Skip to main content

Dialog Zainuddin Hayati

"Saya akan berterus terang kepadamu. Saya akan jujur kepadamu. Akan saya panggil kembali namamu, sebagaimana dahulu pernah saya panggilkan. Zainuddin. Saya sudi menanggung segenap cobaan yang menimpa diriku asalkan kau sudi memaafkan segenap kesalahanku."
"Maaf? Kau regas segenap pucuk pengharapanku, kau patahkan, kau minta maaf?"
"Mengapa kau jawab aku sekejam itu, Zainuddin? Sudah hilangkah tentang kita dari hatimu? Janganlah kau jatuhkan hukuman. Kasihanilah perempuan yang ditimpa musibah berganti-ganti ini."
"Iya, demikianlah perempuan. Ia hanya ingat kekejaman orang kepada dirinya walaupun kecil dan ia lupa kekejamannya sendiri pada orang lain padahal begitu besarnya. Lupakah kau siapakah di antara kita yang kejam? Bukankah kau yang telah berjanji ketika saya diusir oleh ninik-mamakmu karena saya asalnya tidak tentu, orang hina-dina, tidak tulen Minangkabau! Ketika itu kau antarkan saya ke simpang jalan, kau berjanji akan menunggu kedatanganku berapa pun lamanya. Tapi kemudian kau berpaling ke yang lebih gagah, kaya-raya, berbangsa, beradat, berlembaga berketurunan. Kau kawin dengan dia. Kau sendiri yang bilang padaku bahwa perkawinan itu bukan paksaan orang lain, tetapi pilihan hati kau sendiri. Hampir saya mati menanggung cinta, Hayati. Dua bulan lamanya saya tergeletak di tempat tidur. Kau jenguk saya dalam sakitku menunjukkan bahwa tangan kau telah berinai bahwa kau telah jadi kepunyaan orang lain. Siapakah di antara kita yang kejam, Hayati? Saya kirimkan surat-surat meratap, menghinakan diri, memohon dikasihani. Tiba-tiba kau balas saja surat itu dengan suatu balasan yang tak tersudu diitik, tak termakan diayam. Kau katakan bahwa engkau miskin, saya pun miskin. Hidup tidak akan beruntung kalau tidak dengan uang. Karena itu kau pilih kehidupan yang lebih senang, mentereng, cukup uang, berenang di dalam emas, bersayap uang kertas!"
"Zainuddin..."
"Siapakah di antara kita yang kejam, Hayati? Siapakah yang telah menghalangi seorang anak muda yang bercita-cita tinggi menambah pengetahuan, tetapi akhirnya terbuang jauh ke tanah Jawa ini, hilang kampung dan halamannya sehingga dia menjadi seorang anak komidi yang tertawa di muka bumi, tetapi menangis di belakang layar?
"Zainuddin..."
"Tidak, Hayati. Saya tidak kejam. Saya hanya menuruti katamu. Bukankah kau yang meminta di dalam suratmu supaya cinta kita itu dihilangkan dan dilupakan saja diganti dengan persahabatan yang kekal. Permintaan itulah yang saya pegang teguh sekarang. Kau bukan kecintaanku, bukan tunanganku, bukan istriku, tetapi janda dari orang lain. Maka itu, secara seorang sahabat, bahkan secara seorang saudara, saya akan kembali teguh memegang janjiku dalam persahabatan itu sebagaimana teguhku dahulu memegang cintaku. Itulah sebabnya dengan segenap rida hati ini, kau kubawa tinggal di rumahku untuk menunggu kedatangan suamimu. Tetapi kemudian bukan dirinya yang kembali pulang tetapi surat cerai dan kabar yang mengerikan. Maka itu sebagai seorang sahabat pula kau akan kulepas pulang ke kampungmu, ke tanah asalmu. Tanah Minangkabau yang kaya-raya yang beradat berlembaga yang tak lapuk di hujan, tak lekang di panas. Ongkos pulangmu akan saya beri, demikian uang yang kau perlukan. Kalau saya masih hidup sebelum kau mendapat suami lagi, insya Allah kehidupanmu selama di kampung akan saya bantu."
"Zainuddin, itukah keputusan yang engkau berikan kepadaku? Bukankah kau telah termasyhur di mana-mana, seorang yang berhati mulia? Tidak, saya tidak akan pulang, saya akan tetap di sini bersamamu. Biar saya kau hinakan, biar saya kau pandang sebagai babu yang hina. Saya tak butuh uang berapa pun banyaknya, saya butuh dekat dengan kau, Zainuddin. Saya butuh dekat dengan kau."
"Tidak! Pantang pisang berbuah dua kali, pantang pemuda makan sisa. Kau mesti pulang kembali ke Padang, biarkan saya dalam keadaan begini. Jangan mau ditumpang hidup saya, orang tidak tentu asal. Negeri Minangkabau...beradat!"

