Skip to main content

Ke mana sosok yang dulu?

Hari ini aku baru tahu, perpus merupakan tempat yang pas untuk menangis, apalagi saat sedang sepi.
Rak 400. Tempat favoritku seantero perpus karena di sini ada ratusan buku-buku linguistik yang tak henti membuat takjub. Iya, aku di sini sekarang. Memandangi jejeran buku warna-warni terbitan Badan Bahasa yang bercerita seputar struktur bahasa, tata bahasa, morfologi, dan sintaksis bahasa daerah di Indonesia. Aku masih ingat, dulu ada seorang gadis yang sering sekali mengunjungi rak ini lalu terperangah karena mendapati ada puluhan bahasa daerah yang baru ia dengar. Ot danum, Tetun, Lamandau, Ogan, Bosap, Semende, dan banyak lagi. Gadis itu aku.

Aku juga masih ingat, dulu berangkat ke kampus UI dengan keyakinan penuh bahwa aku akan mendokumentasikan bahasa daerah di Indonesia seperti peneliti-peneliti asing yang kubaca di berita. Masih ingat, masih sekali.

Aku pun masih ingat, ketika semester empat dulu pernah mengomentari dalam hati hasil dokumentasi bahasa peneliti kita dan peneliti asing. Berkomentar bahwa betapa kurangnya hasil dokumentasi bahasa peneliti kita, mulai dari banyaknya kesalahan cetak, lalu kurang dalamnya penjelasan mengenai bahasa yang diteliti. Itu komentar mahasiswi semester empat yang belum tahu apa-apa, hanya sekadar membandingkan tebalnya buku yang dihasilkan dan membaca sekilas. Barangkali aku sok tahu, barangkali.

Mengingat semua itu, aku menangis. Ke mana Nadia yang dulu? Ke mana Nadia yang ambisius ingin meneliti bahasa di daerah terpencil? Ke mana Nadia dengan semangatnya yang luar biasa itu? Ke mana? Yang kulihat sekarang cuma Nadia yang sedikit-sedikit mengeluh jenuh dengan skripsi. Yang kulihat sekarang hanya Nadia yang mengaku lelah mengolah data. Padahal ya, aku sempat bahagia sekali sewaktu mengumpulkan data. Sempat berandai-andai, "Nanti aku juga begini di negeri antah-berantah, dengan medan yang lebih sulit, dengan bahasa yang sama sekali tak kumengerti."
Allah, kembalikan semangatku yang dulu. Jangan buat aku menyerah secepat ini. Sungguh, masih panjang perjalanan. Skripsi ini bagaikan batu loncatan pertama saja, belum ada apa-apanya. Jadi, janganlah lelah... Bersemangatlah! Innallaha ma'aki, Nadia!

Untuk kamu yang membaca tulisan ini, semoga motivasi yang sempat terkubur jauh kembali merasuki diri. Ingat, kamu sudah berjalan sejauh ini.

Cheers,
Nadia Almira Sagitta

Comments

Popular posts from this blog

Irish!

Irlandia. Sebuah kota yang tak terlalu kuketahui keberadaannya sebelum aku berkenalan dengan Emily dan Patrick. Siapa mereka? Tenang, mari kuperkenalkan. Ti presento gli miei amici, Sg. Patrick e Sg.ra. Emily O'Malley! Mereka berdua tokoh dalam game favoritku, Emily's True Love, Emily's Wonder Wedding, dan Emily's Honeymoon Cruise. Both of them are really cute couple! Love them! ♡♡♡ Patrick berasal dari Irlandia. Saat Emily merencanakan pernikahan dengan Patrick, mereka berdua berangkat ke Irlandia. Kota itu sangat indah walaupun hanya terlukis dalam permainan belaka. Legenda yang hidup di kota itu, yakni Lady Mary's Well, juga menarik. Pakaian tradisional mereka yang berwarna hijau kotak-kotak hijau juga sangat cantik. Singkatnya aku penasaran dengan Irlandia. Tiba-tiba saja aku mendapat kabar bahwa Duolingo--aplikasi belajar bahasa--meluncurkan bahasa Irlandia! Selangkah lebih dekat dengan Irlandia, Nad! Selamat belajar, diriku. Hopefully, someday I will meet ...

