Skip to main content

Bidang Linguistik

Language documentation is a part of linguistics fieldwork. There are so much things to do. Sebagai calon sarjana humaniora yang berkonsentrasi pada bidang linguistik, sudah semestinya kita terjun ke berbagai bidang. Kamu bisa masuk ke bidang komputasional linguistik dan mengembangkan program bahasa semacam Google Translate, bidang perencanaan bahasa untuk menentukan masa depan suatu bahasa, bidang neurolinguistik untuk membantu para dokter saraf dan pasiennya, bidang leksikografi untuk menyusun suatu kamus dengan baik (bikin kamus sekeren Oxford atau Collins Dictionary, tuuuh!), bidang forensik linguistik untuk membantu memecahkan kasus hukum dengan bukti-bukti kebahasaan, bidang geolinguistik--atau disebut juga dialektologi--untuk memetakan bahasa-bahasa di Indonesia (kita punya 706 bahasa!), bidang psikolinguistik untuk mengetahui fungsi otak manusia dalam pemerolehan bahasa kedua dan seterusnya.

Linguistics is so much more than you can imagine. Masih banyak bidang linguistik yang belum aku ceritakan, seperti historical linguistics, ecolinguistics, biolinguistics, sociolinguistics, stylistics, theoretical linguistics, clinical linguistics, translation, evolutionary linguistics, dan linguistic anthropology. Kau lihat, ilmu linguistik ini bersinggungan dengan ilmu-ilmu lain seperti psikologi, kedokteran, komputer, dan lain-lain. Ayo menyebar ke berbagai bidang agar semua bidang terlingkupi oleh ahlinya masing-masing. :)

Aku sendiri ingin terjun pada bidang pendokumentasian bahasa. Bahasa terus berubah seiring waktu. Ia dapat punah atau bertahan. Agar suatu bahasa tetap terdeteksi zaman, ia perlu didokumentasikan. Pekerjaan seorang pendokumentasi tentu tidak sederhana. Ia harus turun ke lapangan, berkomunikasi dengan warga setempat, dan membuat dokumentasi dalam bentuk teks, audio, dan video. Setelah itu, ia harus menyusun buku tata bahasa dan kamus dari bahasa tersebut kemudian memastikan hasil penelitiannya dapat diakses orang banyak. Selain itu, sebisa mungkin sang peneliti membantu masyarakat setempat untuk menghidupkan kembali bahasa daerah mereka dengan melakukan revitalisasi bahasa. Rempong sekali tampaknya, ya? Akan tetapi, tentu harus ada satu di antara banyaknya linguis yang menempatkan bidang ini sebagai karier hidupnya. Aku ingin menjadi satu di antara yang sedikit itu. ^^

Janganlah kamu berkecil hati tatkala orang-orang mempertanyakan jurusanmu saat ini, lulusan sastra mau jadi apa? Wah, mereka belum kenal linguistik dan sastra rupanya! Jadi apa, katanya? Banyak, Bung! Tak bisa aku jelaskan satu per satu. Apalagi postingan ini masih khusus membahas linguistik, belum membahas sastra yang terpecah lagi menjadi sastra modern dan sastra klasik. Pokoknya menjadi ahli sastra dan ahli bahasa, deh. ♡

Ada banyak bidang linguistik yang bisa kamu tekuni. Pilih satu yang kamu suka dan lakukanlah yang terbaik pada bidang itu. Semoga calon-calon sarjana humaniora konsentrasi linguistik ini berkenan menjadi linguis-linguis andal Indonesia.

Ayolah, Indonesia butuh penerus Harimurti Kridalaksana dan Anton Moeliono! Siapa tahu itu kamu. Aamiin ya Rabb. Mudahkanlah jalan kami meraih gelar sarjana agar dapat memasuki jenjang berikutnya, entah itu dunia kerja atau dunia perkuliahan selanjutnya.

