Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Curhat

Buang Jauh

"Aku nggak dapat kabarnya di mana-mana." "Dia udah ngilang ditelan bumi." "Ih, kok gitu?" "Ih, buang saja dia jauh-jauh. Untuk apa coba?" "Ya aku cuma mau memanfaatkan waktu selagi bisa..." "Ih, jangan. Nggak usah. Aku sudah bisa menebak bagaimana akhirnya. Kamu ingat, kan, aku juga pernah dibuat begini? Ya sudahlah, aku yakin paling sebentar lagi kau lupa." "Carilah pengalihan. Banyak hal yang dapat kau kerjakan daripada merenung lantas mengingat dia."

Liburan SBMPTN

Libur hari ini, ngapain aja? Well, aku tidur, nonton, tidur, makan, dan bersantai sampai magrib. Hahaha. Benar-benar butuh istirahat dari hari-hari melelahkan. Malamnya, sesuai rencana, aku nge-Detos dan nge-Margo. Mau beli kabel charger dan cuci mata. Eh, tahu-tahunya bawa pulang Fame Fatale yang hits itu. Warnanya bold, deep. Gelap. Sempat nggak pede sama sekali untuk pakai, tetapi nekat beli karena belum pernah punya warna bold. Padahal, awalnya ngincar Baby Bombshell, Runway Rebel, atau Smooch yang pink-merah unyu gitu. Haha, I guess I'm trying to enhance my "sisi galak" through colors. Untungnya, kali ini jalan sendiri dan tidak bertemu siapa-siapa, jadi aku aman dengan tampilan baruku. Haha. Sayang, aku gagal mendapatkan charger karena konter Samsung sudah tutup. Ah, padahal baru pukul delapan lewat sedikit. Akhirnya, lanjut nge-Margo. Aku ke sini karena diberi titah ibunda untuk mencari blazer kantoran. The Executive adalah toko incaran pertama. Setela...

Bebersih

Iseng nonton video home organizing dan cleaning hacks . Merasa konyol dengan kata kunci "How to clean..." , tetapi ya sudahlah memang banyak yang belum aku tahu. Untuk membuat rumah nyaman dan keluarga betah tidak hanya mengandalkan aroma masakan, tetapi juga keteraturan dan kebersihan. Oke, dari sekarang harus belajar bersih-bersih. Kebersihan itu sebagian dari iman, Nad, jangan cuma kebersihan diri aja yang diperhatikan. Wkwkwk. Lagian ada yang ngomong, "Nggak ada izin nikah kalau kamarmu saja berantakan." Heeeeeeh, iya juga, sih. Kamar yang ukurannya cuma berapa kali berapa saja kelimpungan ngurusnya, gimana rumah dengan banyak kamar? /plak/ Wish me luck!   Duh, partner hidup masa depan, maaf ya kalau aku berantakan. o.O Cheers, Nadia Almira Sagitta

Semoga Bahagia

Apa pun, temanku. Apa pun langkah yang kamu pilih akan kudukung selama itu baik. Pun jika kamu memulai ulang proses dengan dia. Aku berharap dia tidak lagi punya nyali untuk menyakiti hatimu. Aku berharap ada akhir bahagia dari tangis-tangis yang selama ini meleleh di pipimu. Kamu tak pantas disakiti terus-terusan. Aku juga. Doakan aku agar suatu saat bisa seperti kamu, ya. Supaya nggak perlu lagi menangis-nangis tidak jelas. Kita akan sama-sama bahagia, kan, teman? :) Bismillah. Luv, Nadia Almira Sagitta

Menuju Dewasa

Adakalanya manusia butuh menumpahkan airmata sederas mungkin sampai terkuras habis. Seperti saat ini, ingin sekali aku mengekspresikan kesedihan dengan menangis sejadi-jadinya. Pedih, hanya aku yang mengerti. Akan tetapi, aku tidak mampu lagi menangis seheboh dan selama yang kuperkirakan. Hanya semenit. Sudah terlalu sakit sehingga tidak bisa lagi diungkapkan dengan tangis. Sama seperti kemarahan yang memuncak, kita tidak lantas mencak-mencak, bukan? Kita memilih diam. Aku juga memilih diam dan menatap kosong ke langit malam. Sudah maklum. Jalani saja. Anggap ini salah satu fase yang harus dilewati biarpun aku sudah berkali-kali merasakannya. Proses menuju kedewasaan adalah proses tanpa henti. Perantaranya bisa siapa saja, misalnya teman, orang tua, laki-laki. Harus lebih bijak memandang masalah, tidak boleh egois, dan harus lebih mampu menyikapi kesedihan. Besok aku berumur dua puluh satu tahun. Rasanya, aku harus memulai lembar yang baru dan mengutamakan sinar daripada k...

