Skip to main content

Posts

Review Salon Tewink

Salon Tewink terletak di dekat Gang Kober, Margonda, Depok. Salon yang mengusung konsep salon muslimah ini merupakan anak bisnis dari Moz5. Saya baru pertama kali ke sana karena dapat kupon gratis. Lumayanlah, jatah salon bulan ini. *v* Pukul 14.30 saya bergegas ke sana. Layaknya Moz5, ada plang berbunyi “Laki-laki dilarang masuk!” tergantung di pintu depan. Hal pertama yang menarik hatiku adalah salah seorang pegawainya berjilbab syar’i! Wih, saya kagum banget. Salon Tewink tidak begitu besar dibandingkan Moz5. Ada beberapa kursi salon di pinggir kiri dan kanan serta dua kursi untuk keramas di ujung tengah. Dinding-dindingnya dihiasi wallpaper bunga-bunga. Feminin sekali dan saya suka. ^^ Pegawai yang melayani saya adalah Mbak Dinda. Belakangan kuketahui dia orang Makassar. Yuhuuu, jumpa lagi dengan kawan sedaerah! Pelayanannya cukup ramah. Sayang, dia masih suka menawarkan perawatan ini dan itu padahal sudah kutolak. Tak apalah.

Just decide

"Rachel, what am I suppose to do?" "Forget what you suppose to do, Dex. Do it what you want to do. Live your own life the way you want to live it. Do you wanna teach? Teach. And do you don't want to be the man who lives in the big house? You hate them, don't be him. Or do. Just decide." (Something Borrowed)

Dermaga

Menelusuri kembali cerita-cerita yang tertulis di blog ini. Sungguh lucu. Tiap tahun, selalu saja terisi dengan cerita cinta yang pahit-asam-manis. Diisi berbagai tokoh dengan karakter yang berbeda. Sepertinya akan terus begitu hingga hatiku menambatkan dirinya pada satu dermaga. Dermaga yang akan menjadi muara kisah hidup baru nan indah. Aku akan berlayar jauh, mengarungi petualangan-petualangan seru, dan akan selalu kembali pelukannya. Ke dermaga yang mengantarkanku pergi dan menyambut saat aku kembali.

Tokoh Utama

Assalamualaikum, Maaf kamu lama kutelantarkan. Akhir-akhir ini aku sedang disibukkan dengan perkuliahan dan kepanitiaan. Sekali-kalinya menulis, malah lari ke Tumblr. Hm, where should I start? Tahukah kamu bahwa kamu menjadi tokoh utama dalam cerpen yang kukarang baru-baru ini? Mata kuliah Penulisan Kreatif 'memaksa' kami mengarang sesuatu. Tema yang kupilih tak jauh-jauh dari cinta dan dari kamu. Aku tahu, tema ini dangkal sekali. Seharusnya aku malu karena tidak juga lepas dari tema berbau remaja seperti itu. Sayangnya, itulah satu-satunya media yang memfasilitasi luahan perasaanku. Suratku ini takkan sampai padamu, tetapi pena dan kertas telah menjadi saksi bagaimana suatu perasaan dilukiskan dalam kata-kata. Tetaplah menjadi tokoh dalam cerita hidupku. Saat ini, besok, dan selamanya. Semoga kaulah jodoh yang dititipkan Allah padaku. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.

Sekali ini menjadi anak nakal

Pukul tiga pagi bersama tugas Penyuntingan yang tak kunjung selesai. Tetiba, aku menghitung-hitung sudah berapa orang yang ingin bertemu denganku. Bahkan, mereka perlu membuat janji terlebih dahulu agar aku meluangkan waktu. Tampaknya serius, dan aku tidak suka. Mengapa aku merasa dikejar-kejar oleh kalian? ... Tidakkah kalian terlalu ikut campur pada hidupku? Biarkan aku menjalani hidupku sebagaimana yang aku mau. Tidak. Kau tidak perlu memilihkan jalan mana yang terbaik. Aku tahu bahwa aku salah, aku hanya ingin menikmati kesalahan yang kubuat sendiri. Belajar menarik hikmah dari keputusan salah yang kuciptakan sendiri. Jangan terburu-buru menarikku ke lingkaran yang benar. Menjadi nakal sesekali itu boleh, kan? Jadi, biarkan aku.  ...tolong, bantu aku mencicipi sedikit kebebasan. Tak usah kau kejar aku lagi.

Terima kasih, Ayah dan Bunda

Kalaulah ada orang yang patut diberi terima kasih, itulah orangtua Kalaulah ada orang yang selalu mendukung mimpi-mimpimu, itulah orangtua Kalaulah ada orang yang kerap mendoakan keselamatanmu, itulah orangtua Kalaulah ada orang yang bekerja keras demi penghidupanmu, itulah orangtua Mereka, dengan berbagai upaya, memenuhi kebutuhan dan keinginan anaknya Tak jarang, mengorbankan kepentingan diri sendiri Semua demi kebahagiaan sang anak Ayah dan Bunda, terima kasih atas kerja keras kalian untuk memenuhi kebutuhan Nad. Sungguh terharu malam ini, ketika kalian menghubungiku bahwa buku-buku yang sekiranya berguna untuk perkuliahanku telah ada. Bahkan, kalian menanyakan spesifik judul buku yang kujadikan acuan. Padahal, sudah ratusan ribu yang keluar dari kantong kalian demi buku-buku itu. Terima kasih atas dukungan kalian terhadap cita-cita Nad. Saya janji, segera kutuntaskan kuliah ini, kuserap ilmu sebanyak mungkin dari universitas ini, dan kulanjutkan pendidikanku setin...