Skip to main content

Posts

Kamu Cinta Indonesia?

Kemarin melihat pertandingan bola di televisi antara Indonesia dan Inter Milan. Pertandingan berakhir 0-3 untuk Indonesia. Miris, ya? Tapi bukankah mereka telah berjuang dengan segenap kemampuannya? Lantas, mengapa kita tidak bisa menghargai jerih payah mereka? Ketika tim Indonesia mencetak gol, mereka semua dielu-elukan. Namun jika tidak, berbagai umpatan, celaan, semuanya ditujukan kepada mereka juga. Sebagai suporter kita tergolong aneh, bukan? Menyemangati setengah-setengah. Tidaklah heran kalau saya mengecap mereka tidak cinta kepada Indonesia tanah air sendiri. Bagi yang menjawab, "Ah tidak, saya cinta sama Indonesia, kok!" Hmm, buktinya apa? Seberapa seringkah kamu mengenakan hasil kebudayaan Indonesia? Batik? Jarang? Maka jangan salahkan Malaysia -negara tetangga- yang mengakui batik sebagai warisan budayanya. Mereka mungkin lebih mencintai batik dibandingkan kita yang notabene adalah warga Indonesia sendiri. Masih sering menyontek ketika ulangan? Itu salah satu bukti...

Papan kayu

Oleh: Nadia Almira Sagitta Derit papan kayu yang dulu kuinjak Kini tak ada lagi, sunyi Kucoba untuk berlari-lari di atasnya Namun suara itu tak timbul jua Apa aku sudah sedemikian ringan? Kutolehkan kepalaku ke arah bawah Terkejut menyadari, kedua kaki ini tak lagi menempel di atas lantai...

Rasa penasaran itu

Oleh: Nadia Almira Sagitta “Laa ilaaha ilallah” Semayup tahlil bergema Ada raga yang berpulang ke Tuhannya? Kudekati sumber suara yang mengusik rasa penasaran “Siapa, pak?” “Anu, kurang tahu juga tuh, Novi. Mayatnya udah hancur ketika ditemukan.” Innalillah, aku berucap dalam hati Tanpa banyak cakap, aku mengiringi jenazah hingga ke liang kubur Ditemani wajah-wajah sendu memegang payung hitam Berbusana hitam pekat Ah, muram sekali Siapakah almarhum? *Lahir: 5 Juni 1977 #Wafat: 22 April 2001 Sayang sekali, masih muda Rasa-rasanya aku tahu gerangan dirinya Tunggu! Nama diri… ROY PRAKOSO BIN RAHMAT YAHYA Itu… aku? Perlahan, tubuhku mendadak ringan Mengangkasa ke langit tertinggi Meninggalkan kerumunan yang perlahan mengecil Menjadi titik-titik hitam yang kerap menangisi kepergianku

Kehampaan diri

Oleh: Nadia Almira Sagitta “Bosan aku dengan penat Dan enyah saja kau pekat Seperti berjelaga jika ku sendiri…” Kosong Kosong Kosong Kosong OOOOOOOO OOOOOOOOOO OOOOOOOOOOOOO OOOOOOOOOOOOOOOO OoooooooooOooooooooooo Dalam kekosongan jiwa Di dalam kesenyapan bahana Kehampaan hati Kiri-kanan Atas-bawah Tak kutemukan sesiapa Kosong pun sepi - Aku sendiri - HALO?! Halo Alo Lo Lo Oo O?! Kadang kucerca dunia Sungguh betapapun tak adil Kesendirian? Ah, siapa pula yang ingin Tak jua diriku Aku ingin seseorang, kamu, mereka Ah tidak, aku ingin… keramaian Biarkan hirukpikuk merasuk nuraniku Mengusir keheningan yang berurat-akar Adakalanya aku tersenyum Pada kamu dan kalian Tetapi pernahkah mencari tahu... Hatiku ini kosong! Pun hidupku. Tak sadarkah senyum itu hanya topeng belaka? Namun rasanya kamu dan kalianpun tak berniat untuk tahu Disebabkan ketid...

Dengan Puisi, Aku

Oleh: Taufiq Ismail Dengan puisi, aku bernyanyi Sampai senja umurku nanti Dengan puisi, aku bercinta Berbatas cakrawala Dengan puisi, aku mengenang Keabadian yang akan datang Dengan puisi, aku menangis Jarum waktu bila kejam mengiris Dengan puisi, aku mengutuk Nafas zaman yang busuk Dengan puisi, aku berdoa Perkenankanlah kiranya

Tentang Seseorang

Kulari ke hutan, kemudian menyanyiku Kulari ke pantai, kemudian teriakku Sepi... sepi dan sendiri aku benci Aku ingin bingar, aku mau di pasar Bosan aku dengan penat Dan enyah saja kau pekat! Seperti berjelaga jika aku sendiri Pecahkan saja gelasnya biar ramai Biar mengaduh sampai gaduh! Ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang di tembok keraton putih Kenapa tak goyangkan saja loncengnya biar terdera Atau aku harus lari ke hutan belok ke pantai? *dikutip dari film AADC