Skip to main content

Dua Jam Bersama Ica

Penerbanganku ke Medan kali ini cukup lama. Mengapa begitu? Soalnya, pesawat yang kunaiki menunggu giliran lepas landas selama 20 menit. Waktu yang ada tentu kumanfaatkan untuk tidur secara tadi pagi aku sahur terlalu cepat dan semalam tidurku hanya dua jam. Ketika aku membuka mata dan mengedarkan pandang ke sekeliling, kutemukan gadis kecil sedang melonjak-lonjak di pangkuan ayahnya. Ia mengenakan onesies putih bermotif dan jaket ungu. Saat pandangan kami beradu, aku memberinya senyum dan ia pun membalas senyumku. Aih, senangnya hati. Belakangan kutahu nama anak itu Ica. ^^

Tak lama, pramugari datang menawarkan makanan. Ica, yang masih batita, tentu saja makan siang dengan disuapi ibunya. Oh iya, jadi tempat duduk ayah dan ibu Ica dipisahkan aisle pesawat. Cukup sulit untuk ibu Ica menyuapi si anak karena adanya jarak antarkursi. Tatkala disuapi pertama kali, Ica tahu-tahu melepehkan nasi. Dari ekspresi wajahnya, sih, aku tahu nasinya masih terlalu panas, hahaha. Terus, memang dasar tabiat anak kecil yang mau melakukan semuanya sendiri, Ica berulangkali menepiskan tangan sang ibu dan mencuil sendiri makanan dari sendok. Gemas!


Ica ini aktif sekali. Suka loncat-loncat, ngegelosor di meja lipat, dan berjalan-jalan di lorong pesawat. Tiap ia berjalan, Ica  menghampiri kursi-kursi penumpang. Haha, tampaknya ia penasaran dan ingin berkenalan. Ayah Ica sampai kewalahan mengejar-ngejar Ica yang lari ke sana kemari. Lucu sekali. Kutebak, jika ia dewasa nanti ia akan menjadi pribadi yang ramah, ekstrovert, dan penuh rasa ingin tahu.

Dua jam bersama Ica, pandanganku tidak lepas daripadanya. Anak satu ini memang menggemaskan sekali. Juga, mungkin yang membuatku betah berlama-lama memandanginya karena aku melihat kekompakan ibu dan ayah Ica. Kulihat sendiri betapa sabarnya ayah Ica menghadapi tingkah si anak. Hal yang sama belum tentu kutemukan pada orang tua lainnya.

Hal lain yang kupelajari dalam perjalanan ini adalah uniknya komunikasi antaribu. Baiknya kuceritakan dahulu tentang posisi dudukku tadi. Di depanku ada ibunya Ica dengan kakaknya Ica. Di samping ibu Ica, duduklah ayah Ica bersama Ica dan abangnya Ica. Di depan ayah Ica, ada seorang ibu dengan anak perempuannya. Di belakang ayah Ica, yakni di sampingku, duduklah pasangan muda dengan anak laki-laki mereka. Di belakangku juga ada seorang ibu dengan anak perempuan. Well, you can imagine that I was all surrounded with kids. And I was there, single and very happy, with no kid.

Balik ke komunikasi tadi, kulihat ibunya Ica cepat akrab dengan seorang ibu yang duduk di seberangnya. Ya barangkali karena mereka punya pemahaman yang sama, "Kita saling tahu betapa repot dan bahagianya mengurus anak. Why don't we share our stories?"  Unik, ya? Aku pun sok-sok akrab menanyakan ibu di sampingku perihal umur anaknya. :)))

Hehehe, Ca, makasih ya sudah menyedot perhatianku selama di pesawat. Khip ngegemesin ya, Ca! Terima kasih pula sudah mengingatkanku pada satu sosok. Adalah kau yang tidak berhenti menari-nari di pikiranku sepanjang perjalanan tadi, Tuan.

