Skip to main content

Cinta Linguistik

"When you have a passion for something you find much more than what school offers." (Neby, co-admin of Qwanqwaproject Tumblr)

Bersyukur banget bisa kenal Neby! Aku sempat khawatir dengan kemampuan linguistikku setelah berbincang dengan dia. Parah, dia cerdas banget dan tahu banyak hal tentang linguistik padahal masih semester satu. Aku yang semester tujuh ini gagap ketika diajak diskusi tentang linguistik historis dan rumpun bahasa. Dan dia masih sempat bilang, "We're still newbie compared to you." Ahahaha. Jadi butiran debu. Huhu. Hebatnya, dia selalu mengacu dirinya sebagai linguis historis, "As a historical linguist, my view on..." Masih semester satu, Mamen, dia sudah tahu mau jadi apa dan akan menulis skripsi apa. Demi apa. Semester satu rasanya aku baru memutuskan akan menekuni peminatan linguistik selama tujuh semester ke depan. Itu juga rasanya sudah hebat karena yang lain masih galau dengan peminatan. Boro-boro mikirin skripsi di semester satu, di semester tujuh ini saja masih bingung.  Allah, please help!


Sempat ragu banget untuk lanjut kuliah di LN karena khawatir semua dosen sejago mereka* berdua (yang semester satu aja gitu, gimana dosen) dan aku nggak bisa mengikuti kuliah karena ilmu tak sampai. Akhirnya, tercetuslah kalimat di atas dari Neby. (^^) Jika memang cinta pada sesuatu, tanpa diperintahkan pun (misalnya melalui tugas) kita akan mendalami ilmu yang kita cintai di luar kelas baik itu melalui diskusi atau membaca buku.

Kesimpulannya, aku belum secinta itu pada linguistik layaknya Neby dan Nelly. Cinta itu mesti dibangun lagi. Cukup sudah cinta pada seseorang, mending cinta Allah, keluarga, dan linguistik. Setidaknya, mereka tidak membuat hati kecewa. Kesimpulan tambahan, mahasiswa mesti memperkaya ilmu dengan membaca!

*mereka = Neby dan Nelly, admin of Qwanqwaproject

Ayo follow Qwanqwaproject di Tumblr! You'll find fascinating topics about linguistics, especially historical/anthropological linguistics and African and Middle East language branch! Ini tautannya: http://qwanqwaproject.tumblr.com

Comments

Popular posts from this blog

Autobiografi masuk di Universitas Indonesia

Di tengah asyiknya membicarakan jurusan saat kuliah nanti, “Nad, mau masuk apa pas kuliah?” “InsyaAllah, Sastra Indonesia UI.” “Kok sastra Indonesia, sih?” * * * Pertanyaan itu kerap kali terngiang di telinga tatkala aku menyebutkan jurusan idamanku. Mengapa? Apa ada yang salah? Tak pantaskah aku mengecap ilmu di jurusan yang bertitel sastra Indonesia? Pertanyaan yang begitu merasuk hati, mengganggu. Dalam hati, aku hanya bisa berharap semoga orang tuaku merestui jurusan ini. Namun alangkah sayangnya, ternyata keinginanku ditolak mentah-mentah, apalagi oleh ibuku. Beliau tidak meridai keinginanku berkuliah di jurusan sastra. “Kalau tetap bersikeras kuliah di situ, saya tidak mau membiayai,” MasyaAllah! Apa yang ada di pikiran beliau saat itu? Bagaimana pula aku bisa membiayai kuliah sendiri? Ayah mencoba memberi saran, “Coba Nadia cari jurusan lain. Kamu sudah berbalik arah ke IPS, kan? Jurusan banyak, kok, bukan cuma sastra Indonesia. Apa kamu takut tidak lulus ...

2015 - Skoliosis

Skoliosis. Masih ingatkah dengan pelajaran Penjaskes di SD dulu? Kifosis, lordosis, dan skoliosis. Beberapa bulan ini, aku mengeluh sakit punggung. Tak bisa telentang dan menghirup napas panjang. Sakit. Rasanya, tulang rusuk tertarik oleh tulang belakang tiap bernapas. Rasanya dada ditekan kuat-kuat kalau telentang. Belum lagi pegal-pegal tiap bangun tidur. Kemudian, datanglah temanku berkata bahwa tulang kananku menonjol dibanding yang kiri. Tanteku juga mengatakan hal yang sama.  Jadilah, 15 Januari 2015 lalu aku ke dokter ortopedi. Dokter Tejo namanya. Dia berperawakan tinggi dan tegak. Dia lebih tinggi dari saya. Hahahha. Pas banget deh jadi dokter spesialis tulang. Dari sana, aku menuju ruang radiologi. Kunjungan pertamaku ke sana, yeayyyy! (Terus bangga). Bertukar pakaian dengan baju rumah sakit, berdiri di depan kamera khusus, dan voila! Jadilah foto hitam putih bergambar tulang rusuk serta tulang punggungku. Foto x-ray kah itu? Entahlah. Dua foto hitam itu me...

Review Bedak Tabur La Tulipe vs Revlon

Kamis, 16 Juli 2015, kuputuskan untuk mengganti bedak tabur La Tulipe-ku. Bukannya kenapa, aku curiga jerawatku yang makin menjadi ini disebabkan oleh ketidakcocokan wajahku dengan bedak tersebut. Kulit wajahku adalah kulit berminyak— lets say, very oily ! Gegara ini, aku gampang jerawatan dan sekilas wajahku terlihat kusam tanpa bedak. Oleh karena itu, bedak merupakan barang wajib yang harus ada di tas. Sejak SMP hingga SMA, aku selalu menggunakan bedak padat Pigeon rekomendasi ibuku. Semenjak kuliah aku iseng mencoba-coba bedak baru, salah satunya bedak tabur. Berdasarkan informasi yang kudapat dari berbagai beauty blogger , jenis bedak yang cocok untuk kulit berminyak adalah bedak tabur atau loose powder. Alasannya, tekstur bedak tabur tidak menghambat pori-pori seperti bedak padat. Nah, aku baru beralih ke bedak tabur setahunan lebih ini. Aku pernah mencoba produk Pigeon, Wardah, Viva, La Tulipe, dan sekarang Revlon. Postingan kali ini membahas dua merk bedak tabur, yakni ...

Review Salon Flaurent Jogja

Heyyyy, guys! Kali ini, saya mau review salon Flaurent Jogja yang baru saja saya kunjungi tadi. Dua tahun lalu, saya juga sempat ke sini bareng ibu, nah kali ini bareng tante. Bisa dibilang, ini salon perempuan pertama yang saya datangi dan memprakarsai hobi baru saya di Depok, yakni nyalon. Wakakaka. Tanteku memberi saran untuk mengambil paket mini yang terdiri dari body spa, hair spa, dan facial . Tiga perawatan ini bisa kalian ambil dengan merogoh kocek Rp125.000,00. Gila. Ini-murah-banget! Salon langgananku aja bisa kena biaya sekitar Rp300.000,00.