Skip to main content

Bukan ini yang kumau

Bukan cara seperti ini yang kuinginkan. Aku tak pernah mengira akan larut dalam hal-hal kecil semacam ini lagi. Mengulang masa kelam bernuansa merah jambu. Padahal, inginnya aku bertemu masa terang, cerah, chiaro.
Kau datang dan mengisi ruang kosong. Pada mulanya kubiarkan saja. Toh, tempat itu terbuka untuk umum. Semua bebas berlalu-lalang, singgah, lalu pergi. Sampai pada suatu ketika, kau genggam tanganku, menawarkan sebongkah kenyamanan juga keceriaan. Aku ikut saja, aku hanya ingin tahu bagaimana akhirnya. Akan kau bawa ke muara manakah daku.
Aku tak pernah tahu akan seperti apa akhirnya. Apakah airnya akan tenang atau berombak? Apakah kita berhenti di sebuah waduk atau jatuh menurun pada air terjun? Kita tak pernah tahu.
Parahnya, aku percaya saja arah tujuanmu tanpa tahu apakah kau sudah benar-benar menentukan arah. Kurasa, itulah yang dinamakan kepercayaan. Tapi itu bodoh sekali. Kukorbankan diri pada sesuatu yang belum pasti. Hanya bermodalkan rasa percaya pada dirimu, kuikuti gerak permainanmu. Aku percaya kau tak akan menyakitiku.
But, is that true? That you wouldn't hurt me?
Entahlah. Satu yang pasti, jika aku merasa sakit, hal itu tidaklah lain dari kebodohanku belaka. Kau tidak pernah memintaku untuk percaya. Kau tidak pernah menawarkan gambaran-gambaran indah masa depan padaku. Kau tidak memintaku untuk mengikutimu.
Seseorang pernah berkata padaku, "Let it flow, but set the stream you are following to." Aku masih bingung apakah tetap berada di perahu atau berenang kembali ke hulu. Hilirnya tak jelas, aku takut. Ada rasa takut juga tertantang dan penasaran yang menghinggapiku. Di satu sisi, aku tak ingin menambah luka gores pada sekujur badanku bila pada akhirnya aku menabrak karang. Namun, di sisi lain, aku merasa aku tak akan pernah tahu keindahan yang ditawarkan di seberang sana bila bertahan di tempat semula. Aku...yah entahlah. Semoga saja sebentar lagi kutemukan keputusan itu.

Comments

Popular posts from this blog

Irish!

Irlandia. Sebuah kota yang tak terlalu kuketahui keberadaannya sebelum aku berkenalan dengan Emily dan Patrick. Siapa mereka? Tenang, mari kuperkenalkan. Ti presento gli miei amici, Sg. Patrick e Sg.ra. Emily O'Malley! Mereka berdua tokoh dalam game favoritku, Emily's True Love, Emily's Wonder Wedding, dan Emily's Honeymoon Cruise. Both of them are really cute couple! Love them! ♡♡♡ Patrick berasal dari Irlandia. Saat Emily merencanakan pernikahan dengan Patrick, mereka berdua berangkat ke Irlandia. Kota itu sangat indah walaupun hanya terlukis dalam permainan belaka. Legenda yang hidup di kota itu, yakni Lady Mary's Well, juga menarik. Pakaian tradisional mereka yang berwarna hijau kotak-kotak hijau juga sangat cantik. Singkatnya aku penasaran dengan Irlandia. Tiba-tiba saja aku mendapat kabar bahwa Duolingo--aplikasi belajar bahasa--meluncurkan bahasa Irlandia! Selangkah lebih dekat dengan Irlandia, Nad! Selamat belajar, diriku. Hopefully, someday I will meet ...

Autobiografi masuk di Universitas Indonesia

Di tengah asyiknya membicarakan jurusan saat kuliah nanti, “Nad, mau masuk apa pas kuliah?” “InsyaAllah, Sastra Indonesia UI.” “Kok sastra Indonesia, sih?” * * * Pertanyaan itu kerap kali terngiang di telinga tatkala aku menyebutkan jurusan idamanku. Mengapa? Apa ada yang salah? Tak pantaskah aku mengecap ilmu di jurusan yang bertitel sastra Indonesia? Pertanyaan yang begitu merasuk hati, mengganggu. Dalam hati, aku hanya bisa berharap semoga orang tuaku merestui jurusan ini. Namun alangkah sayangnya, ternyata keinginanku ditolak mentah-mentah, apalagi oleh ibuku. Beliau tidak meridai keinginanku berkuliah di jurusan sastra. “Kalau tetap bersikeras kuliah di situ, saya tidak mau membiayai,” MasyaAllah! Apa yang ada di pikiran beliau saat itu? Bagaimana pula aku bisa membiayai kuliah sendiri? Ayah mencoba memberi saran, “Coba Nadia cari jurusan lain. Kamu sudah berbalik arah ke IPS, kan? Jurusan banyak, kok, bukan cuma sastra Indonesia. Apa kamu takut tidak lulus ...

JAFF's Asian Perspectives 2017

sumber gambar The Hose (2017) Mansour Forouzesh 14 menit sumber gambar Seorang guru sekolah dasar, Nobari, mulai menyadari metode hukuman dengan kekerasan fisik yang selama ini digunakannya tidak memberikan efek yang signifikan. Hari itu, Nobari menceritakan perihal metode ajar pada murid-murid dan membuang pecut kesayangannya. Pelajaran hari itu dimulai dengan soal perkalian. Shalbaaf, seorang murid, tidak bisa menjawab pertanyaan Nobari yang membuat Nobari memarahinya di kelas. Keesokan harinya, Nobari membuka kado dari Shalbaaf dengan rasa penasaran yang berganti tegang: kado itu berisi beberapa pecut baru. Nobari gagal mengatur emosinya saat mengajar. Apa bedanya ia menggunakan pecut dan tidak kalau emosi kesalnya terhadap murid masih mendominasi? Kedua hukuman itu sama-sama memicu trauma. Luka dari kekerasan fisik dapat pudar menghilang, tetapi luka dari kekerasan verbal membekas sampai entah. Is he a good teacher on my opinion? Nope. Women of The Weepi...

Bermain Definisi

dok. pribadi jepretan Augita P. R. Di sebuah kafe sepulang kerja, Maharani memilih tempat duduk di dekat jendela. Kafe senja itu sepi. Barangkali menu yang ditawarkan memang tidak cocok untuk pundi-pundi masyarakat Yogya. Ia sendiri hanya memesan kopi, lain tidak. Baru beberapa kali seruput, ia meluapkan tangis di sana, tak peduli pada pelayan yang curi-curi pandang penasaran. Di tengah-tengah, ia menelepon sahabatnya. "Menurut kamu apa definisi cinta?" "Ng, bagiku cinta itu rasa nyaman nan penuh bunga yang mendorong penikmatnya untuk merajut masa depan bersama." "Definisi kamu manis sekali." "Ah, paling kau mencibirku di sana." "Hm, definisimu manis dan aku suka, tetapi terlalu banyak variabelnya. Sederhanakan. Buat definisi yang mencakup seluruh jenis cinta." "Ya ... definisiku memang khusus cinta kepada pasangan hidup." "Itulah. Ayo, susun lagi!" Setelah asyik dengan definisi cinta, nikmat, da...