Sedih...ini adegan yang bikin satu teater banjir air mata. :'(

Comments

Popular posts from this blog

Irish!

Irlandia. Sebuah kota yang tak terlalu kuketahui keberadaannya sebelum aku berkenalan dengan Emily dan Patrick. Siapa mereka? Tenang, mari kuperkenalkan. Ti presento gli miei amici, Sg. Patrick e Sg.ra. Emily O'Malley! Mereka berdua tokoh dalam game favoritku, Emily's True Love, Emily's Wonder Wedding, dan Emily's Honeymoon Cruise. Both of them are really cute couple! Love them! ♡♡♡ Patrick berasal dari Irlandia. Saat Emily merencanakan pernikahan dengan Patrick, mereka berdua berangkat ke Irlandia. Kota itu sangat indah walaupun hanya terlukis dalam permainan belaka. Legenda yang hidup di kota itu, yakni Lady Mary's Well, juga menarik. Pakaian tradisional mereka yang berwarna hijau kotak-kotak hijau juga sangat cantik. Singkatnya aku penasaran dengan Irlandia. Tiba-tiba saja aku mendapat kabar bahwa Duolingo--aplikasi belajar bahasa--meluncurkan bahasa Irlandia! Selangkah lebih dekat dengan Irlandia, Nad! Selamat belajar, diriku. Hopefully, someday I will meet ...

Autobiografi masuk di Universitas Indonesia

Di tengah asyiknya membicarakan jurusan saat kuliah nanti, “Nad, mau masuk apa pas kuliah?” “InsyaAllah, Sastra Indonesia UI.” “Kok sastra Indonesia, sih?” * * * Pertanyaan itu kerap kali terngiang di telinga tatkala aku menyebutkan jurusan idamanku. Mengapa? Apa ada yang salah? Tak pantaskah aku mengecap ilmu di jurusan yang bertitel sastra Indonesia? Pertanyaan yang begitu merasuk hati, mengganggu. Dalam hati, aku hanya bisa berharap semoga orang tuaku merestui jurusan ini. Namun alangkah sayangnya, ternyata keinginanku ditolak mentah-mentah, apalagi oleh ibuku. Beliau tidak meridai keinginanku berkuliah di jurusan sastra. “Kalau tetap bersikeras kuliah di situ, saya tidak mau membiayai,” MasyaAllah! Apa yang ada di pikiran beliau saat itu? Bagaimana pula aku bisa membiayai kuliah sendiri? Ayah mencoba memberi saran, “Coba Nadia cari jurusan lain. Kamu sudah berbalik arah ke IPS, kan? Jurusan banyak, kok, bukan cuma sastra Indonesia. Apa kamu takut tidak lulus ...

JAFF's Asian Perspectives 2017

sumber gambar The Hose (2017) Mansour Forouzesh 14 menit sumber gambar Seorang guru sekolah dasar, Nobari, mulai menyadari metode hukuman dengan kekerasan fisik yang selama ini digunakannya tidak memberikan efek yang signifikan. Hari itu, Nobari menceritakan perihal metode ajar pada murid-murid dan membuang pecut kesayangannya. Pelajaran hari itu dimulai dengan soal perkalian. Shalbaaf, seorang murid, tidak bisa menjawab pertanyaan Nobari yang membuat Nobari memarahinya di kelas. Keesokan harinya, Nobari membuka kado dari Shalbaaf dengan rasa penasaran yang berganti tegang: kado itu berisi beberapa pecut baru. Nobari gagal mengatur emosinya saat mengajar. Apa bedanya ia menggunakan pecut dan tidak kalau emosi kesalnya terhadap murid masih mendominasi? Kedua hukuman itu sama-sama memicu trauma. Luka dari kekerasan fisik dapat pudar menghilang, tetapi luka dari kekerasan verbal membekas sampai entah. Is he a good teacher on my opinion? Nope. Women of The Weepi...