Cheers,
Nadia Almira Sagitta

Comments

Popular posts from this blog

Autobiografi masuk di Universitas Indonesia

Di tengah asyiknya membicarakan jurusan saat kuliah nanti, “Nad, mau masuk apa pas kuliah?” “InsyaAllah, Sastra Indonesia UI.” “Kok sastra Indonesia, sih?” * * * Pertanyaan itu kerap kali terngiang di telinga tatkala aku menyebutkan jurusan idamanku. Mengapa? Apa ada yang salah? Tak pantaskah aku mengecap ilmu di jurusan yang bertitel sastra Indonesia? Pertanyaan yang begitu merasuk hati, mengganggu. Dalam hati, aku hanya bisa berharap semoga orang tuaku merestui jurusan ini. Namun alangkah sayangnya, ternyata keinginanku ditolak mentah-mentah, apalagi oleh ibuku. Beliau tidak meridai keinginanku berkuliah di jurusan sastra. “Kalau tetap bersikeras kuliah di situ, saya tidak mau membiayai,” MasyaAllah! Apa yang ada di pikiran beliau saat itu? Bagaimana pula aku bisa membiayai kuliah sendiri? Ayah mencoba memberi saran, “Coba Nadia cari jurusan lain. Kamu sudah berbalik arah ke IPS, kan? Jurusan banyak, kok, bukan cuma sastra Indonesia. Apa kamu takut tidak lulus ...

2015 - Skoliosis

Skoliosis. Masih ingatkah dengan pelajaran Penjaskes di SD dulu? Kifosis, lordosis, dan skoliosis. Beberapa bulan ini, aku mengeluh sakit punggung. Tak bisa telentang dan menghirup napas panjang. Sakit. Rasanya, tulang rusuk tertarik oleh tulang belakang tiap bernapas. Rasanya dada ditekan kuat-kuat kalau telentang. Belum lagi pegal-pegal tiap bangun tidur. Kemudian, datanglah temanku berkata bahwa tulang kananku menonjol dibanding yang kiri. Tanteku juga mengatakan hal yang sama.  Jadilah, 15 Januari 2015 lalu aku ke dokter ortopedi. Dokter Tejo namanya. Dia berperawakan tinggi dan tegak. Dia lebih tinggi dari saya. Hahahha. Pas banget deh jadi dokter spesialis tulang. Dari sana, aku menuju ruang radiologi. Kunjungan pertamaku ke sana, yeayyyy! (Terus bangga). Bertukar pakaian dengan baju rumah sakit, berdiri di depan kamera khusus, dan voila! Jadilah foto hitam putih bergambar tulang rusuk serta tulang punggungku. Foto x-ray kah itu? Entahlah. Dua foto hitam itu me...

Review Bedak Tabur La Tulipe vs Revlon

Kamis, 16 Juli 2015, kuputuskan untuk mengganti bedak tabur La Tulipe-ku. Bukannya kenapa, aku curiga jerawatku yang makin menjadi ini disebabkan oleh ketidakcocokan wajahku dengan bedak tersebut. Kulit wajahku adalah kulit berminyak— lets say, very oily ! Gegara ini, aku gampang jerawatan dan sekilas wajahku terlihat kusam tanpa bedak. Oleh karena itu, bedak merupakan barang wajib yang harus ada di tas. Sejak SMP hingga SMA, aku selalu menggunakan bedak padat Pigeon rekomendasi ibuku. Semenjak kuliah aku iseng mencoba-coba bedak baru, salah satunya bedak tabur. Berdasarkan informasi yang kudapat dari berbagai beauty blogger , jenis bedak yang cocok untuk kulit berminyak adalah bedak tabur atau loose powder. Alasannya, tekstur bedak tabur tidak menghambat pori-pori seperti bedak padat. Nah, aku baru beralih ke bedak tabur setahunan lebih ini. Aku pernah mencoba produk Pigeon, Wardah, Viva, La Tulipe, dan sekarang Revlon. Postingan kali ini membahas dua merk bedak tabur, yakni ...

Review Salon Flaurent Jogja

Heyyyy, guys! Kali ini, saya mau review salon Flaurent Jogja yang baru saja saya kunjungi tadi. Dua tahun lalu, saya juga sempat ke sini bareng ibu, nah kali ini bareng tante. Bisa dibilang, ini salon perempuan pertama yang saya datangi dan memprakarsai hobi baru saya di Depok, yakni nyalon. Wakakaka. Tanteku memberi saran untuk mengambil paket mini yang terdiri dari body spa, hair spa, dan facial . Tiga perawatan ini bisa kalian ambil dengan merogoh kocek Rp125.000,00. Gila. Ini-murah-banget! Salon langgananku aja bisa kena biaya sekitar Rp300.000,00.