Skip to main content

Dari Skripsi Hingga SIBI

Sepulang dari les siang tadi, aku menuju perpus hendak meminjam buku. Liburan ini hampa rasanya jika tidak diisi dengan kegiatan yang bermanfaat, seperti membaca buku. Justru di saat senggang seperti inilah semestinya kita meraup banyak ilmu, yakni ilmu dunia, ilmu akhirat, ilmu rasa, dan ilmu kebatinan (?) Hahaha. Berhubung beberapa hari lalu aku selalu membaca karya sastra, sudah saatnya aku meluangkan waktu untuk hal yang lebih serius: SKRIPSI. Wakakaka. Sudah lama, nih, tak menyentuh buku linguistik. Aku meminjam buku tentang dialek, pemerolehan bahasa, fenomena bahasa, sikap bahasa, dan keberterimaan kata baku bahasa Indonesia. Aku masih tak yakin akan tema skripsiku maka kulahap saja semuanya. :p 

Setelah proses peminjaman kelar, aku ke lantai IV perpus UI. Yep, itu ruangan koleksi referensi. Aku mau nengok Kamus SIBI. Gegara Senin lalu aku ikut pelatihan Bisindo, aku jadi mau mendalami bahasa isyarat. Sayangnya, kamus Bisindo belum ada dan materi-materi online pun belum memadai maka jadilah aku beralih ke SIBI untuk sementara. Kamus SIBI bersampul hitam dan berukuran besar. Kamusnya juga tebal, walaupun tak setebal KBBI. Setelah membaca petunjuk penggunaan kamus, aku mulai menelusuri kata per kata. Hohoho, sebenarnya aku mau mengalihbahasakan sebuah lagu seperti yang dilakukan oleh Fitria Leurima di Youtube. Aku mau menyanyikan lagu "Kulakukan Semua Untukmu" karya Fathur dan Nadila. Tunggu unggahan videoku, ya! Aku sudah bisa menyanyikannya, tetapi belum lancar. Tempo lagunya lumayan cepat, sementara aku masih agak gagu. Nantilah kukabari lagi. Sekarang lagi coba cover lagu lain. Latihan terus, jangan menyerah! :)
Nah, buat kamu-kamu yang mau belajar SIBI, silakan meluncur ke i-chat.weebly.com! Ada kamus versi daringnya, lho. Jadi, kau tak perlu jauh-jauh ke perpus UI demi mencari tahu isyarat suatu kata. ♡

Selamat bermalam minggu, kamu. Selamat beribadah juga. Mumpung Ramadan, jangan sia-siakan kesempatan. Habis itu belajar. Jadikan malam minggumu bermanfaat. Hahaha.

Cheers,
Nadia Almira Sagitta

Comments

Popular posts from this blog

Dialog Zainuddin Hayati

"Saya akan berterus terang kepadamu. Saya akan jujur kepadamu. Akan saya panggil kembali namamu, sebagaimana dahulu pernah saya panggilkan. Zainuddin. Saya sudi menanggung segenap cobaan yang menimpa diriku asalkan kau sudi memaafkan segenap kesalahanku." "Maaf? Kau regas segenap pucuk pengharapanku, kau patahkan, kau minta maaf?" "Mengapa kau jawab aku sekejam itu, Zainuddin? Sudah hilangkah tentang kita dari hatimu? Janganlah kau jatuhkan hukuman. Kasihanilah perempuan yang ditimpa musibah berganti-ganti ini." "Iya, demikianlah perempuan. Ia hanya ingat kekejaman orang kepada dirinya walaupun kecil dan ia lupa kekejamannya sendiri pada orang lain padahal begitu besarnya. Lupakah kau siapakah di antara kita yang kejam? Bukankah kau yang telah berjanji ketika saya diusir oleh ninik-mamakmu karena saya asalnya tidak tentu, orang hina-dina, tidak tulen Minangkabau! Ketika itu kau antarkan saya ke simpang jalan, kau berjanji akan menunggu kedatanga...

Autobiografi masuk di Universitas Indonesia

Di tengah asyiknya membicarakan jurusan saat kuliah nanti, “Nad, mau masuk apa pas kuliah?” “InsyaAllah, Sastra Indonesia UI.” “Kok sastra Indonesia, sih?” * * * Pertanyaan itu kerap kali terngiang di telinga tatkala aku menyebutkan jurusan idamanku. Mengapa? Apa ada yang salah? Tak pantaskah aku mengecap ilmu di jurusan yang bertitel sastra Indonesia? Pertanyaan yang begitu merasuk hati, mengganggu. Dalam hati, aku hanya bisa berharap semoga orang tuaku merestui jurusan ini. Namun alangkah sayangnya, ternyata keinginanku ditolak mentah-mentah, apalagi oleh ibuku. Beliau tidak meridai keinginanku berkuliah di jurusan sastra. “Kalau tetap bersikeras kuliah di situ, saya tidak mau membiayai,” MasyaAllah! Apa yang ada di pikiran beliau saat itu? Bagaimana pula aku bisa membiayai kuliah sendiri? Ayah mencoba memberi saran, “Coba Nadia cari jurusan lain. Kamu sudah berbalik arah ke IPS, kan? Jurusan banyak, kok, bukan cuma sastra Indonesia. Apa kamu takut tidak lulus ...

Review Salon Flaurent Jogja

Heyyyy, guys! Kali ini, saya mau review salon Flaurent Jogja yang baru saja saya kunjungi tadi. Dua tahun lalu, saya juga sempat ke sini bareng ibu, nah kali ini bareng tante. Bisa dibilang, ini salon perempuan pertama yang saya datangi dan memprakarsai hobi baru saya di Depok, yakni nyalon. Wakakaka. Tanteku memberi saran untuk mengambil paket mini yang terdiri dari body spa, hair spa, dan facial . Tiga perawatan ini bisa kalian ambil dengan merogoh kocek Rp125.000,00. Gila. Ini-murah-banget! Salon langgananku aja bisa kena biaya sekitar Rp300.000,00.

Review Bedak Tabur La Tulipe vs Revlon

Kamis, 16 Juli 2015, kuputuskan untuk mengganti bedak tabur La Tulipe-ku. Bukannya kenapa, aku curiga jerawatku yang makin menjadi ini disebabkan oleh ketidakcocokan wajahku dengan bedak tersebut. Kulit wajahku adalah kulit berminyak— lets say, very oily ! Gegara ini, aku gampang jerawatan dan sekilas wajahku terlihat kusam tanpa bedak. Oleh karena itu, bedak merupakan barang wajib yang harus ada di tas. Sejak SMP hingga SMA, aku selalu menggunakan bedak padat Pigeon rekomendasi ibuku. Semenjak kuliah aku iseng mencoba-coba bedak baru, salah satunya bedak tabur. Berdasarkan informasi yang kudapat dari berbagai beauty blogger , jenis bedak yang cocok untuk kulit berminyak adalah bedak tabur atau loose powder. Alasannya, tekstur bedak tabur tidak menghambat pori-pori seperti bedak padat. Nah, aku baru beralih ke bedak tabur setahunan lebih ini. Aku pernah mencoba produk Pigeon, Wardah, Viva, La Tulipe, dan sekarang Revlon. Postingan kali ini membahas dua merk bedak tabur, yakni ...