Skip to main content

Posts

Showing posts with the label dokumentasi bahasa

Beauty is diverse

"Nature needs its ecologist, language needs its linguist. Endangered species need their conservationist, thus endangered languages need their language documentalist and revivalist." (Nadia Almira Sagitta) Haha, entah bahasa Inggrisnya betul atau tidak, hanya mau menyuarakan pendapat saja. Ada yang bilang, untuk apa menyelamatkan bahasa daerah (bahasa minor), toh kepunahan bahasa itu alami. Well, same goes with, "Why do we have to preserve endangered species? Their extinction is a natural process, anyway." Nyatanya, kan, kita tetap bekerja keras untuk menyelamatkan suatu ekosistem karena ada value atau nilai yang terkandung di dalamnya. Tentu saja hal yang sama berlaku pada bahasa. Tiap bahasa punya nilai, punya kearifan lokal, punya keindahan. Keindahan. The diversity of beauty, beauty is diverse. Pernah dengar kalimat itu, kan? Bukankah memang indah kalau kita hidup dikelilingi oleh keragaman? Keragaman budaya, keragaman bahasa, dan keragaman pikiran? Jadi ya,...

Kepunahan Bahasa

Pagi ini mengamati debat seru di Tumblr Qwanqwa tentang kepunahan bahasa. Salah seorang admin Qwanqwa, seorang linguis historis, memberikan pandangan yang heartless menurut saya, "Tenanglah, kepunahan bahasa itu alami. Nature doesn't give a fvck. It's not a giant issue. Jika bahasa terdokumentasi dengan baik, kita tidak benar-benar kehilangan bahasa itu." Ahahaha, patah hati saya membacanya. Namun, tidak mengapa. Katanya, sains tidak bisa dicampuradukkan dengan masalah personal dan emosi. Saya tidak setuju dengan poin admin Qwanqwa yang menyatakan bahwa bahasa itu hanya permainan fonologi dan morfosintaksis yang diikat dengan makna. Karena definisi bahasa didasarkan pada lingkup itu saja, dokumentasi tanpa revitalisasi bahasa pun sudah cukup, itu menurut mereka. Padahal, bahasa itu alat: alat untuk berkomunikasi. Bahasa itu sekaligus wadah: wadah yang menyimpan kekayaan intelektual. Maka dari itu, ketika suatu bahasa berhenti digunakan maka bahasa itu telah pun...

Pendokumentasi Bahasa

Hari ini aku merasa sangaaaaaaat lega. Kenapa?  Kemarin aku berdiskusi dengan Ayahku menyoal kontribusi warga negara terhadap negaranya. Aku sempat khawatir dicap pembelot apabila bekerja pada lembaga asing. Diskusi kami bisa dilihat di sini. Berangkat dari setumpuk kekhawatiran, aku menelusuri kembali situs www.hrelp.org--suatu proyek pekerjaan impianku--dan mengaduk-aduk informasi program ELDP. Di situs tersebut, aku menemukan ini: "We provide grants for the linguistic documentation of endangered languages worldwide. Anybody with qualifications in linguistic language documentation can apply as we have no restrictions on the nationality of the applicant or on the location of the host institution."

Film Bahasa LIPI

sumber gambar: LIPI "Jangan terlalu dengan bahasa sendiri atau bahasa Pagu, nanti kamu tidak tahu bahasa Indonesia." "Nanti kamu tidak tahu membaca dan menulis, berhitung, maka itu mereka tidak berbahasa daerah di sekolah." "Su kalau tidak belajar berarti akan, eh, hilang bahasa itu dengan sendirinya." "Menurut pengamatan beta bahwa bahasa ini kalau tidak dibangunkan berarti sepuluh tahun mendatang hanya sisa sepenggal, dua puluh tahun mendatang teng ngada." Menyedihkan, ya? Ternyata, pendokumentasian bahasa itu penting sekali. Namun, janganlah hanya mendokumentasikan, kita perlu berputar otak agar bahasa itu tetap hidup di masyarakat. P2KK LIPI mengadakan pemutaran film bahasa, khususnya tentang bahasa Maluku, di LIPI Gatot Subroto. Tonton trailer-nya di sini ! Pemutaran film diadakan hari ini dan besok pukul 10.00--16.00 di gedung Widya Graha Lt. 6 LIPI. Kalau tidak salah, pemutaran film bahasa itu diputar hari Minggu...