Luv,
Nadia Almira Sagitta

Comments

Popular posts from this blog

Dialog Zainuddin Hayati

"Saya akan berterus terang kepadamu. Saya akan jujur kepadamu. Akan saya panggil kembali namamu, sebagaimana dahulu pernah saya panggilkan. Zainuddin. Saya sudi menanggung segenap cobaan yang menimpa diriku asalkan kau sudi memaafkan segenap kesalahanku." "Maaf? Kau regas segenap pucuk pengharapanku, kau patahkan, kau minta maaf?" "Mengapa kau jawab aku sekejam itu, Zainuddin? Sudah hilangkah tentang kita dari hatimu? Janganlah kau jatuhkan hukuman. Kasihanilah perempuan yang ditimpa musibah berganti-ganti ini." "Iya, demikianlah perempuan. Ia hanya ingat kekejaman orang kepada dirinya walaupun kecil dan ia lupa kekejamannya sendiri pada orang lain padahal begitu besarnya. Lupakah kau siapakah di antara kita yang kejam? Bukankah kau yang telah berjanji ketika saya diusir oleh ninik-mamakmu karena saya asalnya tidak tentu, orang hina-dina, tidak tulen Minangkabau! Ketika itu kau antarkan saya ke simpang jalan, kau berjanji akan menunggu kedatanga

Surat Hayati

Pergantungan jiwaku, Zainuddin Sungguh besar sekali harapanku untuk bisa hidup di dekatmu. Supaya mimpi yang telah engkau rekatkan sekian lamanya bisa makbul. Supaya dapat segala kesalahan yang besar-besar yang telah kuperbuat terhadap dirimu saya tebusi. Tetapi cita-citaku itu tinggal selamanya menjadi cita-cita sebab engkau sendiri yang menutup pintu di depanku. Saya engkau larang masuk. Sebab engkau hendak mencurahkan segala dendam, kesakitan yang telah sekian lama bersarang di dalam hatimu. Lantaran membalas dendam itu, engkau ambil suatu keputusan yang maha kejam. Engkau renggutkan tali pengharapanku, padahal pada tali itu pula pengharapanmu sendiri bergantung. Sebab itu, percayalah Zainuddin bahwa hukuman ini bukan mengenai diriku seorang, bukan ia menimpa celaka kepadaku saja, tetapi kepada kita berdua. Karena saya tahu bahwa engkau masih tetap cinta kepadaku.  Zainuddin, kalau saya tak ada, hidupmu tidak juga akan beruntung. Percayalah, di dalam jiwaku ada suatu kekayaa

Percakapan Ponakan dan Om Tante

A: Ante, ke dokterlah. Supaya tahu sakitnya. Kasihan batuk dan menggigil terus. T: Indaklah. Ante ndak suka minum obat. A: Loh, siapa yang suruh minum obat. Ke dokter saja. R: Ha, lepas tu? Buat apa kita ke dokter, kak? A: Ya cek ajalah. Nanti kalau dikasih resep, tak usah beli kalau tak mau diminum. R: Entah apa-apa kakak ini. Haha, cengkunek. O: Ntah berkelit ke berapa hari ini. Tak mau kalah dia. A: Wah, mestilah, Om. Anak sastra mesti jago berkelit. R: Aduuuh, gimanalah suami kakak nanti itu. Ribut, lah. A: Mana pulak. Indak, lah. R: Kalau dapat yang heboh juga, wah saling berkelit nanti. Jangan sama anak sastra lagi, kak. O: Sama anak ekonomi saja, Nadia. A: Kenapa coba? O: Supaya nanti dia bisa menghitung, "Nah, sudah berkelit berapa kali istriku malam ini?" Kerjaan anak ekonomi, kan, menghitung-hitung saja, Nadia. A: Hahahahha. Alaaaah, si Om!  Medan, dalam mobil Karimun

Review Salon Flaurent Jogja

Heyyyy, guys! Kali ini, saya mau review salon Flaurent Jogja yang baru saja saya kunjungi tadi. Dua tahun lalu, saya juga sempat ke sini bareng ibu, nah kali ini bareng tante. Bisa dibilang, ini salon perempuan pertama yang saya datangi dan memprakarsai hobi baru saya di Depok, yakni nyalon. Wakakaka. Tanteku memberi saran untuk mengambil paket mini yang terdiri dari body spa, hair spa, dan facial . Tiga perawatan ini bisa kalian ambil dengan merogoh kocek Rp125.000,00. Gila. Ini-murah-banget! Salon langgananku aja bisa kena biaya sekitar Rp300.000,00.