Skip to main content

Aku kehilangan, tetapi jangan harapan!

Sudah lama kehilangan pegangan
Kehilangan manisnya ibadah
Kehilangan semuanya

Sejak bertemu kau saat itu, aku melupakan semua yang aku punya. Kukesampingkan izzah dan iffahku sendiri demi berlama-lama denganmu. Sampai hari ini kutahu, setelah disadarkan untuk kesekian kalinya, semua sia-sia. Kau tak pernah peduli sudah seberapa jatuh aku di hadapan Allah. Kau tak pernah peduli sudah seberapa tergores citraku sebagai seorang perempuan, yang katanya taat. Yang kau tahu, kau senang menghabiskan waktu denganku dan aku pun senang menghabiskan waktu denganmu. Sampai tiba masa kita kehilangan bahan cerita, kau pergi tanpa mau tahu perih dan lukaku.

Maka hilanglah cahaya dari dalam diriku. Kau cahaya semu yang penuh tipu. Aku terbingung-bengong sendiri menghadapi hari-hari. Kadang melamun, kadang menangis. Seolah kehilangan sandaran jiwa, padahal Tuhan sangatlah dekat di urat nadi.

Hal ini tidak bisa dibiarkan lama-lama. Jika ingin bangkit, haruslah dimulai dari diri sendiri. Hari ini aku kembali ke majelis ilmu. Bertemu kakak yang lama dirindukan. Kembali membaca huruf unik meliuk yang lama kutinggalkan. Katanya, jika kau mendekat satu langkah kepada Tuhanmu, maka Ia mendekat sepuluh langkah menujumu. Aku cuma mau aku yang dulu, walaupun aku tak yakin diriku yang dulu sudi mendekat dan melekat ke diriku yang kini. Akan tetapi, aku berharap, sejatinya kita tak boleh kehilangan harapan.

Aku boleh kehilangan semuanya, asal jangan kehilangan harapan. Harapan menjadi sosok yang jauh lebih baik lagi.

Bismillah.
Dan untuk kau, kalau kita memang jodoh, rindu yang bersarang dalam jiwa pasti akan menemukan titik temunya. Kerinduan ini dapat dilampiaskan pada sebuah pertemuan yang membahagiakan, yakni ketika pertama kali kau berdiri di sampingku sebagai kawan perjalanan kisah cinta. Sampai tua, sampai jadi debu, kalau kata Banda Neira.

Comments

Popular posts from this blog

Autobiografi masuk di Universitas Indonesia

Di tengah asyiknya membicarakan jurusan saat kuliah nanti, “Nad, mau masuk apa pas kuliah?” “InsyaAllah, Sastra Indonesia UI.” “Kok sastra Indonesia, sih?” * * * Pertanyaan itu kerap kali terngiang di telinga tatkala aku menyebutkan jurusan idamanku. Mengapa? Apa ada yang salah? Tak pantaskah aku mengecap ilmu di jurusan yang bertitel sastra Indonesia? Pertanyaan yang begitu merasuk hati, mengganggu. Dalam hati, aku hanya bisa berharap semoga orang tuaku merestui jurusan ini. Namun alangkah sayangnya, ternyata keinginanku ditolak mentah-mentah, apalagi oleh ibuku. Beliau tidak meridai keinginanku berkuliah di jurusan sastra. “Kalau tetap bersikeras kuliah di situ, saya tidak mau membiayai,” MasyaAllah! Apa yang ada di pikiran beliau saat itu? Bagaimana pula aku bisa membiayai kuliah sendiri? Ayah mencoba memberi saran, “Coba Nadia cari jurusan lain. Kamu sudah berbalik arah ke IPS, kan? Jurusan banyak, kok, bukan cuma sastra Indonesia. Apa kamu takut tidak lulus ...

2015 - Skoliosis

Skoliosis. Masih ingatkah dengan pelajaran Penjaskes di SD dulu? Kifosis, lordosis, dan skoliosis. Beberapa bulan ini, aku mengeluh sakit punggung. Tak bisa telentang dan menghirup napas panjang. Sakit. Rasanya, tulang rusuk tertarik oleh tulang belakang tiap bernapas. Rasanya dada ditekan kuat-kuat kalau telentang. Belum lagi pegal-pegal tiap bangun tidur. Kemudian, datanglah temanku berkata bahwa tulang kananku menonjol dibanding yang kiri. Tanteku juga mengatakan hal yang sama.  Jadilah, 15 Januari 2015 lalu aku ke dokter ortopedi. Dokter Tejo namanya. Dia berperawakan tinggi dan tegak. Dia lebih tinggi dari saya. Hahahha. Pas banget deh jadi dokter spesialis tulang. Dari sana, aku menuju ruang radiologi. Kunjungan pertamaku ke sana, yeayyyy! (Terus bangga). Bertukar pakaian dengan baju rumah sakit, berdiri di depan kamera khusus, dan voila! Jadilah foto hitam putih bergambar tulang rusuk serta tulang punggungku. Foto x-ray kah itu? Entahlah. Dua foto hitam itu me...

Review Bedak Tabur La Tulipe vs Revlon

Kamis, 16 Juli 2015, kuputuskan untuk mengganti bedak tabur La Tulipe-ku. Bukannya kenapa, aku curiga jerawatku yang makin menjadi ini disebabkan oleh ketidakcocokan wajahku dengan bedak tersebut. Kulit wajahku adalah kulit berminyak— lets say, very oily ! Gegara ini, aku gampang jerawatan dan sekilas wajahku terlihat kusam tanpa bedak. Oleh karena itu, bedak merupakan barang wajib yang harus ada di tas. Sejak SMP hingga SMA, aku selalu menggunakan bedak padat Pigeon rekomendasi ibuku. Semenjak kuliah aku iseng mencoba-coba bedak baru, salah satunya bedak tabur. Berdasarkan informasi yang kudapat dari berbagai beauty blogger , jenis bedak yang cocok untuk kulit berminyak adalah bedak tabur atau loose powder. Alasannya, tekstur bedak tabur tidak menghambat pori-pori seperti bedak padat. Nah, aku baru beralih ke bedak tabur setahunan lebih ini. Aku pernah mencoba produk Pigeon, Wardah, Viva, La Tulipe, dan sekarang Revlon. Postingan kali ini membahas dua merk bedak tabur, yakni ...

Review Salon Flaurent Jogja

Heyyyy, guys! Kali ini, saya mau review salon Flaurent Jogja yang baru saja saya kunjungi tadi. Dua tahun lalu, saya juga sempat ke sini bareng ibu, nah kali ini bareng tante. Bisa dibilang, ini salon perempuan pertama yang saya datangi dan memprakarsai hobi baru saya di Depok, yakni nyalon. Wakakaka. Tanteku memberi saran untuk mengambil paket mini yang terdiri dari body spa, hair spa, dan facial . Tiga perawatan ini bisa kalian ambil dengan merogoh kocek Rp125.000,00. Gila. Ini-murah-banget! Salon langgananku aja bisa kena biaya sekitar Rp300.000,00.