Jangan Galau

"Jangan galau lagi, ya." "Nggak ada yang mau lihat Nadia sedih dan galau." "Semua itu sayang sama Nadia. Kami ikut sedih kalau Nadia nangis melulu." "Wajar tema nasihat orang-orang ke kamu tentang galau, soalnya kamu butuh banget dinasihati mengenai itu." "Nadia kalau galau parah banget. Kayaknya segala-galanya bisa berantakan. Jangan galau, Nad." "Aku kepikiran kamu, Nad. Udah nggak galau, kan?" "Aduh, Bu Prof, kamu begini gara-gara lelaki? Jangan, dong!" -- A little reminder. Ini nasihat beberapa minggu lalu. Eh, ada yang masih baru, sih. Aku cuma menuliskannya di sini supaya aku ingat untuk nggak bergalau ria. Senang, sih, ya orang-orang memperhatikan Nanad, pakai embel-embel sayang Nanad pula! Ih, sayang kalian jugaaaa! (peluk) Harap maklum, ya. Aku anaknya attention centered banget. Hahaha. Iya, iya. Aku akan berusaha nggak galau seperti dulu. Mungkin intensitas galaunya dikurangi dan kadar keik...

Gosip

Buonasera! Malam tadi temanku datang ke kosan dan hendak meminjam buku. Eh, mulanya yang mau beberapa menit saja malah jadi sejam lebih. Kami asyik bergosip di ruang tamu. Hahaha, kocak, ih. Bercerita soal sahabat-sahabatnya, soal cerita cintaku, soal skripsi dan jurnal kawan-kawan, perkuliahan, serta banyak hal. Aku nggak pernah berpikir untuk bercerita panjang padanya, apalagi sampai curhat cinta. Ah, tetapi mungkin aku butuh bercerita dan kebetulan dia asyik sekali mendengarkan. Ternyata, pengobatan untukku adalah menumpahkan segala rasa ke teman-temanku sampai akhirnya aku bosan dan lelah untuk menangis. Kalau bisa, sampai aku bosan bercerita. Seperti tadi. M: Mau ke mana, Nad? N: Ke ... klaster. Makan. (bohong! Aku mau nangis sepuasnya di sana) M: Sama siapa? N: Ng, sendirian. Tapi kalau kalian mau ikut juga boleh. M: Kami ikut, ya. N: O...ke. (aih, gagal melampiaskan rasa) Di klaster. M: Kamu kenapa? A: Iya, Nanad kenapa? N: Aku... (kemudian mengalirlah cerita ...

Tak lelap

Aku tertidur. Baru dua jam. Itu juga tak lelap. Aku tak merasa bahagia dalam tidurku. Aku mendengar suara cicak berlarian di antara kertas-kertasku. Aku silau oleh cahaya lampu kamarku. Tubuhku rasanya lelah sekali, seperti habis berlari jauh. Kurasakan pula mataku masih sembap saat bangun. Bibir masih terkatup sama sebelum aku memejamkan mata. Ah, padahal kan aku maunya senyum biar cantik seperti putri tidur! Malam ini aku tidak cantik. Tidak menarik. Aku tertidur. Baru dua jam. Itu juga tak lelap. Aku kaget saja, sesulit ini aku tidur, tetapi waktu tak mau peduli. Ia berjalan lambat sekali. Sengaja ia. Meninggalkan aku dengan suara-suara hatiku sendiri. Memaksa aku untuk menenangkan diriku sendiri. Aku ingin cepat menyongsong pagi. Malam, Nadia Almira Sagitta

