Skip to main content

Posts

"Mending kita' disuka sama orang lain, daripada kita' yang sukaki. Toh, siapa tahu bisa jki' melebur karena rasa sayangnya dia sama kita'." -someone said this to me tonite.  Intinya... percaya saja Allah akan memberikan yang terbaik. Nggak nyambung, sih, sama konteks di atas. ^^

Kukira Tak Ada Lagi Tangis

Aku salah. Kukira aku tak akan menangis lagi karena cinta. Kenyataannya apa? Terus saja aku berharap, terus saja aku menangis. Barangkali, siklusnya baru berhenti ketika aku memutuskan menikah nanti. Tak pernah kukira kau akan membuatku menitikkan airmata. Memang tidak secara langsung, memang tidak kau torehkan luka apa-apa di hatiku. Lantas, mengapa aku menangis? Naifkah bila kukatakan aku terlalu cinta padamu? Wajarkah bila kukatakan aku rindu akan celotehan-celotehan lugasmu? Suatu ketika, aku mendengarmu mengatakan sesuatu. Sesuatu berbau keseriusan masa depan. Mungkin, kau tak ingin bermain-main lagi denganku. Mungkin, kau ingin fokus kepada impian masa depan. Menuntaskan apa yang seharusnya tuntas, meraih apa yang seharusnya diraih. Mungkin, semua itu menarikmu dari lingkaranku. Ya, itu. Aku sedih karena tak tahu harus berbuat apa. Rasa yang semakin membuncah ini bingung harus kusalurkan kepada siapa, kepada apa. Teman-temanku mendengarkan ceritaku dengan setengah hati. Bara...
Aku melewatkan pagiku di kamar. Kedinginan dan meriang bersama cerita-ceritamu. Bolehkah kukatakan cerita kita? Ada dua orang yang bertukar cerita, yakni aku dan kamu. Ya, aku membaca ulang percakapan kita yang telah lalu. Ditemani iringan saksofon One Day yang makin menambah gundah dan gulanaku. Kau... Sadarkah kau telah merebut harta paling berharga milikku?
Apa artinya perbincangan kita selama ini? Adakah ia hanya sebagai pengisi waktu luangmu semata? Adakah ia basa-basi tak bermakna? Aku merasa bingung entah harus berbuat apa. Terlalu banyak hal yang ingin kutanyakan, tetapi aku takut mendengar kenyataan. Semuanya membingungkan dan aku tidak suka. Sungguh, sudah banyak kali hati ini terluka. Aku tidak mau kau menjadi...orang yang melukai hatiku selanjutnya. Kau terlalu baik dan aku percaya kau tidak akan melukaiku. Iya, kan?
Ga kuat, weyyyy. Dah, mau nangis. :( Allah knows best. I know that. But the implementation is harder than I can imagine. Teh Fu, tolong... Proses cleansing itu sulit sekali. :(

Kembang sepanjang jalan

Aku tak tahan. Napasku memburu ketika aku melewati universitasmu malam itu. Dani, kawan seperjalananku, keheranan mendapati perubahan sikapku. "Bian, kamu kenapa?" "..." And you flashback to when he said forever and always "Dan, saya nangis nggak apa-apa, ya?" "Iya, tetapi ada apa?" "Saya...saya mau bertemu dia, Dan. Sekali saja. Kenapa nggak pernah bisa? Sudah lama sekali." It rains when you're here and it rains when you're gone Dani mengembuskan napas saat mendengar jawabanku lalu berkata, "Yah, mau sampai kapan, Bi? Kamu nggak melihat segala kemungkinan yang terbentang di hadapanmu. Kamu..nggak melihatku karena terpaku pada masa lalu." Terkesiap, aku menatap Dani. Sohib yang selalu setia menemaniku ke mana-mana. Kala aku sakit, butuh teman perjalanan, partner belajar, tempat cerita, apa pun itu. Dia selalu ada 24 jam sehari, tujuh hari seminggu. Sementara dirinya? 'Cause one second...