Autobiografi masuk di Universitas Indonesia

Di tengah asyiknya membicarakan jurusan saat kuliah nanti, “Nad, mau masuk apa pas kuliah?” “InsyaAllah, Sastra Indonesia UI.” “Kok sastra Indonesia, sih?” * * * Pertanyaan itu kerap kali terngiang di telinga tatkala aku menyebutkan jurusan idamanku. Mengapa? Apa ada yang salah? Tak pantaskah aku mengecap ilmu di jurusan yang bertitel sastra Indonesia? Pertanyaan yang begitu merasuk hati, mengganggu. Dalam hati, aku hanya bisa berharap semoga orang tuaku merestui jurusan ini. Namun alangkah sayangnya, ternyata keinginanku ditolak mentah-mentah, apalagi oleh ibuku. Beliau tidak meridai keinginanku berkuliah di jurusan sastra. “Kalau tetap bersikeras kuliah di situ, saya tidak mau membiayai,” MasyaAllah! Apa yang ada di pikiran beliau saat itu? Bagaimana pula aku bisa membiayai kuliah sendiri? Ayah mencoba memberi saran, “Coba Nadia cari jurusan lain. Kamu sudah berbalik arah ke IPS, kan? Jurusan banyak, kok, bukan cuma sastra Indonesia. Apa kamu takut tidak lulus ...

JAFF's Asian Perspectives 2017

sumber gambar The Hose (2017) Mansour Forouzesh 14 menit sumber gambar Seorang guru sekolah dasar, Nobari, mulai menyadari metode hukuman dengan kekerasan fisik yang selama ini digunakannya tidak memberikan efek yang signifikan. Hari itu, Nobari menceritakan perihal metode ajar pada murid-murid dan membuang pecut kesayangannya. Pelajaran hari itu dimulai dengan soal perkalian. Shalbaaf, seorang murid, tidak bisa menjawab pertanyaan Nobari yang membuat Nobari memarahinya di kelas. Keesokan harinya, Nobari membuka kado dari Shalbaaf dengan rasa penasaran yang berganti tegang: kado itu berisi beberapa pecut baru. Nobari gagal mengatur emosinya saat mengajar. Apa bedanya ia menggunakan pecut dan tidak kalau emosi kesalnya terhadap murid masih mendominasi? Kedua hukuman itu sama-sama memicu trauma. Luka dari kekerasan fisik dapat pudar menghilang, tetapi luka dari kekerasan verbal membekas sampai entah. Is he a good teacher on my opinion? Nope. Women of The Weepi...

Bermain Definisi

dok. pribadi jepretan Augita P. R. Di sebuah kafe sepulang kerja, Maharani memilih tempat duduk di dekat jendela. Kafe senja itu sepi. Barangkali menu yang ditawarkan memang tidak cocok untuk pundi-pundi masyarakat Yogya. Ia sendiri hanya memesan kopi, lain tidak. Baru beberapa kali seruput, ia meluapkan tangis di sana, tak peduli pada pelayan yang curi-curi pandang penasaran. Di tengah-tengah, ia menelepon sahabatnya. "Menurut kamu apa definisi cinta?" "Ng, bagiku cinta itu rasa nyaman nan penuh bunga yang mendorong penikmatnya untuk merajut masa depan bersama." "Definisi kamu manis sekali." "Ah, paling kau mencibirku di sana." "Hm, definisimu manis dan aku suka, tetapi terlalu banyak variabelnya. Sederhanakan. Buat definisi yang mencakup seluruh jenis cinta." "Ya ... definisiku memang khusus cinta kepada pasangan hidup." "Itulah. Ayo, susun lagi!" Setelah asyik dengan definisi cinta, nikmat, da...