Skip to main content

Padanan swatch: ulas, oles, pulas, atau poles?

Pagi tadi iseng memosting koleksi makeup yang rata-rata didominasi lipstik di Instagram. Ahaha, iya, aku penggemar makeup. Aku suka membaca dan menulis ulasan produk makeup. Nah, sejauh aku memantengi berbagai ulasan makeup, khususnya lipstik, di berbagai blog, ternyata banyak sekali istilah asing yang digunakan. Malam ini aku akan membahas satu saja kata asing, yakni swatch.

Contoh kalimat:
"Gue, sih, mesti dua sampai tiga kali swatches supaya warnanya keluar."
"Ini swatches lengkap lipstik Purbasari di tanganku, ya!"
Swatch. Aku galau menentukan kata yang pas. Sejauh ini, aku menemukan empat kata yang digunakan beberapa beauty blogger, untuk memadankan swatch, yakni ulas, pulas, oles, dan poles. Nah lho! Hehehe. Mau tak mau, aku kembali ke KBBI.

ulas
v
mengusap
v memberikan penjelasan dan komentar
n sarung

FIXED ulas dicoret!

oles
v
melumur, melumas
Hmm, mari kita cek komponen makna lumur!
lumur
v bergelimang dng (lumpur, darah, minyak, dsb)
Nah, ketahuanlah bahwa lumur itu berkolokasi dengan sesuatu yang cair. Lipstik tidak cair, cuy! (seolah meniadakan liquid lipstick, ye) Ahaha oke, ada lipstik cair, tetapi awalnya kan lipstik berbentuk stick. (kekeuh)

FIXED, oles dicoret juga! Nah, tinggal pulas dan poles.
pulas
v mewarnai, mengecat, menyapu (dng bubukan yang berwarna)
Pada lema pulas, ada contoh pulas mata dan pulas bibir. Sounds perfect for makeup, eh?

poles
v membubuhkan poles (mengecat) supaya kelihatan lebih indah
Pada lema poles, ada contoh kalimat ia ~ pipinya/bibirnya dengan warna merah. Poin plus lema ini karena ada kata indah. Semua juga setuju kalau makeup memperindah wajah kita, bukan?

Kesimpulannya, kamu bisa menggunakan kata poles dan pulas untuk memadankan kata swatch. Aku sendiri cenderung menggunakan kata pulas sebab aku teringat klausa memoles tembok bila menggunakan poles.

Yuhuuuu, sesungguhnya aku kangen semantik! Mau belajar lagi. Huhu, ajarin atuh da... Anyway, aku bahagia, sih, pernah berkuliah di sastra Indonesia. Masalah kata saja bisa jadi bahan pikiran. Uwuwuw, lovely! ♡

Cheers,
Nadia Almira Sagitta

Comments

Popular posts from this blog

Autobiografi masuk di Universitas Indonesia

Di tengah asyiknya membicarakan jurusan saat kuliah nanti, “Nad, mau masuk apa pas kuliah?” “InsyaAllah, Sastra Indonesia UI.” “Kok sastra Indonesia, sih?” * * * Pertanyaan itu kerap kali terngiang di telinga tatkala aku menyebutkan jurusan idamanku. Mengapa? Apa ada yang salah? Tak pantaskah aku mengecap ilmu di jurusan yang bertitel sastra Indonesia? Pertanyaan yang begitu merasuk hati, mengganggu. Dalam hati, aku hanya bisa berharap semoga orang tuaku merestui jurusan ini. Namun alangkah sayangnya, ternyata keinginanku ditolak mentah-mentah, apalagi oleh ibuku. Beliau tidak meridai keinginanku berkuliah di jurusan sastra. “Kalau tetap bersikeras kuliah di situ, saya tidak mau membiayai,” MasyaAllah! Apa yang ada di pikiran beliau saat itu? Bagaimana pula aku bisa membiayai kuliah sendiri? Ayah mencoba memberi saran, “Coba Nadia cari jurusan lain. Kamu sudah berbalik arah ke IPS, kan? Jurusan banyak, kok, bukan cuma sastra Indonesia. Apa kamu takut tidak lulus ...

2015 - Skoliosis

Skoliosis. Masih ingatkah dengan pelajaran Penjaskes di SD dulu? Kifosis, lordosis, dan skoliosis. Beberapa bulan ini, aku mengeluh sakit punggung. Tak bisa telentang dan menghirup napas panjang. Sakit. Rasanya, tulang rusuk tertarik oleh tulang belakang tiap bernapas. Rasanya dada ditekan kuat-kuat kalau telentang. Belum lagi pegal-pegal tiap bangun tidur. Kemudian, datanglah temanku berkata bahwa tulang kananku menonjol dibanding yang kiri. Tanteku juga mengatakan hal yang sama.  Jadilah, 15 Januari 2015 lalu aku ke dokter ortopedi. Dokter Tejo namanya. Dia berperawakan tinggi dan tegak. Dia lebih tinggi dari saya. Hahahha. Pas banget deh jadi dokter spesialis tulang. Dari sana, aku menuju ruang radiologi. Kunjungan pertamaku ke sana, yeayyyy! (Terus bangga). Bertukar pakaian dengan baju rumah sakit, berdiri di depan kamera khusus, dan voila! Jadilah foto hitam putih bergambar tulang rusuk serta tulang punggungku. Foto x-ray kah itu? Entahlah. Dua foto hitam itu me...

Review Bedak Tabur La Tulipe vs Revlon

Kamis, 16 Juli 2015, kuputuskan untuk mengganti bedak tabur La Tulipe-ku. Bukannya kenapa, aku curiga jerawatku yang makin menjadi ini disebabkan oleh ketidakcocokan wajahku dengan bedak tersebut. Kulit wajahku adalah kulit berminyak— lets say, very oily ! Gegara ini, aku gampang jerawatan dan sekilas wajahku terlihat kusam tanpa bedak. Oleh karena itu, bedak merupakan barang wajib yang harus ada di tas. Sejak SMP hingga SMA, aku selalu menggunakan bedak padat Pigeon rekomendasi ibuku. Semenjak kuliah aku iseng mencoba-coba bedak baru, salah satunya bedak tabur. Berdasarkan informasi yang kudapat dari berbagai beauty blogger , jenis bedak yang cocok untuk kulit berminyak adalah bedak tabur atau loose powder. Alasannya, tekstur bedak tabur tidak menghambat pori-pori seperti bedak padat. Nah, aku baru beralih ke bedak tabur setahunan lebih ini. Aku pernah mencoba produk Pigeon, Wardah, Viva, La Tulipe, dan sekarang Revlon. Postingan kali ini membahas dua merk bedak tabur, yakni ...

Review Salon Flaurent Jogja

Heyyyy, guys! Kali ini, saya mau review salon Flaurent Jogja yang baru saja saya kunjungi tadi. Dua tahun lalu, saya juga sempat ke sini bareng ibu, nah kali ini bareng tante. Bisa dibilang, ini salon perempuan pertama yang saya datangi dan memprakarsai hobi baru saya di Depok, yakni nyalon. Wakakaka. Tanteku memberi saran untuk mengambil paket mini yang terdiri dari body spa, hair spa, dan facial . Tiga perawatan ini bisa kalian ambil dengan merogoh kocek Rp125.000,00. Gila. Ini-murah-banget! Salon langgananku aja bisa kena biaya sekitar Rp300.000,00.