Tahun baru penuh bahagia

Alhamdulillah, ya Allah. Terima kasih untuk hari kemarin. Terima kasih untuk tahun barunya. Kemarin aku berangkat ke MUI untuk mengikuti Kajian Hijab Biru UI yang membahas tadabbur surat Alfatihah. Kajian terakhir yang kuikuti itu tanggal berapa, ya? Sudah lama sekali. Ada rasa yang berbeda ketika aku duduk bersama para akhwat dan menyimak serta mencatat materi dari ustaz yang duduk di belakang hijab. Sekarang, Masjid UI menjadi tempat yang cukup asing bagiku. Setahun lalu aku masih sering ke MUI karena sekretariat organisasiku berada di lantai dua masjid ini. Namun, setahun belakangan aku tidak lagi bergabung dengan organisasi apa pun. Aku putus kontak dengan MUI karena merasa sudah tidak ada ikatan apa-apa. Aku tidak wajib mengurus kajian, tidak wajib lagi menghadiri rapat, dan lain-lain. Padahal, aku sering mengunjungi tetangga masjid ini, yaitu perpustakaan , tetapi untuk sekadar beribadah di MUI aku jarang sekali. Berkunjung ke rumah Allah membuat hatiku lega. Lega karen...

Obrolan saudari: ngemil

F: Hi! N: Heyy. F: What are you doin? N: Shopping. Groceries shopping. F: I want to go too. N: What? Hahaha. F: I wanna buy snack. N: I buy fruits and veggies for my smoothies. I rarely buy biscuits and chips now. F: Ooooh not fun! I eat chips now. N: Oh yea? What kind of chips? F: Nacho cheese. Doritos. Hehehe, we are kinda opposite. Hahahaha sebenarnya mah kita nggak gitu berbeda, Fir. Aku juga suka ngemil kue dan keripik. Hanya saja, sekarang lagi membatasi makanan semacam itu. Makin bertambah umur makin peduli kesehatan, lah. Lagi usaha mengonsumsi buah dan sayur lebih banyak. Haha, kau jangan malas makan buah dan sayur! But for now, enjoy your chips! :9 Luv and kangen, Nadia Almira Sagitta

Sup Krim Instan

Malam ini sakit. Bawaan dari empat hari lalu, sih. Tertular flu lantas meriang berhari-hari. Tahu kan ya meriang itu gimana? Badan kedinginan, sementara suhu tubuhmu panas. Itu demam, dong? Haha ya sama saja sebenarnya. Meriang ini ngeganggu banget. Tidur jadi susah karena selalu kedinginan padahal udah selimutan. Serba salah.  Malam ini lupa banget isi pulsa, jadi nggak bisa pesan makanan di rumah makan langganan. Kalau jalan kaki, nggak kuat karena capek dan terpapar angin malam. Jadilah, aku bongkar lemari makanan aja. Nemu sup krim Royco! Ini salah satu sup krim favoritku. Kalau aku sakit, Bunda bikinin sup krim instan satu ini. Nadia kecil suka sup ini dibandingkan bubur karena lebih kaya rasa. (Ya iyalah, penuh MSG!) Singkat cerita, aku menuju dapur dan memanaskan air. Petunjuk pembuatannya: 1. Masukkan sup krim instan ke panci yang berisi dua gelas air 2. Didihkan sambil terus diaduk 3. Sajikan Oke, gampang banget. Setelah menunggu beberapa saat, supku jad...

Suara Khusus

9 Different Voices Women Use - Video  perempuan, suara,  Malam ini nonton video di atas (lagi) gegara menyadari sesuatu. Aku baru sadar suaraku cenderung rendah ketika berbicara dengan teman-teman. Kalau mulai nyerocos, suaraku naik dengan sendirinya dan tak jarang terdengar cempreng. Nah, tadi aku baru menemukan satu suara khasku: suara saat ngobrol dengan anak kecil . Di tengah jalan, aku ditanya oleh seorang anak, "Halo, kak. Kakak mau laundry?" Hm, pertanyaan yang cukup aneh. Barangkali keluarganya buka usaha penatu. "Nggak, Adik. Kakak baru aja taruh cucian di depan. Makasih, ya."  Suaraku tadi...haluuus banget. Nggak terlalu tinggi, nggak terlalu rendah. Suaraku tadi manis sekali. ♡♡♡ Nah, mungkin aku otomatis menyesuaikan diri dengan lawan bicara. Lawan bicaraku anak-anak, anak-anak itu manis, jadi aku juga harus terlihat manis (?) Hahaha analogi yang konyol! Well, well. Menyinggung lagi video yang tadi, aku jadi penasaran suara talking-to-your-bae ...

