku? Salam, Nadia Almira Sagitta

Mimpi Luar Biasa!

Baru saja kemarin malam aku berkata pada Allah dan hatiku bahwa aku merindukanmu, lantas aku diberi-Nya mimpi semalam pada pukul 02.00 dini hari. Seperti keinginanku kemarin, aku berandai-andai jika engkau datang ke rumahku, kau betulan datang ke rumahku membawa segerombolan kawanmu! Oh, Tuhan. Kau harus tahu betapa terkejutnya aku mendapati hadirmu sepulangnya aku membeli makanan bersama adikku. Kawan-kawanmu, yang kebanyakan lelaki, sibuk membenahi dan melengkapi miniatur suatu bangunan. Papan, kardus, lem, dan cat bertaburan di ruangan makanku. Di sebelah, yakni di dapur, kalian menggelar sajadah untuk salat Asar. Aku salat di saf belakang tentu saja dan di situlah aku menyadari hadirmu. Kau mengenakan jaket hitam dan berdiri pas di depanku. Andaikata tak ada mereka, barangkali aku bisa merasakan salat satu saf di belakangmu. Hahaha. Mulanya, aku tak yakin dan bertanya-tanya siapakah serombongan anak-anak yang masuk rumahku tanpa permisi. Akan tetapi, setelah melihat sesosok pemuda...

Menggapai mimpi

Aku punya mimpi. Kau juga punya mimpi. Masing-masing dari kita punya mimpi besar yang ingin kita gapai. Aku tak kenal siapa engkau, tetapi aku ingin menawarkanmu sesuatu. Bagaimana jika kita kembali berfokus pada mimpi kemudian bertemu lagi suatu saat nanti? Aku tak tahu apakah mimpimu saat ini sedang terganggu sepertiku atau tidak. Jika kau rasa seperti itu, kusarankan kau pikir ulang mimpi tersebut. Pikirkan langkah-langkah yang harus kau tapak untuk menggapainya. Menggapaiku. Sungguh, cita-cita itu lebih memberikan kepastian dan kebahagiaan. You can count on your dreams, but you can not always count on people . Jika kau sebut mimpimu itu aku, itu lain cerita. Ah, tetapi ayolah, kutahu kau lebih baik daripada itu. Lambat laun kau dan aku pasti bertemu. Tak usah kau risaukan. Manusia diciptakan berpasang-pasangan, bukan? Kalau begitu yakinlah aku tak akan ke mana-mana. Ke mana pun kau melangkah, aku akan selalu ada. Di hati. ♡ Selamat menggapai mimpi dan meraih cita! Aku tak p...

Kejar sampai titik darah penghabisan!

"Kereta!" "Aaaah, tunggu kereta selanjutnya aja. Masih penuh, nih. Baru pukul 20.00." "Nggak bisa, angkotku habis pukul 20.30." "Dil, Dil! Tungguin."   Jadilah kami berlari-lari menuju kereta Bogor yang nyaris berangkat. "Yay! Dapat! Hahaha." "Yoi. Fiuh, kayak kejar mimpi. Harus berusaha hingga titik darah penghabisan." "Yap. Kejar tuh Oxford-mu." "Ah, mengenai hal itu... aku jadi takut. Merasa nggak punya apa-apa, sementara mimpi luar biasa. Kamu, sih, enak organisator. Banyak pengalaman." "Lah, kok gitu. Lagian, bagus kamu takut sama mimpi. Itu tandanya mimpi kamu..." "Ketinggian?" "Bukan gitu. Mimpi kamu tinggi berarti kamu butuh usaha lebih untuk menggapainya. Kalau kamu masih merasa belum pantas, mungkin memang belum waktunya menetas. Matangkan dulu, Nad." "Wah iya..." "Makanya jangan mikirin jodoh terus." "Wahahaha, ya. Itu sih yang...

Merangkai mimpi

Pukul 01.33 pagi. Ditemani tablet berdaya 11%, aku baru saja selesai membaca blog seorang kawan. Tulisannya mempunyai ruh yang kuat bernama semangat. Aku kembali merefleksi diri, mengajak segenap tubuhku untuk bersyukur dan merapikan mimpi-mimpi. Mimpi. Aku seorang gadis yang memiliki banyak mimpi. Sayang, tidak kuguratkan mereka dalam tulisan. Hingga mimpi itu begitu saja datang dan pergi. Terlupa. Padahal, seharusnya mimpi-mimpi itu dapat kurangkai, kucoret, atau bahkan kusimpan. Membaca blogmu, kawan, tebersit inginku untuk menuliskan mimpi-mimpiku. Menikmati tulisanmu, kawan, aku tersadar betapa aku hidup selama ini seperti robot saja. Sibuk ini dan itu hingga aku lupa membahagiakan diri sendiri. Aku butuh waktu untuk diriku sendiri rupanya. Sama sepertimu yang menemukan kebahagiaan melalui kuncup-kuncup bunga. Aku tak ubahnya seperti gadis remaja yang sibuk berkeliaran mencari jati diri. Hah, padahal usiaku ini sebentar lagi menjejak tangga kedua puluh. Nyaris dua puluh ta...