Skip to main content

Kuantar Kau Ke Gerbang

Aku tertawa sekaligus sedih ketika menyadari momen Kuantar ke Gerbang ini akan terulang untuk kedua kali. Serupa Inggit Garnasih yang melepaskan cinta agar sang kekasih dapat menggapai cita,
aku melepaskan cinta yang telah lama disimpan dalam hati. Membiarkan ia pergi menjemput cita-cita dan cinta yang bukan aku.
--

Kutatap lekat dirimu saat itu
Berpakaian hitam dengan aksen dua warna
Kau baru menghampiriku setelah asyik beriang-riang dengan kawan seperjuangan
Aku masih ingat kau perkenalkan aku pada mereka, "Ini lho, dia sudah jadi muslimah banget sekarang. Pakai jilbab panjang dan ikut organisasi keislaman."
Tanggapanku saat itu cuma, "Wuuu, apaan sih."
Sebentar saja kau di sisiku, bagaikan kilat yang menyambar langit
Sepersekian detik dalam tatapanku
Aku belum utuh merekam tawa bahagiamu
Aku belum utuh menyimpan segurat ceriamu dalam benakku
Kau kembali sibuk di antara kerumunan mahasiswa
Yang hari itu menguarkan bahagia-bahagia yang serupa
Bila aku boleh jujur, saat itu aku takut sekali kehilangan engkau
Engkau yang tak pernah kumiliki, tetapi kucemaskan bila hilang dari duniaku
Tetapi tak kutunjukkan raut cemasku, hanya senyum yang selalu kupasang di muka
Kau tak tahu saja air mataku banjir setelah upacara itu selesai
Kuantar mereka menuju jalan pulang
Tanpa kau, yang saat itu melanglang entah ke mana
Aku lalu pamit dan mohon diri
Pada mereka
Padamu, aku bahkan belum mengucapkan selamat berpisah
Sekian lama perasaan ini tertahan di bibir, namun di akhir pertemuan kita, bahkan aku tak mampu mengucapkan apa-apa
Sampai tiada lagi kesempatan tersisa
--
Dan ini, aku harus begini lagi dalam sekejap mata?

Comments

Popular posts from this blog

Autobiografi masuk di Universitas Indonesia

Di tengah asyiknya membicarakan jurusan saat kuliah nanti, “Nad, mau masuk apa pas kuliah?” “InsyaAllah, Sastra Indonesia UI.” “Kok sastra Indonesia, sih?” * * * Pertanyaan itu kerap kali terngiang di telinga tatkala aku menyebutkan jurusan idamanku. Mengapa? Apa ada yang salah? Tak pantaskah aku mengecap ilmu di jurusan yang bertitel sastra Indonesia? Pertanyaan yang begitu merasuk hati, mengganggu. Dalam hati, aku hanya bisa berharap semoga orang tuaku merestui jurusan ini. Namun alangkah sayangnya, ternyata keinginanku ditolak mentah-mentah, apalagi oleh ibuku. Beliau tidak meridai keinginanku berkuliah di jurusan sastra. “Kalau tetap bersikeras kuliah di situ, saya tidak mau membiayai,” MasyaAllah! Apa yang ada di pikiran beliau saat itu? Bagaimana pula aku bisa membiayai kuliah sendiri? Ayah mencoba memberi saran, “Coba Nadia cari jurusan lain. Kamu sudah berbalik arah ke IPS, kan? Jurusan banyak, kok, bukan cuma sastra Indonesia. Apa kamu takut tidak lulus ...

2015 - Skoliosis

Skoliosis. Masih ingatkah dengan pelajaran Penjaskes di SD dulu? Kifosis, lordosis, dan skoliosis. Beberapa bulan ini, aku mengeluh sakit punggung. Tak bisa telentang dan menghirup napas panjang. Sakit. Rasanya, tulang rusuk tertarik oleh tulang belakang tiap bernapas. Rasanya dada ditekan kuat-kuat kalau telentang. Belum lagi pegal-pegal tiap bangun tidur. Kemudian, datanglah temanku berkata bahwa tulang kananku menonjol dibanding yang kiri. Tanteku juga mengatakan hal yang sama.  Jadilah, 15 Januari 2015 lalu aku ke dokter ortopedi. Dokter Tejo namanya. Dia berperawakan tinggi dan tegak. Dia lebih tinggi dari saya. Hahahha. Pas banget deh jadi dokter spesialis tulang. Dari sana, aku menuju ruang radiologi. Kunjungan pertamaku ke sana, yeayyyy! (Terus bangga). Bertukar pakaian dengan baju rumah sakit, berdiri di depan kamera khusus, dan voila! Jadilah foto hitam putih bergambar tulang rusuk serta tulang punggungku. Foto x-ray kah itu? Entahlah. Dua foto hitam itu me...

Review Salon Flaurent Jogja

Heyyyy, guys! Kali ini, saya mau review salon Flaurent Jogja yang baru saja saya kunjungi tadi. Dua tahun lalu, saya juga sempat ke sini bareng ibu, nah kali ini bareng tante. Bisa dibilang, ini salon perempuan pertama yang saya datangi dan memprakarsai hobi baru saya di Depok, yakni nyalon. Wakakaka. Tanteku memberi saran untuk mengambil paket mini yang terdiri dari body spa, hair spa, dan facial . Tiga perawatan ini bisa kalian ambil dengan merogoh kocek Rp125.000,00. Gila. Ini-murah-banget! Salon langgananku aja bisa kena biaya sekitar Rp300.000,00.

Review Bedak Tabur La Tulipe vs Revlon

Kamis, 16 Juli 2015, kuputuskan untuk mengganti bedak tabur La Tulipe-ku. Bukannya kenapa, aku curiga jerawatku yang makin menjadi ini disebabkan oleh ketidakcocokan wajahku dengan bedak tersebut. Kulit wajahku adalah kulit berminyak— lets say, very oily ! Gegara ini, aku gampang jerawatan dan sekilas wajahku terlihat kusam tanpa bedak. Oleh karena itu, bedak merupakan barang wajib yang harus ada di tas. Sejak SMP hingga SMA, aku selalu menggunakan bedak padat Pigeon rekomendasi ibuku. Semenjak kuliah aku iseng mencoba-coba bedak baru, salah satunya bedak tabur. Berdasarkan informasi yang kudapat dari berbagai beauty blogger , jenis bedak yang cocok untuk kulit berminyak adalah bedak tabur atau loose powder. Alasannya, tekstur bedak tabur tidak menghambat pori-pori seperti bedak padat. Nah, aku baru beralih ke bedak tabur setahunan lebih ini. Aku pernah mencoba produk Pigeon, Wardah, Viva, La Tulipe, dan sekarang Revlon. Postingan kali ini membahas dua merk bedak tabur, yakni ...