Skip to main content

Posts

Papan kayu

Oleh: Nadia Almira Sagitta Derit papan kayu yang dulu kuinjak Kini tak ada lagi, sunyi Kucoba untuk berlari-lari di atasnya Namun suara itu tak timbul jua Apa aku sudah sedemikian ringan? Kutolehkan kepalaku ke arah bawah Terkejut menyadari, kedua kaki ini tak lagi menempel di atas lantai...

Rasa penasaran itu

Oleh: Nadia Almira Sagitta “Laa ilaaha ilallah” Semayup tahlil bergema Ada raga yang berpulang ke Tuhannya? Kudekati sumber suara yang mengusik rasa penasaran “Siapa, pak?” “Anu, kurang tahu juga tuh, Novi. Mayatnya udah hancur ketika ditemukan.” Innalillah, aku berucap dalam hati Tanpa banyak cakap, aku mengiringi jenazah hingga ke liang kubur Ditemani wajah-wajah sendu memegang payung hitam Berbusana hitam pekat Ah, muram sekali Siapakah almarhum? *Lahir: 5 Juni 1977 #Wafat: 22 April 2001 Sayang sekali, masih muda Rasa-rasanya aku tahu gerangan dirinya Tunggu! Nama diri… ROY PRAKOSO BIN RAHMAT YAHYA Itu… aku? Perlahan, tubuhku mendadak ringan Mengangkasa ke langit tertinggi Meninggalkan kerumunan yang perlahan mengecil Menjadi titik-titik hitam yang kerap menangisi kepergianku

Kehampaan diri

Oleh: Nadia Almira Sagitta “Bosan aku dengan penat Dan enyah saja kau pekat Seperti berjelaga jika ku sendiri…” Kosong Kosong Kosong Kosong OOOOOOOO OOOOOOOOOO OOOOOOOOOOOOO OOOOOOOOOOOOOOOO OoooooooooOooooooooooo Dalam kekosongan jiwa Di dalam kesenyapan bahana Kehampaan hati Kiri-kanan Atas-bawah Tak kutemukan sesiapa Kosong pun sepi - Aku sendiri - HALO?! Halo Alo Lo Lo Oo O?! Kadang kucerca dunia Sungguh betapapun tak adil Kesendirian? Ah, siapa pula yang ingin Tak jua diriku Aku ingin seseorang, kamu, mereka Ah tidak, aku ingin… keramaian Biarkan hirukpikuk merasuk nuraniku Mengusir keheningan yang berurat-akar Adakalanya aku tersenyum Pada kamu dan kalian Tetapi pernahkah mencari tahu... Hatiku ini kosong! Pun hidupku. Tak sadarkah senyum itu hanya topeng belaka? Namun rasanya kamu dan kalianpun tak berniat untuk tahu Disebabkan ketid...

Dengan Puisi, Aku

Oleh: Taufiq Ismail Dengan puisi, aku bernyanyi Sampai senja umurku nanti Dengan puisi, aku bercinta Berbatas cakrawala Dengan puisi, aku mengenang Keabadian yang akan datang Dengan puisi, aku menangis Jarum waktu bila kejam mengiris Dengan puisi, aku mengutuk Nafas zaman yang busuk Dengan puisi, aku berdoa Perkenankanlah kiranya

Tentang Seseorang

Kulari ke hutan, kemudian menyanyiku Kulari ke pantai, kemudian teriakku Sepi... sepi dan sendiri aku benci Aku ingin bingar, aku mau di pasar Bosan aku dengan penat Dan enyah saja kau pekat! Seperti berjelaga jika aku sendiri Pecahkan saja gelasnya biar ramai Biar mengaduh sampai gaduh! Ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang di tembok keraton putih Kenapa tak goyangkan saja loncengnya biar terdera Atau aku harus lari ke hutan belok ke pantai? *dikutip dari film AADC

Untuk yang Kedua Kali

Sudah lama, aku menyimpan perasaan ini, sendirian. Walaupun sempat terganti untuk sekian waktu Tersingkir dari benakku, enyah dari pikirku Namun ia kembali lagi Memunculkan perasaan yang sama Untuk kedua kali... Rasa deg-degan ketika berbicara dengannya Senyum terkembang kala melihat dirinya Belenggu rindu di tiap malamku, Kembali mewarnai hari-hari Untuk yang kedua kali.... Kamu bertanya, "Tidakkah diriku lelah menghadapi cinta ini? Dengan kesendirian, ketidakpastian?" Mungkin, bibir ini bergerak dan berkata, "Iya, lelah, sangat. Secepatnya aku ingin membuang perasaan ini." Tahukah kamu yang sebenarnya? Hati ini tidak mengenal kata lelah. Hati ini tidak mengenal putus asa, Karena selalu ada cinta di sana. Cinta yang tanpa sengaja ia tebarkan padaku Dalam ketidaktahuannya, ia telah menyemai bibit cinta yang selama ini terkubur jauh di dasar sana... Kembali memunculkan perasaanku terhadapnya. Untuk yang kedua kali... Sudah dua kali, hati ini melempar jangkarnya di...