Skip to main content

Kurus terus; Terus kurus?

Aku tidak mau kurus terus. Saat aku mengeluhkan ini, mungkin ada orang-orang di luar sana yang berkata, "Aku tidak mau gemuk terus." Bukan, aku bukannya tidak mensyukuri badan pemberian Tuhan, tetapi aku sangat ingin membuatnya ideal. Tinggiku 170 cm, sementara berat badanku... oh, tak perlu kau tahu. Yang jelas, dokter gizi menetapkan beratku termasuk dalam kategori underweight.

Terlalu kurus tidak baik. Terjangkit sakit mag, nyeri tulang, dan sebagainya. Seperti yang baru saja terjadi, tiba-tiba sendi peluru (antara lengan dan bahu)ku nyeri luar biasa. Lengan sampai nggak bisa digerakkan saking sakitnya. Nyerinya menjalar sampai ke pinggang. Ya apaan. Duduk kaku aja sambil meringis, menunggu nyerinya reda.

Belum lagi skoliosis yang tampaknya makin parah (semoga saja tidak). Nyerinya amit-amit, nggak bisa dibahasakan, deh. Mana kata beberapa orang, derajat kemiringan skoliosis lebih cepat berubah pada orang kurus. Alasannya. otot penyangga tulang yang miring tidak cukup kuat. :(

Ya Allah, ini baru sakit tulang dan sendi
Belum seberapa dibandingkan rasa sakit saat melahirkan
57 del, katanya
Setara dengan 20 tulang yang patah dalam satu waktu
Waks, satu sendi yang nyeri saja bikin nangis
Tulang belakang yang bengkok saja melahirkan keluh berhari-hari
Gimana patah tulang?
Hebat banget, deh, yang melahirkan secara normal
Juga yang secara caesar
(You guys have no idea betapa sakitnya bekas jahitan caesar)
Seorang ibu itu hebat, ibuku hebat, ibumu juga
Mereka perempuan tangguh nan kuat
Membawa anak dalam perut selama berbulan-bulan
Melewati proses melahirkan yang luar biasa sakit
Berada di titik kritis hidup dan mati
Menyusui anak minimal dua tahun
Mengemong anak bertahun-tahun
Wajar saja ada peribahasa yang bilang, "Kasih ibu itu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah."
Menjadi ibu merupakan pekerjaan tiada henti
Anak-anak gadis bakal merasakan kesulitannya ketika ia menjadi seorang ibu kelak
...
Perempuan menikah harus siap menjadi ibu, kan?
Wkwkwkwkwkwkwkwkwkw
Kalau ingat ini, rasanya mau menyingkirkan jauh-jauh pikiran menikah muda
 
No cheers for tonight,
Salam,
Nadia Almira Sagitta
sumber gambar

Comments

Popular posts from this blog

Autobiografi masuk di Universitas Indonesia

Di tengah asyiknya membicarakan jurusan saat kuliah nanti, “Nad, mau masuk apa pas kuliah?” “InsyaAllah, Sastra Indonesia UI.” “Kok sastra Indonesia, sih?” * * * Pertanyaan itu kerap kali terngiang di telinga tatkala aku menyebutkan jurusan idamanku. Mengapa? Apa ada yang salah? Tak pantaskah aku mengecap ilmu di jurusan yang bertitel sastra Indonesia? Pertanyaan yang begitu merasuk hati, mengganggu. Dalam hati, aku hanya bisa berharap semoga orang tuaku merestui jurusan ini. Namun alangkah sayangnya, ternyata keinginanku ditolak mentah-mentah, apalagi oleh ibuku. Beliau tidak meridai keinginanku berkuliah di jurusan sastra. “Kalau tetap bersikeras kuliah di situ, saya tidak mau membiayai,” MasyaAllah! Apa yang ada di pikiran beliau saat itu? Bagaimana pula aku bisa membiayai kuliah sendiri? Ayah mencoba memberi saran, “Coba Nadia cari jurusan lain. Kamu sudah berbalik arah ke IPS, kan? Jurusan banyak, kok, bukan cuma sastra Indonesia. Apa kamu takut tidak lulus ...

2015 - Skoliosis

Skoliosis. Masih ingatkah dengan pelajaran Penjaskes di SD dulu? Kifosis, lordosis, dan skoliosis. Beberapa bulan ini, aku mengeluh sakit punggung. Tak bisa telentang dan menghirup napas panjang. Sakit. Rasanya, tulang rusuk tertarik oleh tulang belakang tiap bernapas. Rasanya dada ditekan kuat-kuat kalau telentang. Belum lagi pegal-pegal tiap bangun tidur. Kemudian, datanglah temanku berkata bahwa tulang kananku menonjol dibanding yang kiri. Tanteku juga mengatakan hal yang sama.  Jadilah, 15 Januari 2015 lalu aku ke dokter ortopedi. Dokter Tejo namanya. Dia berperawakan tinggi dan tegak. Dia lebih tinggi dari saya. Hahahha. Pas banget deh jadi dokter spesialis tulang. Dari sana, aku menuju ruang radiologi. Kunjungan pertamaku ke sana, yeayyyy! (Terus bangga). Bertukar pakaian dengan baju rumah sakit, berdiri di depan kamera khusus, dan voila! Jadilah foto hitam putih bergambar tulang rusuk serta tulang punggungku. Foto x-ray kah itu? Entahlah. Dua foto hitam itu me...

Review Salon Flaurent Jogja

Heyyyy, guys! Kali ini, saya mau review salon Flaurent Jogja yang baru saja saya kunjungi tadi. Dua tahun lalu, saya juga sempat ke sini bareng ibu, nah kali ini bareng tante. Bisa dibilang, ini salon perempuan pertama yang saya datangi dan memprakarsai hobi baru saya di Depok, yakni nyalon. Wakakaka. Tanteku memberi saran untuk mengambil paket mini yang terdiri dari body spa, hair spa, dan facial . Tiga perawatan ini bisa kalian ambil dengan merogoh kocek Rp125.000,00. Gila. Ini-murah-banget! Salon langgananku aja bisa kena biaya sekitar Rp300.000,00.

Review Bedak Tabur La Tulipe vs Revlon

Kamis, 16 Juli 2015, kuputuskan untuk mengganti bedak tabur La Tulipe-ku. Bukannya kenapa, aku curiga jerawatku yang makin menjadi ini disebabkan oleh ketidakcocokan wajahku dengan bedak tersebut. Kulit wajahku adalah kulit berminyak— lets say, very oily ! Gegara ini, aku gampang jerawatan dan sekilas wajahku terlihat kusam tanpa bedak. Oleh karena itu, bedak merupakan barang wajib yang harus ada di tas. Sejak SMP hingga SMA, aku selalu menggunakan bedak padat Pigeon rekomendasi ibuku. Semenjak kuliah aku iseng mencoba-coba bedak baru, salah satunya bedak tabur. Berdasarkan informasi yang kudapat dari berbagai beauty blogger , jenis bedak yang cocok untuk kulit berminyak adalah bedak tabur atau loose powder. Alasannya, tekstur bedak tabur tidak menghambat pori-pori seperti bedak padat. Nah, aku baru beralih ke bedak tabur setahunan lebih ini. Aku pernah mencoba produk Pigeon, Wardah, Viva, La Tulipe, dan sekarang Revlon. Postingan kali ini membahas dua merk bedak tabur, yakni ...