Skip to main content

Posts

Basuh kuyup

Kuraih gagang shower dan mulai menyalakan air. Mengguyur. Mengguyuri puncak kepalaku. Kubiarkan serta-merta turut mengguyur masalah-masalahku. Mengguyuri wajahku. Mengaliri kelopak mataku yang menutup, pipiku, lalu meluncur ke bibirku yang setengah terbuka. Kamu. Mengapa aku tak henti mengkhawatirkanmu? Malam ini aku bermimpi kamu sakit hingga harus dirawat inap. Baik-baik sajakah kamu? Ah, larut dan larutlah segala asumsi buruk sampai tiada bersisa. - Kuyup sekujur tubuh Tetapi belum lega Sebab jiwaku belum ikut terbasuh Dan kamu, Masih saja setia duduk di situ.

Berputar

Sudah, ya. Bagaimana jika kita sudahi saja? Biar kita fokus. Biar aku tak perlu terbebani dengan perasaan. Biar kamu tak ada lagi yang ganggu. Toh, kita berputar-putar saja. Pusing. Keliling. Bundaran. Kita tidak ke mana-mana Putus rute kita Kita tak lagi punya arah tujuan Maka hentikan langkah kita sejenak Sampai jernih pikiran kita Terapus kepanikan kita Disingkapkan jalan lurus 'tuk kita ... Agar tak perlu ada lagi senyum dan bahagia yang semu

Friend's Wedding Prep: Skincare

Hi, fellas! Kali ini aku mau cerita pengalaman belanja-belanji bareng sahabatku yang bentar lagi akan menikah. Yuhu! (wink) Panggil dia O. O: Nadia, ketemu yuk! Aku mau belanja skincare , nih. N: Yuklah! (ajak aku berburu skincare dan kosmetik, aku dengan senang hati menemani) Kami menuju supermarket terdekat dan langsung menuju rak toiletries . Macam-macam produk yang kami perhatikan, mulai dari day cream, night cream, olive oil, masker wajah, lulur, body butter, lotion,  pelembab bibir, masker rambut, de es te. Selama berbelanja, aku cerewet memberi saran dan pertimbangan. "Ini perlu lho, udahlah ambil aja kan murah, maskeran tuh dua kali seminggu, aih yang ini nggak bagus, de el el." Hahaha, maafkan Nanad yang ceriwis ini ya, O!

Perihal Waktu

udut pandang orang pertama tetapi tak selamanya merujuk kepada penulis Waktu itu membiasakan. Dulunya candu akan kabar satu sama lain, kini terbiasa tak mendengar sepatah kata pun dari seberang. Dulunya cemburu tanpa alasan, kini otak bertindak lebih rasional. Dulunya tak lihai mengerjakan ini dan itu, kini karena adanya keharusan, pekerjaan tersebut menjadi kebiasaan. Waktu itu mendamaikan. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya aku memutuskan untuk berdamai dengan masa lalu. Masa lalu itu berarti menyangkutpautkan engkau, orang-orang di sekitarmu, serta lingkunganmu. Aku belajar memupuskan benci karena tahu itu tak ada guna melainkan hanya memberat-beratkan hati saja. Semalam aku bertemu dengan dia, gadis dambaan jiwa yang sering kau ceritakan. Menurut silsilah yang kutahu, gadis itu kawanku walaupun belum juga terbilang sahabat. Sementara, menurut emosiku, gadis itu adalah rivalku, sainganku. Sepatutnya, aku tak berbasa-basi dengannya karena melihatnya saja mengingatkanku ...

Perihal Waktu

udut pandang orang pertama tetapi tak selamanya merujuk kepada penulis Waktu itu membiasakan. Dulunya candu akan kabar satu sama lain, kini terbiasa tak mendengar sepatah kata pun dari seberang. Dulunya cemburu tanpa alasan, kini otak bertindak lebih rasional. Dulunya tak lihai mengerjakan ini dan itu, kini karena adanya keharusan, pekerjaan tersebut menjadi kebiasaan. Waktu itu mendamaikan. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya aku memutuskan untuk berdamai dengan masa lalu. Masa lalu itu berarti menyangkutpautkan engkau, orang-orang di sekitarmu, serta lingkunganmu. Aku belajar memupuskan benci karena tahu itu tak ada guna melainkan hanya memberat-beratkan hati saja. Semalam aku bertemu dengan dia, gadis dambaan jiwa yang sering kau ceritakan. Menurut silsilah yang kutahu, gadis itu kawanku walaupun belum juga terbilang sahabat. Sementara, menurut emosiku, gadis itu adalah rivalku, sainganku. Sepatutnya, aku tak berbasa-basi dengannya karena melihatnya saja mengingatkanku ...

Teringat Kau

Godaan-godaan lucu datang silih berganti dari teman-teman aku ikut menertawakan kekonyolan malam ini sesungguhnya tak terjadi apa-apa tetapi kubiarkan saja untuk lelucon sepintas lalu Andai saja engkau tahu, sepanjang perjalanan tadi aku mengingat kau seorang aku membuka-buka seluruh media lalu bertanya mengapa tak ada ceritamu hari ini mengapa begini dan begitu terlalu banyak tanyaku merisaukan hati menggelisahkan pikiran

Atas semuanya, terima kasih

Dulu aku memanggilmu Cinta, ya? Ehehehe. Maklumilah, kala itu aku benar-benar sedang jatuh hati. Malam ini tak sengaja aku menelusuri foto-foto lama di Instagram dan memo-memo kuno di ponsel. Di antara semua kenangan itu, kutemukan bayanganmu seorang. Hal itu menggerakkan jemariku untuk membaca kembali tulisan tentangmu di blog ini. Betapa luasnya topik mengenaimu sampai-sampai jumlah tulisanku terlampau banyak pada tahun lalu. Tulisan yang bernada curhatan itu mendatangkan pelajaran untuk diriku karena sungguh masih relevan dengan keadaan saat ini. Terima kasih atas pelajarannya. Bahwa kita tak boleh mencinta dengan berlebihan. Terlalu dalam, padahal belum menjadi siapa-siapa. Atas riang gembiranya gundah gulananya juga sedu sedannya, terima kasih pula.