Skip to main content

Posts

Kegemaran yang sama

Buongiorno, Signor. Aku lagi tergila-gila dengan Kenzie Nimmo dan suaminya. Menurutku, mereka itu pasangan yang serasi. Sama-sama bersuara indah, sama-sama cantik dan tampan, pokoknya klop, deh! :) Seketika, aku mengingatmu. Sepertinya lucu kalau suatu hari nanti, kita menghabiskan akhir pekan dengan melakukan kegemaran kita bersama-sama. Mengisi waktu luang di rumah dengan segelas teh hangat untukku dan cappuccino untukmu. Lalu, kita duduk di sofa dan kau merangkulku. Kutebak, aku akan menjadi wanita paling beruntung di dunia karena mendapatkan perlindungan di sisimu. Melengkapi setengah dien-mu. Kurasa, kau pun akan bersyukur karena telah menemukanku. Iya, kan? Akuilah. ;) Kembali ke Kenzie Nimmo, aku memang ingin mendapatkan pasangan yang memiliki hobi serupa denganku. Siapa tahu kita bisa sukses di bidang yang sama. Who knows. Mengarang buku bareng, mungkin? Mengajar mata kuliah yang sama, mungkin? Seperti guru SMA-ku dahulu. Namanya Bu Ariyanti dan Pak Safar. Mereka be...

Seharusnya cinta

Cinta tidak seharusnya membuat kamu jatuh, terluka, dan tak berdaya. Itu bukan cinta. Cinta seharusnya menguatkan, memompa semangat, dan memberi hal-hal positif lain. Seharusnya. Seharusnya cinta. Mengapa aku belum menemukan cinta yang sesempurna itu? Mengapa masih saja gundah dan gulana Mengapa masih saja menoreh luka dan mengurai airmata Mengapa masih saja menyemai harapan tak berujung Mengapa masih saja? Allahu rabbi... Haruskah kugembok pintu hatiku rapat-rapat hingga datang sang pemegang kunci di suatu waktu nanti?  Sumber gambar Medan, Juli 2014

Merangkai mimpi

Pukul 01.33 pagi. Ditemani tablet berdaya 11%, aku baru saja selesai membaca blog seorang kawan. Tulisannya mempunyai ruh yang kuat bernama semangat. Aku kembali merefleksi diri, mengajak segenap tubuhku untuk bersyukur dan merapikan mimpi-mimpi. Mimpi. Aku seorang gadis yang memiliki banyak mimpi. Sayang, tidak kuguratkan mereka dalam tulisan. Hingga mimpi itu begitu saja datang dan pergi. Terlupa. Padahal, seharusnya mimpi-mimpi itu dapat kurangkai, kucoret, atau bahkan kusimpan. Membaca blogmu, kawan, tebersit inginku untuk menuliskan mimpi-mimpiku. Menikmati tulisanmu, kawan, aku tersadar betapa aku hidup selama ini seperti robot saja. Sibuk ini dan itu hingga aku lupa membahagiakan diri sendiri. Aku butuh waktu untuk diriku sendiri rupanya. Sama sepertimu yang menemukan kebahagiaan melalui kuncup-kuncup bunga. Aku tak ubahnya seperti gadis remaja yang sibuk berkeliaran mencari jati diri. Hah, padahal usiaku ini sebentar lagi menjejak tangga kedua puluh. Nyaris dua puluh ta...

27 Detik

"Halo?" "...halo." "Hai, mengenai pertanyaanku tadi bagaimana? Sudah adakah hasilnya?" "Iya, jadi kelas ini... blablablabla." ... "Terima kasih ya atas bantuannya." "Sama-sama." (klik) Butuh waktu sepersekian detik untuk mencerna apa yang baru saja terjadi. Dia meneleponku! Bolehkah aku terbang ke langit-langit kamar? *** Tidakkah kau sadar ia hanya datang saat ia membutuhkanmu? sumber gambar

Teman Apel

Halo lemon, anggur, mangga, lengkeng, dan kurma! Bagaimana jika kutambahkan sesuatu yang baru dalam mangkuk es buah kita? Perkenalkan, semangka! :9 ...Selamat berbuka puasa! ( Well , sebenarnya aku belum benar-benar berbuka) Semangka Sumber gambar Apel Sumber gambar

Anak Baru

Hai, anak baru. Janganlah kau patahkan lagi hatiku yang sudah berulang kali ditempa ini. Jangan pula kau beri harapan seperti yang lalu-lalu. Jangan. Aku tak tahu lagi bagaimana harus menyikapimu. Kau kira hati yang retak mudah disembuhkan?