Penjual Bubur Sumsum

Hari ini aku berjumpa dengan penjual bubur sumsum keliling di depan kosanku. Penjualnya pemuda kecil dan kurus. Tebakanku, sih, masih SMA. "Mas, bubur sumsumnya satu, ya." "Oh iya, Mbak." "Berapa?" "Lima ribu." Ia membuka tutup wadah buburnya dan tampaklah jualannya masih berlimpah, padahal hari telah sore menjelang petang. "Mbak maba, ya?" "Wah, hahaha, bukan, Mas. Saya mah udah tingkat akhir." "Oooh, asli mana, Mbak?" "Asli mana, ya. Campur-campur, sih. Saya Jawa-Minang. Sumatra." "Oalah. Kalau Jawanya?" "Jogja." "Deket sama kampung saya, Mbak. Saya Cilacap." "Oalah. Kalau naik kereta enam jam kali, ya?" "Kalau naik bus, sih, sehari semalam, Mbak. Tapi katanya naik kereta udah murah, ya?" "Wah, nggak juga, Mas. Masnya sendiri masih sekolah? SMA?" "Saya masih SMP, Mbak. Tapi nanti mau sekolah di UI juga." "Aamiin, a...

Senior cerdas

Kemarin Aku mendapati sosoknya tengah serius dengan buku di perpustakaan Hari ini Aku berjalan tepat di belakangnya Dan dia masih saja tidak sadar Ingin rasanya aku menyapa Tetapi takut dia lupa Cuma mau bilang, "Hai, kak. Selamat atas kelulusannya, ya." Palingan dia senyum, mengucapkan terima kasih, lalu berlalu Dia bukan tipe orang yang senang basa-basi Kendati begitu, auranya tetap terpancar terang Menjelma magnet yang memerangkap gadis-gadis kutub negatif sepertiku Siapa dia? Bukan siapa-siapa. Hanya seorang senior yang kukagumi karena kecerdasannya. Cinta? Siapa yang tahu. Barangkali tidak. Atau barangkali iya pada suatu saat.

Kena modus di halte Transjog

Sore tadi di halte Transjogja SMP 5, aku menunggu bus rute 3A. Kondisi halte saat itu penuh sesak. Aku bersama rombongan mahasiswa yang entah dari mana. Kulihat beberapa kaus mereka bertuliskan fotografi dan JFMI Solo. Mereka ternyata sedang menunggu bus yang sama denganku. P: Kita nanti turun di mana, ya? Malioboro kan haltenya ada tiga. L: Ya nggak tahu. Mau foto di ujung Malioboro itu kita, kan? N: Turun di halte Malioboro 1, Mbak. P: Oh iya, makasih ya, Mbak. N: Rombongan dari Solo, toh? L: Pasti karena ngelihat kaus ini, kan? (menunjuk kaus yang dipakainya) Bukan, Mbak. Kami dari Lombok. Ikutan jambore di Solo. N: Ooh, sudah berapa hari di Jogja? P: Baru juga sampai tadi, Mbak. L: Kabar buruknya, Mbak, besok kami pulang. N: Oalah...  Sehabis itu aku manggut-manggut saja terdiam, sementara mereka melanjutkan percakapan dengan hebohnya. Beberapa percakapan mereka mengundang tawaku. Melihat aku tertawa, si L nimbrung. L: Maklum, Mbak. Di Lombok nggak ada beginian....

Tiga lagu

Malam hari di kediaman Eyang bulan Januari lalu. Aku memutar tiga lagu yang kumainkan berulang, yakni Untitled - Maliq D'essentials, Dekat Di Hati - Ran, dan Menjadi Lebih Indah - Adera. Saat kutenggelam dalam sendu Waktu pun enggan untuk berlalu Kuberjanji untuk menutup pintu hatiku Entah untuk siapa pun itu Iya, itu dulu sebelum kau hadir. Dasar, jiwaku tak pernah kapok bila menyinggung cinta. Mulai detik itu kuizinkan kau membuka pintu hatiku walaupun kau tak pernah memintanya. Bila cinta kita tak kan tercipta Ku hanya sekedar ingin tuk mengerti Adakah diriku singgah di hatimu Dan bilakah kau tau Kaulah yang ada di hatiku Waktu itu aku sibuk menebak-nebak siapa yang kau suka. Lirik adakah ku sedikit di hatimu benar-benar mengusik jiwa sampai terbawa mimpi. Hari ini aku memutar lagu ini lagi dengan kondisi yang sama. Masih menebak-nebak, tetapi tidaklah sepenasaran dulu. Mungkin sudah berganti pasrah. Bila aku bukan yang ingin kau miliki juga tak mengapa. Yo masa maks...

