Skip to main content

Posts

Hampa

Oleh: Nadia Almira Sagitta diam. diam, diam, diam. hanya bisa terdiam. terdiam membisu sunyi. sunyi, sunyi, sunyi. sunyi senyap, hidup dalam sunyi. sepi. sepi, sepi, sendiri. hidup mencoba mandiri, tak ada yang menemani. aku sendiri, tenggelam dalam sepi. hidup dalam kesendirian hidup bertemankan kesunyian hidup tanpa sanggup berkata-kata hidup sebatang kara. mencoba memaknai hidup dalam hening. memaksakan tuk kenal dekat dengan lengang. membiasakan diri dengan kekosongan. membiarkan diriku didampingi oleh kehampaan.

Cinta pada pandangan pertama

Oleh: Nadia Almira Sagitta 2 bola mata indah itu Senyum lepas milikmu, begitu memikatku Kamu dengan tubuh molekmu, yang terbalut busana warna pastel itu Memesonakan diriku Rambutmu yang berkibar diterpa angin Cara berjalanmu yang menampakkan kesan anggun Hanya satu kata yang dapat membahasakan dirimu, menawan Satu kombinasi yang tak mungkin terlupakan Walau hanya sekilas, terekam dengan baik dalam memoriku Senantiasa terbayang dalam benakku Menghipnotisku, membuat diriku terpukau akan sinarmu Membuatku jatuh cinta akanmu

Bersedih

Oleh: Nadia Almira Sagitta Tenggelam dalam sepi Terhanyut dalam lara Terhipnotis oleh sendu Terbawa oleh muram Sepi sendiri Duka lara Sedu-sedan Muram durja Bersedih Hanya bisa meratap Hanya dapat tercenung juga terdiam Hanya sanggup menerima kenyataan Tak ada kekuatan untuk mengubah semua Kepala yang tertunduk, pipi yang membasah Mata yang sendu, bibir yang terkatup Semua terpana tak percaya menatap batu nisan di hadapan Bahwa orang tersayang telah pergi dan takkan kembali Meninggalkan diri ini sendiri, tanpa sesiapapun yang ditinggalkan untuk menemani

Hujan

Oleh: Nadia Almira Sagitta Matahari kian memudar Sinar kuningnya berganti gelap Mendung, sesuram hatiku Kilat menyambar-nyambar menghiasi langit sore itu Guntur menggelegar, memecah keheningan Aku memandangi jendela kamar yang basah akan titik air Keheningan suasana menyergap, membuatku mengingat masa lalu Dulu, kala hujan mengguyur bumi pertiwi Kita bermain-main di bawah rinai hujan Tertawa-tawa, berkejaran satu sama lain Hawa dingin sedikitpun tak kita hiraukan Yang penting, senang kita rasakan Tak dinyana, kini kamu pergi meninggalkanku sendiri Memaksaku melewati hujan, tanpa dirimu Hujan tak lagi riang, hujan tak lagi membuatku tersenyum Kini, hujan hanya menguak kenangan lama di hatiku Kenangan antara aku dan kamu…

Cintaku Kepada Pelayan Kafe

Oleh: Nadia Almira Sagitta Kulangkahkan kakiku menuju satu coffee shop terdekat dari kampus. Sore itu, keadaan sangat lengang. Yah, baguslah, dengan demikian aku bisa duduk tenang menikmati coffee latte pesananku. Kuangkat cangkir kopi yang masih panas, persis di depan hidungku, mencium aromanya sebentar, lalu menghirupnya pelan. Nikmat sekali, paduan kehangatan kopi dengan dinginnya hawa di luar sana. Sambil meminum kopi, aku membolak-balik majalah Kawanku terbaru yang kubawa sedari tadi. Bosan membaca, pandangan kusapukan ke tiap sudut kedai kopi ini. Tiba-tiba, pandanganku terhenti pada satu titik. Seseorang. Lelaki. Membawa notes kecil di tangannya. Dengan apron berwarna coklat susu. Sebenarnya biasa saja, ia hanya seorang pelayan di coffee shop ini. Entah apa yang membuatku tertarik padanya. Mungkin karena aku tak pernah melihatnya di sekitar sini. Sepertinya ia pekerja baru. Pandanganku tak lepas daripadanya, kutopang daguku di atas tangan, melihatnya dengan leluasa. Namun, s...

Maaf

Oleh: Nadia Almira Sagitta Ada seorang gadis kecil terduduk di pojok kamar. Ia sedang bersedih, wajahnya muram, kepalanya ditundukkan sedari tadi. Tangannya yang kurus memeluk kedua lututnya, membenamkan wajahnya di sana. Bulir-bulir air mata mengalir, membasahi kedua pipinya… Isakan tangis pun terdengar, menggema di kamar kosong itu. Sedapat mungkin ia mengecilkan suaranya, tapi tak dapat ia lakukan Terlalu sedih, terlalu berat, terlalu sakit untuk ditahan-tahan Sedari tadi bibirnya bergetar meluncurkan kata “maaf” Maaf…Maaf… Maaf…Maaf… Ditujukan kepada seseorang yang entah masih mengingatnya ataukah tidak Tapi sungguh, ia benar-benar meminta maaf Meminta maaf atas perlakuannya terhadap ‘seseorang’ Meminta maaf atas sikapnya selama ini Meminta maaf telah membuat ‘seseorang’ itu bersedih Meminta maaf pabila ia telah menyakiti hati ‘seseorang’ Meminta maaf karena telah mengecewakan hati ‘seseorang’ itu Tak habisnya kata maaf itu mengalir dari mulutnya… ...

Cerita Pendek (Benar-benar pendek)

Oleh: Nadia Almira Sagitta Malam itu, aku diteleponnya. Tumben. “Halo? Eh, besok mau nggak jalan-jalan?” tawarnya. “Jalan-jalan? Mau, mau, mau! Kok tumben?” “Lah, kan janji saya yang waktu itu.” Katanya mengingatkan. “Hah? Janji? Oh, yang itu? Astaga, masih kau ingatnya…” “Ya sudah, besok ya? Jam sepuluh saya sudah ke rumahmu.” “Iya, iya, makasih!” ucapku tertahan, perasaan bahagia ini sudah ingin saja membuncah sedari tadi. Tak dapat lagi kutahan-tahan. Aku mendapati diriku, tersenyum-senyum sendirian. Esok paginya, aku bangun lebih cepat dari biasanya. Hari itu Minggu, jadi wajar saja kalau aku bermalas-malasan di kamar. Tapi tidak untuk hari ini. Hari ini kan aku mau jalan-jalan. Aku sudah selesai mandi, sudah rapi. Aku menunggunya sudah seperempat jam yang lalu. Dia di mana ya? Aku mencoba menghubunginya dengan mengiriminya pesan. Dan ia membalas, “Maaf, masih di jalan. Mungkin 20 menit lagi sampai. Maaf terlambat.” Dan aku tetap duduk menunggunya datang, berkunjung ke rumahku. Sa...