Semalam aku bermimpi. Seorang teman yang mengenal kita berdua tiba-tiba mengomentari status Line-mu mengenaiku. Entah apa yang kau tulis itu, ia berkomentar tentang kita. Ia menyinggung aku dan kau. Kalimatnya begitu menohok. Sayangnya, di mimpiku, kau begitu pandai mengelak. Padahal, kau bisa saja diam dan mencerna dengan baik kata-katanya.
Akhir-akhir ini aku memimpikanmu, Tuan. Temanya berganti-ganti disesuaikan dengan keadaan hatiku malam sebelumnya. Kali ini, kurasa Allah memberikan jawaban (atau peringatan) padaku, entah padamu. Apa kau juga sempat memimpikanku?
Salam,
Nadia Almira Sagitta
Di tengah asyiknya membicarakan jurusan saat kuliah nanti, “Nad, mau masuk apa pas kuliah?” “InsyaAllah, Sastra Indonesia UI.” “Kok sastra Indonesia, sih?” * * * Pertanyaan itu kerap kali terngiang di telinga tatkala aku menyebutkan jurusan idamanku. Mengapa? Apa ada yang salah? Tak pantaskah aku mengecap ilmu di jurusan yang bertitel sastra Indonesia? Pertanyaan yang begitu merasuk hati, mengganggu. Dalam hati, aku hanya bisa berharap semoga orang tuaku merestui jurusan ini. Namun alangkah sayangnya, ternyata keinginanku ditolak mentah-mentah, apalagi oleh ibuku. Beliau tidak meridai keinginanku berkuliah di jurusan sastra. “Kalau tetap bersikeras kuliah di situ, saya tidak mau membiayai,” MasyaAllah! Apa yang ada di pikiran beliau saat itu? Bagaimana pula aku bisa membiayai kuliah sendiri? Ayah mencoba memberi saran, “Coba Nadia cari jurusan lain. Kamu sudah berbalik arah ke IPS, kan? Jurusan banyak, kok, bukan cuma sastra Indonesia. Apa kamu takut tidak lulus ...
Comments
Post a Comment