Merasa tertinggal

Baru aja mendingan dikit, eh, malah cari penyakit dengan bahas skripsi. Alhasil kliyengan lagi. Entahlah, aku jadi tertekan setiap mendengar teman yang habis pulang konsul, teman yang nemu topik baru, dan lainnya. Semakin merasa tertinggal di belakang. Skripsi itu dikerjakan, bukan hanya dipikirkan. Kerjakan apa yang kamu sukai, kata seorang kawan. Akan tetapi, bagaimana caraku mengerjakan apa yang aku sukai bila aku saja tidak tahu apa yang aku suka? Allahu... Jadi bagaimana? Salam, Nadia Almira Sagitta

Sakit stres

Nggodok air sendiri, bikin teh, dan bikin "kaca penghangat". Kaca penghangat itu botol kaca yang berisi air panas lalu diselimuti kain untuk kemudian ditempelkan ke perut. Ibuku selalu memberikanku kaca penghangat kalau aku sakit mag. Pakai jaket tebal, matikan kipas angin, dan selimutan. Mutar lagu mellow, berbaring dengan kaki ditekuk, dan mata menerawang jauh. Nelangsa, cuy. Kamu, teh, stres sedikit nggak bisa karena langsung sakit. Stres itu penyakit mahasiswa yang kudu dihindari. Banyak penyakit yang bercabang dari stres. -- Kangen asrama SMA 17. Kangen Mutiara, kangen Oting, kangen Nina, kangen Emma, kangen Rian, kangen Pite, kangen Itha, kangen Suci, kangen Amel, kangen Bu Ipa, kangen Mbak Indah, kangen Mbak Siti, kangen Daeng Pajja, kangen banyaaaaak. MasyaaAllah. TvT Semoga kalian di sana sehat sentosa, ya. I miss y'all. ♡ Cheers, Nadia Almira Sagitta

Emoskrip

Emosi sedang terguncang. Sedikit-sedikit mau nangis. Gegara skripsi. Kena migraine, nangis Padahal kena migraine gegara nangis juga Kena mag juga mau nangis Apalagi ditambah kehujanan di tengah jalan Rasanya, tuh, mau bersimpuh dibasahi air hujan dan teriak, "Kenapa, ya Allah?" (oke dramatis, abaikan) Entahlah. Pulang-pulang dari kampus bukannya mendapat pencerahan, malah bertambah pusing. Semangat dari teman-teman dan dosen malah membuat migraineku menjadi-jadi.   Ini hanya masalah tiga setengah atau empat tahun. "Bagaimana skripsimu?" "Entahlah, aku berpikir untuk empat tahun." "Loh, kenapa? Yah, Nadia aja mundur...gimana aku. Jadi takut." "Jangan. Topik kamu sudah tetap, kan? Aku yang belum." Ah, tidak bisakah kalimat "Nad saja begini..." itu ditanggalkan? Itu malah membuat aku makin berat. Apabila kau dianggap jago oleh kawan-kawanmu, kau tentu tahu bebannya seperti apa. Masa, sih, seorang dia tidak bisa...

Dinasihati Melalui Mimpi

Semalam aku bermimpi. Seorang teman yang mengenal kita berdua tiba-tiba mengomentari status Line-mu mengenaiku. Entah apa yang kau tulis itu, ia berkomentar tentang kita. Ia menyinggung aku dan kau. Kalimatnya begitu menohok. Sayangnya, di mimpiku, kau begitu pandai mengelak. Padahal, kau bisa saja diam dan mencerna dengan baik kata-katanya. Akhir-akhir ini aku memimpikanmu, Tuan. Temanya berganti-ganti disesuaikan dengan keadaan hatiku malam sebelumnya.  Kali ini, kurasa Allah memberikan jawaban (atau peringatan) padaku, entah padamu. Apa kau juga sempat memimpikanku? Salam, Nadia Almira Sagitta